22 September 1819, Laporan situasi Bangkakota setelah pertempuran 17 September 1819

Perang Bangkakota

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Tanggal 17 September 1819 merupakan titik balik yang mencekam dalam pertempuran di Bangkakota antara pasukan militer Belanda yang sudah terlatih dalam Perang Palembang menghadapi pejuang Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin.

Siasat dan strategi diatur militer Belanda melalui perintah siasat tanggal 2 September 1819. Serangan Belanda dilakukan melalui darat dan laut sementara pejuang Bangka yang dipimpin Depati Bahrin bertahan di Benteng Tangguh di Bangkakota.

Setelah pertempuran sengit, karena kekurangan senjata dan amunisi pejuang Bangka harus membumi hanguskan benteng dan kemudian mempertahankan kampung Bangkakota jengkal demi jengkal dari serangan pasukan Belanda dan kemudian membumi hanguskan perkampungan. Pasukan Depati Bahrin kemudian menyingkir ke Kotawaringin dan Nyireh.

Kondisi Bangkakota yang dibumihanguskan oleh pejuang pejuang Bangka dapat dipelajari pada laporan Fabritius orang kepercayaan komandan Bakker yang ditugaskan memantau situasi dan melaporkan apa pun yang tersisa dari Banka-Kota pada tanggal 22 September 1819.

Selengkapnya laporan Fabritius dapat dibaca dalam buku Palembang En Banka In 1816-1820, P. H. Van Der Kemp:
“Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1900,
halaman 563, 564: …

“Setibanya di Banka-Kota, orang-orang kita tidak lagi melihat satu pun manusia, karena pasukan darat Laemlin telah mundur, dan benteng itu sendiri telah ditinggalkan oleh musuh serta sebagian dibakar.

‘Saya kemudian pergi,’ lapor Fabritius setelah kepulangannya, ‘bersama dengan pasukan bersenjata ke luar benteng, dan hal pertama yang saya jumpai adalah beberapa mayat penduduk pribumi yang gugur, serta mayat seorang Eropa yang dari seragamnya saya ketahui sebagai seorang sersan, dan di dekatnya saya menemukan kemeja linen bertanda H.S.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #118, Masjid Al Makmur, Lalangtunu Toboali.

Setelah itu, saya menuju ke kampung yang terletak di sebelah kanan benteng dan berada di tepi sungai yang sama, di sana saya melihat sejumlah penduduk pribumi gugur dan mayat seorang flankeur (prajurit sayap) Eropa yang hanya dapat dikenali dari seragamnya.

Lebih jauh lagi, seluruh kampung telah rata menjadi abu, begitu pula perahu-perahu yang berada di sana sebagian telah dibakar. Saya hanya menemukan beberapa surat/dokumen pasukan rakyat Bangka di sana, yang saya lampirkan bersama ini.

Saya memerintahkan untuk membakar kembali bagian-bagian yang belum sepenuhnya hangus, dengan menggunakan persediaan ter yang tersedia di kapal-kapal meriam.

Setelah itu, saya kembali bersama anak buah saya ke sekoci, mendayung ke hulu sungai sekitar setengah jam untuk melihat apakah masih ada sesuatu yang bisa ditemukan di sana, serta untuk mendapatkan kabar mengenai pasukan kita, yang dari peristiwa tersebut memberikan keyakinan bahwa mereka telah berada di sana.

Namun karena tidak melihat apa-apa dan matahari pun sudah terbenam, saya kembali ke kapal, dan bersama seluruh anak buah merobohkan tiang-tiang pancang yang didirikan. Banyak mayat yang tersumbat di antara tiang pancang tersebut tampak di depan mata kami saat tiang-tiang itu dirubuhkan.

Pembusukan sudah terjadi pada kumpulan mayat tersebut, baik di tiang pancang bendungan maupun di tepi daratan, membuat kami meyakini bahwa pasukan kita telah melaksanakan serangan tersebut dengan sukses sekitar 3 atau 4 hari yang lalu.”

Menerima laporan Fabritius di atas, Komandan Bakker langsung diliputi euforia. Pada tanggal 23 September, ia bergegas mengutus kapal Emma untuk menemui Wolterbeek demi menyampaikan “peristiwa penting” ini.

Dengan penuh percaya diri, Bakker melaporkan: “Kita dapat menyimpulkan dengan pasti bahwa para pemberontak telah disergap dan dihancurkan oleh pasukan kita, dan tujuannya dengan demikian telah tercapai.”

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 36, Masjid Jami' Almusa'adah, Batubetumpang.

Sebuah klaim kemenangan yang megah, di atas tanah Banka-Kota yang masih berbau darah dan asap. Akan tetapi pertempuran sesungguhnya belum berakhir karena Bahrin dan pengikutnya terus begerilya hingga Tahun 1828.


*Gambar ilustrasi: generate AI

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments