17 Oktober 1823, Residen De la Fontaine Melaporkan Sampel Timah Belitong Berkualitas Tinggi dan Menawarkan Konsesi Kepada Kapitan Cina Tjong Kaw

20261017_104844

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Penemuan cadangan Timah di Pulau Belitong pada Abad ke-19 melalui proses dan dinamika yang panjang serta rumit. Di balik kesuksesan besar perusahaan Timah Billiton Maatschappij setelah tahun 1851, terdapat lembaran sejarah yang dipenuhi oleh intrik, penjegalan, skeptisisme birokrasi, dan adu argumen antar-pejabat Hindia Belanda.

Konflik sudut pandang ini sempat membuat pulau Belitong secara tidak sengaja justru terselamatkan kekayaan buminya dari eksploitasi bangsa asing.

Sejak Residen Huybert Johan de Heere memulai penyelidikan ke pulau Belitong tanggal 15 September 1759 dan memperkirakan bahwa di Belitong terdapat Timah dan telah dilebur di sana sebagaimana pembenaran oleh Sultan Palembang, sampai kemudian pertambangan Timah di pulau Belitong dimulai lagi pada 25 Oktober 1821, ketika Pangeran Palembang Sjarif Mohammed mengambil alih pulau Belitong untuk Pemerintah Belanda.

Selanjutnya menyusul Kapten P. J. Motte (sering ditulis Kapten Motte) mendarat bersama 100 prajurit untuk memperkuat kedudukan dan penguasaan Belanda atas Pulau Belitong dari tangan Inggris. Menggunakan bahasa Prancis tentaranya yang terbata-bata, Kapten Motte menjadi orang pertama yang memetakan indikasi awal Timah di wilayah Blantoe dan Boeroeng-Mandi.

Selanjutnya pada tanggal 3 Agustus 1823, pemerintahan sipil resmi berjalan dengan datangnya Asisten Residen J. W. Bierschel, seorang birokrat lapangan yang handal. Bierschel membuktikan bahwa tanah Pulau Belitong sangat kaya akan bijih Timah berkualitas tinggi. Ia bahkan berhasil menguji urat bijih timah primer (adererts) di Tadjau (Gunung Tadjem) mempekerjakan 18 penambang Timah asal Pulau Bangka.

Dalam buku De Billiton Maatschappij Gedenkboek Billiton 1852-1927, ‘s-Gravenhage Martinus Nijhhoff 1927, pada halaman 99, bahwa pada tanggal 17 Oktober 1823 atasan Bierschel, yaitu Residen Bangka Alfred Desiré Gregoire de la Fontaine (sering ditulis De la Fontaine), menulis sebuah laporan resmi yang memperkuat temuan ini. Ia menyatakan bahwa pengumpulan informasi mengenai Timah di pulau Belitong menunjukkan hasil yang sangat menguntungkan.

See also  7 Agustus 1908, Gangguan Keamanan di Sungailiat, dan Pertemuan Anggota Organisasi Rahasia Sam Tiam Foei di Belinyu Dibubarkan serta Para Pelakunya Ditangkap

De la Fontaine bahkan membawa sejumlah bijih Timah dari pulau Belitong ke pulau Bangka untuk dilebur, dan hasilnya membuktikan bahwa Pulau Belitong tidak hanya kaya akan bijih Timah, akan tetapi Timah yang dihasilkan juga berkualitas tinggi. Ia bahkan langsung mencoba menawarkan konsesi kepada Kapitan Cina di Mentok, Tjong Kaw, dengan harga beli 6 Spanyol matten per pikul timah.

Meskipun buktinya nyata, kerja keras Bierschel dijegal dan doodgezwegen (dibungkam) dengan beberapa alasan seperti faktor ketidaktersediaan anggaran karena pada tahun 1826, Pemerintah Hindia Belanda memasuki periode penghematan, selanjutnya Komisaris Pemerintah J. J. van Sevenhoven menilai pencarian timah di Belitong terlalu spekulatif. Ia merekomendasikan agar urusan tambang diserahkan saja pada “waktu dan perkembangan industri”. Akibatnya Gubernur Jenderal Du Bus de Gisignies langsung menutup pemerintahan sipil Belitung pada tahun 1826. Pasukan keamanan dipangkas habis, menyisakan hanya 10 veteran cacat di bawah komando seorang kopral.

Setelah penarikan Bierschel, penerus Residen Bangka bernama J. A. Haase (tahun 1827) mencoba menyusun rancangan konsesi pertama untuk seorang pengusaha kaya, Kapitan Cina Jan Hong Kwie. Namun, Haase memiliki isi kepala yang sangat rumit dan birokratis. Ia menerapkan aturan rekrutmen pekerja dan jaminan utang yang sangat mencekik. Ironisnya, kerumitan regulasi Haase ini menjadi berkah tersembunyi. Pengusaha swasta keturunan Cina yang terkenal berani bertaruh modal pun akhirnya mundur teratur karena ketakutan. Akibatnya, kekayaan timah Belitung tetap terkunci di dalam tanah, aman dari eksploitasi dini pihak luar.


*Keterangan gambar: Kepala pertambangan bersama istrinya pada tahun 1860. Di latar belakang terdapat gudang Tanjungpandan yang memiliki loteng.
Sumber De Billiton Maatschappij Gedenkboek Billiton 1852-1927, ‘s-Gravenhage Martinus Nijhhoff 1927, hal. 145.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

See also  Pulau Nanas, Wisata Aman dan Bernilai Sejarah di Tengah Teluk Kelabat

Related Images:

Comments

comments