26 Juli 1850, Belanda Mengkoordinasikan Kembali Pasukannya di Pulau Bangka.

Ilustrasi_20260726_130119_000

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pada tanggal 26 Juli 1850 Belanda mengkoordinasikan kembali pasukannya yang ada di pulau Bangka untuk menghadapi pemberontakan Amir. Barisan yang ada berkekuatan 93 orang, 31 orang dikirim dari Pangkalpinang, 31 dari Blinyu, 31 dari Sungailiat, seluruh barisan bersenjata dengan 36 senapan dari pemerintah dalam keadaan siap pakai, dan 10 senjata milik pribadi dalam berbagai kaliber. 15 barisan senantiasa bersiaga berada di Kota Waringin, untuk menjaga kampung itu, tetapi (dari mereka) pasukan Belanda tersebut telah banyak yang sakit, sangat sedikit yang sehat. Karena itu, penambahan jumlah pasukan yang didatangkan dari luar pulau Bangka sangat diperlukan.

Pada tanggal 4 Agustus 1850, Depati Amir beserta dengan sekitar 300 orang pengikutnya turun dari markas di gunung Maras untuk berunding dengan Lettu Dekker komandan militer Belanda di kampung Layang. Akan tetapi pertemuan dan perundingan tersebut menemui kegagalan serta tanpa hasil yang jelas karena pasukan Belanda yang dipimpin Lettu Dekker ingin menjadikan perundingan ini sebagai siasat dan upaya untuk menangkap Depati Amir. Pertemuan itu terjadi, dalam kapasitas Dekker sebagai wakil pemerintah.
Kelihatannya, Amir takut, dan nampak tidak percaya lagi dengan komisaris maupun pemerintah Hindia Belanda di Bangka. Hal ini dikarenakan mereka sudah dua kali melakukan upaya penyerangan dan penangkapan terhadap Amir.

Berdasarkan laporan Belanda tanggal 4 Agustus 1850, Nomor 350 dan laporan tanggal 9 Agustus 1850, Nomor 358, yang menyatakan, bahwa ketenangan di banyak distrik di Bangka Tahun 1850, menjadi kacau karena pemberontakan yang dilakukan Amir. Para penguasa pribumi dan rakyat tanpa kekuatan melakukan perlindungan diri, lalu bergabung dengan Amir atau setidaknya dengan kelompoknya Amir di distrik-distrik dimana pemberontakan berada.

See also  22 Juli 1916, Voor de algemeen zaak, Dalam Bataviaasch Nieuwsblad, tentang Pendirian Yayasan Untuk Memajukan Penduduk Afdeeling Sungeiliat.

Pada tanggal yang sama 4 Agustus 1850, Kapten Doorschoodt, Komandan Batalyon Infanteri 1, mengatakan, bahwa para pengikut pemberontak Amir berada antara kampung Layang dan Mabat telah diawasi ruang geraknya yang memiliki 70 orang bersenjata dan telah melakukan perampasan dan perampokan, saya perintahkan Letnan Dua Doorleben dengan detasemen yang berkekuatan 15 orang dan 30 barisan untuk melakukan pencarian.

Seminggu kemudian, pada tanggal 13 Agustus 1850, pasukan Belanda mulai membangun pos-pos pertahanan di wilayah Seka dan Mabat dan pasukan detasemen melakukan pendudukan di daerah Petaling dan Sed. Bahwa pos pos di Seka memang terpisah dari pos-pos yang lain, yang secara keseluruhan perlu diawasi. Saya sendiri maksudnya komandan militer akan melakukan pendudukan yang diperkuat oleh 1 Opsir dan 30 orang pasukan dari Petaling yang sekarang masih terpisah di Cingal (Cengal), yang nantinya segera begabung untuk melakukan pendudukan di pos itu. Mengenai wilayah Mabat, sepertinya wilayah itu perlu dilindungi.

Kegagalan militer dalam mengatasi pemberontakan Amir di Bangka hanya sedikit diberitakan. Dalam surat 27 Januari 1851 nomor 1, berita dari Departemen militer, dikabarkan tentang banyaknya tentara Belanda yang harus dipulangkan dari Bangka (Kompi ke-4 Batalyon I, Kompi Afrikaansche Flank-Kompagnie Batalyon ke 12, Pasukan dari kapal perang uap Onrust, Bromo dan Tjipanas). Tentara ekspedisi yang didatangkan dari pulau Jawa dan Palembang diminta segera dipulangkan dari Bangka ke Batavia sedikitnya menggunakan tiga kapal Api yaitu; kapal api Batavia, kapal api Onrust dan kapal api Tjipanas.

Selanjutnya diberitakan pada tanggal 13 Maret 1851, militer Belanda dari Kompeni ke- 4 Batalyon ke I Infanteri, mulai bulan ini (Maret) akan kembali ke Batavia. Diberitakan sedikit kabar bahwa, keadaan tentara yang sakit belum membaik, tetap demam, batuk, dimana komandan infanteri juga menderita sakit (Kemudian Mayor D.W Becking meninggal di Sungaiselan). Berita-berita tentang perang di Bangka menyita waktu yang cukup panjang, hampir berlangsung 4 tahun (dari Tahun 1848-1851 Masehi), bahkan berita tentang Amir masih berlanjut hingga kematian menjemputnya di pengasingan Koepang, pulau Timor pada tanggal 28 September 1869.

See also  23 Mei 1949, Surat Sukarno-Hatta dari Pangkalpinang untuk Sudirman di Tempat.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments