12 Mei 1971, DKT Pernah Menjadi Jawatan Kesehatan TNI-AD (JANKESAD)

IMG_20260512_102754

Dato’ Akhmad Elvian*)


Pendirian rumah sakit untuk kepentingan militer oleh Pemerintah Hindia Belanda di Pulau Bangka, khususnya di Pangkalpinang, diketahui berdasarkan publikasi D. Schoute “De Geneeskunde in Nederlandsch-Indie in de 19e eeuw”, GTNI 75 (1935) 10, 827,

Rumah Sakit Garnisun Kelas 3 di Pangkal Pinang (Banka) (The garrison hospital 3rd class at Pangkal Pinang Banka)) disebutkan dalam publikasi Artikel tersebut mengacu pada survei semua fasilitas militer pada Tahun 1867. Pada tahun itu rumah sakit garnisun Pangkal Pinang memiliki rata-rata 29 pasien rawat inap. 

Rumah sakit garnisun merupakan bagian dari Military Medical Service, yang pada tahun 1867 (tahun survei semua fasilitas militer) mengelola total 79 fasilitas (3 rumah sakit militer besar, 35 rumah sakit garnisun dan 41 rumah sakit) dengan rata-rata 4.244 tempat tidur yang ditempati.

Sekitar 25 tahun kemudian, Lampiran D. Koloniaal Verslag 1890 melaporkan total 3.358 pasien rawat inap pada akhir tahun itu, sedangkan 52.631 pasien telah dirawat di seluruh Hindia Belanda. Laporan tersebut menyangkut 28 rumah sakit militer, 54 ziekenzalen (rumah sakit) dan 6 fasilitas khusus, termasuklah yang dirawat di Rumah sakit garnisun kelas 3 di Pangkal Pinang (Banka). 

Berdasarkan Koloniaal Verslag 1888 (39): pembangunan rumah sakit baru di Pangkal Pinang telah dimulai. Di Rumah Sakit Pangkal Pinang, 76 pasien dirawat pada tahun 1889. Situasi pada akhir tahun 1890: tidak ada pasien yang datang.
Gedung atau bangunan yang menjadi Rumah Sakit Garnisun kelas 3 di Pangkalpinang, dalam perkembangan sejarahnya, setelah kemerdekaan, pada tanggal 26 Oktober 1945 diambilalih menjadi Bagian dari Kesehatan TKR dengan nama Dinas Kesehatan Tentara atau sering disebut DKT.

Pada tanggal yang sama, diangkatlah Jenderal Mayor Dr. Suhardo Kerto Husodo sebagai Kepala Bagian Kesehatan TKR dan Tanggal 26 Oktober 1945 secara resmi dinyatakan sebagai “Hari Jadi Kesehatan TNI-AD” dengan Keputusan Men/Pangad, No. Kep/716/VI/1967 tanggal 17 juni 1967. Bagian Kesehatan TKR kemudian menjadi Dinas Kesehatan Tentara atau lazim disebut DKT.

See also  1 Mei 1900, Berdasarkan Koloniaal Verslag Tahun 1900-1901, Didatangkan 846 orang Pekerja Tambang Baru dari Cina.

Pada Awal tahun 1946  Badan Kesehatan Tingkat Pusat dinamakan Inspektorat Kesehatan Tentara  di tingkat daerah dinamakan Dinas Kesehatan Divisi. Sejak pemulihan kedaulatan RI sampai tahun 1954 sesuai perkembangan organisasi TNI-AD, maka dikenallah sebutan DKT-AD, sedang Dinas Kesehatan Divisi menjadi DKT Teritorium.

Tahun 1954 DKT-AD mengalami peningkatan dan penyempurnaan menjadi Direktorat Kesehatan AD. Pada tahun 1970 terjadi pemisahan organisasi kesehatan AD,  berdasarkan fungsi pembinaan
(a). Unsur pembinaan kecabangan Kesehatan AD dinamakan Pusat Kesehatan TNI-AD disingkat Puskesad sesuai Keputusan KASAD, Nomor: Kep/753/XII/1970 tanggal 26 Desember 1970.
(b). Unsur pembinaan kemampuan perawatan kesehatan dinamakan Jawatan Kesehatan TNI-AD disingkat Jankesad, dengan Keputusan Kasad, No. Kep/268/V/1971, tanggal 12 Mei 1971.

Berdasarkan Keputusan KASAD, No. kep/4/I/1979, tanggal 10 Januari 1979 Puskesad dan Jankesad kemudian dilebur menjadi Jawatan Kesehatan TNI-AD (Jankesad). Selanjutnya berdasarkan Keputusan KASAD, No. SKEP/5 Januari 1985, tanggal 20 Januari 1985 ditetapkan penggunaan Mono Corp CKM (Corp Kesehatan Militer) sebagai pengganti CDM, CDG, CDH dan CDK.

Dalam rangka reorganisasi, berdasarkan Keputusan KASAD, No.Kep/30/V1985, tanggal 27 Mei 1985, Jankesad diubah menjadi Ditkesad. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 39/TNI/2015, tanggal 4 Juni 2015 Ditkesad diubah menjadi Puskesad.

Bagi Masyarakat pulau Bangka rumah sakit tentara tetap disebut dengan Rumah Sakit DKT, bahkan simpang di depan Rumah Sakit DKT, walaupun oleh Pemerintah Kota diberi nama Simpang 7, tapi Masyarakat Bangka tetap menyebutnya dengan Simpang DKT, mudah mudahan simpang ini tertib tidak berubah namanya menjadi Simpang Siur.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

**) Sumber foto: Babelpos

Comments

comments