23 Agustus 1803, Tim Ekspedisi ke Pulau Bangka dipimpin J.B. Lombar Tiba di Mentok.

0_DThread_1787451817430_65240883858286

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC *)


Dengan menggunakan beberapa kapal perang dan dikawal beberapa kapal panjajab milik Sultan Palembang, pada tanggal 17 Agustus 1803 tim ekspedisi penyelidikan terhadap pulau Bangka kembali berlayar dari Palembang menuju Mentok pulau Bangka.

Perwira ahli untuk pemantauan di Bangka yang ditugakan khusus oleh Gubernur Jenderal di Batavia, Mayor La Hotte Bertin menaiki kapal perang eks VOC, Maria Rygersbergen. Pada Tanggal 19 Agustus ekspedisi memasuki perairan Mentok, Bangka.

Setelah melakukan koordinasi dengan komandan kapal, J.B. Lombar sebagai pimpinan komisi pemantau, termasuk tugas untuk melindungi tambang-tambang timah milik Sultan, Lombar langsung memerintahkan anak buahnya melakukan pengawasan dan berlayar menuju pelabuhan Mentok. Pada petang di hari yang sama, semua tim ekspedisi telah berhasil berlabuh di Mentok.

Di Mentok, tim menunggu kedatangan utusan Sultan selama tiga hari. Baru pada tanggal 23 Agustus mereka turun dari kapal. Disarankan untuk segera membangun loji yang dapat digunakan sebagai penginapan bagi tim ekspedisi dan Mayor La Hotte Bertin.

Keesokan harinya dipersiapkan perjalanan ekspedisi melalui darat. Mereka awalnya memasuki kampung Tanjong, dan langsung bertemu dengan pemimpinnya bernama Dato Tumenggung.

Berdasarkan pada laporan kepada Gubernur Jenderal di Batavia, disebutkan bahwa Mentok merupakan tempat yang paling strategis untuk bertemu dengan Sultan, sekaligus merupakan kesempatan emas untuk membujuk Sultan Palembang agar bersedia menyerahkan pulau Bangka kepada pemerintah kolonial.

Dari sini tim ekspedisi akan diantar ke pedalaman untuk menuju daerah pertambangan timah. Namun, kenyataan yang mereka temukan, bahwa jalan dari Mentok menuju ke penambangan timah di Jebus ternyata tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Kondisi jalannya sangat buruk dan tidak bisa dilewati sehingga tidak mungkin ditempuh menggunakan jalan darat.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #89, Masjid Jami' Al-Falah, Penyampak.

Kondisi jalan menuju ke penambangan timah di Jebus ternyata sama dengan ketika tim ekspedisi menuju ke Belo, yang letaknya kira-kira 2 jam perjalanan ke arah timur Mentok. Oleh penunjuk jalan dikatakan bahwa jalan yang ada merupakan jalan terbaik dan yang paling cepat menuju ke tempat penambangan.

Namun, kenyataannya sangat berbeda, karena tidak dapat ditempuh dengan jalan darat karena dipenuhi dengan karang yang tajam, sehingga orang harus melompat dari satu tempat ke tempat lainnya karena harus menghindari karang yang tajam.

Akibatnya anggota tim yang akan menuju ke tempat penambangan banyak yang sakit akibat dari terik matahari dan tajamnya karang-karang. Kondisi ini menyebabkan anggota tim lebih suka kembali ke Mentok dengan menaiki perahu untuk menghindari medan yang sangat sulit untuk ditembus.

Namun, di tengah pelayaran mereka menuju ke Mentok, perahu mereka diserang badai yang anginnya sangat kencang, sehingga tidak memungkin bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Mentok dengan menggunakan perahu. Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Mentok melalui jalan di sepanjang pantai.

Akan tetapi mereka beruntung, karena setelah berjalan kaki selama 45 menit, mereka menemukan jalan lain yang relatif lebih baik dari pada berjalan menyusuri pantai.

Tim ekspedisi mulai menyadari bahwa baik para utusan Sultan Palembang maupun penduduk Mentok memang sengaja menyesatkannya dan ekspedisi yang dipimpinnya untuk bisa sampai di wilayah tambang timah di Bangka.

Komandan J.B. Lombar melaporkan bahwa perjalanan dengan melalui laut akan jauh lebih aman dan lebih mudah untuk menuju ke tempat penambangan, karena di perairan Mentok dan sekitarnya perompak maupun orang-orang jahat di Mentok dan perairan sekitarnya tidak ada lagi yang mengganggu pelaksanaan ekspedisi itu.

See also  26 Mei 1869, J.H.L de Vrijer, Bertugas Sebagai Komandan Pertama Kapal Suar Pulau Lusipara atau Maspari.

Mayor La Hotte Bertin yang menyertainya sebagai seorang perwira ahli untuk melakukan pemantauan di Bangka yang juga ditugasi secara khusus oleh Gubernur Jenderal di Batavia mengakui perjalanan darat tidak bisa dilakukan lagi karena sulitnya medan.

Oleh karena itu, usulan yang disampaikan kepada Batavia bahwa untuk menaklukkan alam yang demikian berat, diperlukan kuda-kuda yang kuat, tenda lapangan, pedati, tenaga pengangkut, yang tidak dibawa sama sekali oleh para utusan Sultan Palembang.


(Disarikan dari buku Sejarah Bangka Belitung Jilid 2, yang ditulis Djoko Marihandono, Akhmad Elvian, Ian Sancin, diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, November 2019, pada halaman 177,178)

*Keterangan gambar: Op de rede van Muntok, (di jalan pelabuhan atau di tempat kapal berlabuh), Residentie Banka, TMnr 10007949, Koleksi Tropenmuseum

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments