16 Oktober 1818 Surat Komisaris Palembang Muntinghe Meminta Bantuan Militer Diterima Laksamana Wolterbeek
Jelajah Bangka 16 October 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Pada Tahun 1818, di Kesultanan Palembang Darussalam terjadi konflik kekuasaan antara Sultan Tua (Sultan Mahmud Badaruddin II) yang berwibawa dan didukung rakyat, dengan Sultan Muda (Sultan Ahmad Najamuddin II) yang telah diangkat oleh Inggris namun kurang disenangi dan dianggap lemah dalam mengurus pemerintahannya (wanbestuur).
Di tengah pergolakan ini, pemerintah kolonial Belanda mengutus Herman Warner Muntinghe sebagai Komisaris untuk menegakkan kedaulatan Belanda atas wilayah Kesultanan Palembang Darussalam termasuk Pulau Bangka.
Dengan politik adu domba dan menjaga serta menciptakan stabilitas, Muntinghe mengambil langkah berani dengan memulihkan dan mengembalikan posisi kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin II (Sultan Tua) ke atas takhta dan mendepak Sultan Muda Ahmad Najamuddin II, namun, Muntinghe sadar bahwa Sultan Tua Mahmud Badaruddin II adalah sosok yang berbahaya dan antikolonial.
Dalam suratnya kepada Constantijn Johan Wolterbeek Wakil Laksamana (vice-admiraal) yang sedang berada di Malaka pada 20 September 1818, Muntinghe menggunakan kiasan bahwa Sultan Tua adalah sekutu yang “harus dikendalikan dengan taji dan tali kekang” agar tetap tertib. Muntinghe dalam suratnya meminta tambahan pasukan sebanyak 25 hingga 50 prajurit untuk memperkuat garnisunnya di Palembang guna mengawasi sang Sultan.
Surat Permintaan Muntinghe diterima Wolterbeek tanggal 16 Oktober 1818 dan direspons cepat oleh Wolterbeek, yang kemudian mengirimkan kapal korvet perang Eclips membawa infanteri Eropa dan pasukan zeni pribumi menuju Kota Mentok. Wolterbeek bisa mengirimkan bantuan karena dua urusan militer besarnya sudah selesai dilaksanakan yaitu Kota Melaka sudah aman dan dikuasai kembali oleh Belanda, serta ekspedisi militer pimpinan Letnan Kolonel Stout ke Pontianak juga sudah selesai dan pasukannya telah kembali.
Wolterbeek merasa senang dan menugaskan pasukannya membantu Muntinghe dalam menyelesaikan konflik di Kesultanan Palembang. Pasukan yang dikirim bahkan lebih banyak dari yang diminta oleh Muntinghe, yaitu terdiri dari 50 tentara infanteri Eropa dan 25 pasukan pelopor/teknis (pionir) pribumi.
Pada tanggal 22 Oktober 1818 kapal korvet perang Eclips membawa pasukan bantuan menuju Kota Mentok. Wolterbeek berharap Muntinghe akan sangat senang menerima bantuan pasukan ini.
Selengkapnya dapat dipelajari pada Palembang En Banka in 1816-1820, door P. H. Van Der Kemp, Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1900 Halaman 446: “Echter had de commissaris, na ontvangst van De Groofs brieven, reeds op 20 september 1818 een schrijven aan Wolterbeek te Malakka gezonden (blz. 432), waarin hij kennis gaf van de nadering der Benkoelezen en bijgevolg om troepen verzocht. “Mijn verzoeken om militaire versterking, indien deze op Malakka gemist kan worden”, schreef hij, herinnerend aan de door hem eerder gevraagde 50 man (blz.427), “blijven dus nog van kracht, niettegenstaande de kleine versterking die kapitein Hartman uit Batavia heeft meegebracht (blz.441).” Deze brief bereikte de schout-bij-nacht op een gunstig moment, namelijk op 16 oktober, toen Malakka weer onder Nederlands gezag stond, de expeditie-Stout uit Pontianak was teruggekeerd, en Wolterbeek zelf zich bijgevolg gereedmaakte om naar Riouw te zeilen. Hij meende wel een gedeelte van zijn krijgsmacht voor Palembang te kunnen missen, nu Malakka rustig in ons bezit was gekomen. Hierop zond hij op 22 oktober het oorlogskorvet Eclips met 50 man Europese infanterie en 25 inlandse pioniers naar Muntok, “vertrouwende”, zo memoreert het elders besproken journaal, “dat die versterking, uw verzoek overtreffend, welkom zou zijn.”
Pada perkembangan selanjutnya tanggal 15 November 1818, Kapten Letnan Laut Schrooijestein diperintahkan untuk mengangkut Sultan Muda Sultan Ahmad Najamuddin II beserta keluarga dan pengikutnya berjumlah 63 jiwa menuju Batavia. Rombongan tahanan politik ini diangkut menggunakan kapal perang Eclips dan sebuah kapal brik Arab bernama Jadul Karim.
Rombongan berlayar meninggalkan Palembang pada 30 November 1818 dan sempat transit di pelabuhan Mentok, Pulau Bangka. Sementara itu di Batavia, Pemerintah Kolonial menyidangkan dan meresmikan seluruh kebijakan darurat Muntinghe di Palembang dalam rapat dewan pada 10 Januari 1819, atau beberapa bulan sebelum ketegangan di Palembang akhirnya meledak menjadi Perang Menteng yang dahsyat.
*Keterangan gambar:
Prajurit KNIL dan anak-anak di depan gerbang benteng Palembang pada masa Hindia Belanda Koleksi Tropenmuseum
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.