15 Oktober 1904, Artsen in Banka, Dalam Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie, Lembar ke-2, Tentang Penempatan 2 Dokter di Keresidenan Bangka

20261015_070917

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam Koran Belanda Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, lembar ke-2, tanggal 15 Oktober 1904 dengan tajuk Artsen in Banka maksudnya Dokter-dokter di Bangka dijelaskan bahwa di Keresidenan Bangka seperti biasa, apabila terjadi cuaca kurang menguntungkan, banyak penduduk Bangka yang terserang demam, sakit perut dan penyakit malaria. Banyak di antara para penderita penyakit itu yang berakhir dengan kematian.

Sebagai tindakan sementara, pada pertambangan Timah di Keresidenan Bangka dan pulau pulau yang melingkupinya diangkat tambahan Dua orang dokter orang Eropa yang kemudian ditempatkan satu orang di Distrik Blinyu dan satu orang dokter lagi ditempatkan di Distrik Pangkalpinang. Dokter yang ditempatkan di Keresidenan Bangka diberikan gaji cukup besar yaitu f 600 (gulden) per bulan dengan kewajiban melaksanakan tugas di Dinas Kesehatan sipil lokal dan melakukan pengawasan atas vaksinasi, yang ditugaskan oleh Direktur Pendidikan, Agama dan Industri (Departement van Onderwijs, Eredienst en Nijverheid).

Wabah penyakit seperti demam, sakit perut, penyakit malaria dan cacar, memang sering terjadi di Keresidenan Bangka sejak lama, terutama mewabah pada pekerja tambang Timah yang tinggal di bedeng bedeng sementara (rumah kepung) pada parit parit pertambangan Timah.

Di samping faktor cuaca, fasilitas tempat tinggal yang tidak memadai dan sanitasi yang buruk seperti kurangnya kebersihan lingkungan di lokasi tambang, kebersihan makanan dan minuman pekerja tambang yang tidak terjaga dengan baik.

Untuk mengatasi berbagai macam penyakit tersebut, sejak Tahun 1851 telah dilakukan berbagai upaya kesehatan, misalnya dalam Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1851, Bundel Bangka No. 42, dijelaskan bahwa telah dilakukan pengobatan dan vaksinasi dengan baik oleh seorang petugas vaksin pribumi yang sejauh ini ditempatkan di ibukota (Mentok).

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 8)

Dalam laporan Residen Bangka, Tanggal 10 Januari 1852 Nomor 131, dokter sipil diminta untuk menyebarkan cara kerja vaksinisasi ke daerah sekitarnya. Dengan kedatangan saya (residen) kemarin (inspeksi), diketahui bahan vaksin cacar itu sudah usang. Saya telah meminta bahan baru dari Palembang dan juga menyampaikan kepada perwira kesehatan di Toboali agar segera menarik vaksin usang. Dalam surat saya Tanggal 3 Mei 1851 Nomor 2465, kepada pemerintah diminta sejumlah besar dana karena jumlah yang tersedia f 280 terlalu sedikit, sehingga perlu dianggarkan setiap tahun, agar anggaran kesehatan untuk penduduk cukup memadai.

Berdasarkan Koloniaal Verslag 1888, untuk meningkatkan kesehatan penduduk telah dimulai pembangunan rumah sakit baru di Pangkalpinang. Di Rumah Sakit Pangkalpinang, 76 pasien dirawat pada tahun 1889. Situasi pada akhir tahun 1890: tidak ada pasien yang datang. Karena mewabahnya (epidemi) penyakit Beriberi di Pulau Bangka, maka pada Tahun 1895, rumah sakit dibangun di seluruh distrik pertambangan (kecuali Merawang) dan “Dokter Jawa”,

Orang Pribumi Indonesia yang mendapatkan Pendidikan Medis, ditugaskan untuk mengobati yang sakit lainnya, di luar penyakit Beriberi (Heidhues, 2008:67). Rumah sakit yang didirikan di seluruh Distrik Pertambangan Timah, ditujukan sebagai fasilitas kesehatan bagi pekerja-pekerja Tambang Timah. Rumah sakit-rumah sakit di distrik pertambangan kemudian berkembang menjadi cikal bakal rumah sakit yang dikelola oleh Perusahaan Tambang Timah Belanda BTW (Bankatinwinning) sejak 3 September 1913, termasuklah rumah sakit BTW yang ada di Kota Pangkalpinang.

Keberadaan Rumah Sakit dan penempatan dokter di Kota Pangkalpinang memang sangat dibutuhkan sebagai fasilitas kesehatan dan pelayanan kepada penduduk, apalagi sejak 3 September 1913, Kota Pangkalpinang ditetapkan menjadi Ibukota Keresidenan Bangka en Onderhoorigheden. 

Berdasarkan sensus penduduk (volkstelling 1930) yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda Tahun 1930 diketahui bahwa pada Distrik Pangkalpinang jumlah keseluruhan penduduk sebesar 51.950 jiwa dan merupakan populasi terbesar di Keresidenan Bangka dengan total jumlah penduduk 228.259 jiwa, atau meliputi 22,76 persen dari total populasi penduduk Keresidenan Bangka. Persentase penduduk Pribumi Bangka di Distrik Pangkalpinang merupakan mayoritas dengan 58,53%, disusul oleh penduduk Orang Cina Bangka sebesar 40,77%, sedangkan penduduk Orang Eropa hanya 0,54%, dan Orang Timur Asing sebesar 0,16%.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 9)

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments