27 September 1820, Raden Kling diangkat oleh Sultan Palembang sebagai Penguasa di Pulau Bangka dan 10 Oktober 1820, gugur dalam pertempuaran di Pulau Tinggi

Pulau Tinggi

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Sultan Kesultanan Palembang Darussalam, Muhammad Bahauddin (masa pemerintahan Tahun 1776-1803) dalam mengamankan pangkal Toboali beserta perairannya di wilayah bagian Selatan pulau Bangka dari keganasan bajak laut (Belanda:zeerovers), mengirimkan beberapa orang kerabat dekatnya yaitu Raden Keling, Raden Ahmad, Raden Badar, Raden Ali, Raden Sa’bah dan Raden Machmoed.

Raden Keling kemudian menjadi kepala pemerintahan dan kepala rakyat di pangkal Toboali dan puteranya Raden Ali menjadi kepala rakyat di Pulau Lepar atas nama Pangeran Adiwijaya.

F. S. A. De Clercq dalam bukunya Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift), 1895 halaman 148-149 menjelaskan: “Het duurde evenwel niet lang, of de Lanoen’s kwamen in groot aantal terug om Bangka te bemachtigen. Zij verzamelden zich te Lepar en Billiton en overvielen van daaruit de mijnwerkers te Toboali en Koba, welken zij veel overlast veroorzaakten. De Soehoenan zond toen een Pangeran, met name Adi Widjaja , met vele prauwen naar de genoemde eilanden, om aldaar den arbeid in de mijnen te beschermen, en deze stelde tevens in al de mijndistricten Palembangsche mantri’s aan, behalve in het district Muntok, vanaf de rivier Kampa tot aan Tempilang”.

Setelah Belanda berkuasa kembali di Pulau Bangka dengan ditandatangani pengambilalihan Bangka dari Inggris tahun 1816, para mentri atau pangeran dari Kesultanan Palembang Darussalam terutama Raden Ali dan Raden Kling berupaya mempertahankan kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam terutama di wilayah Bangka Bagian Selatan beserta dengan pulau pulau kecil dan perairan yang melingkupinya.

Bersamaan dengan perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Bahrin berlangsung juga perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Raden Kling dan Raden Ali beserta Batin Pa Amien dan Batin Ganing.

See also  8 April 1848, Pemerintah Belanda Memutuskan Sewa Rumah Residen Bangka di Mentok.

Berdasarkan laporan A, Meis, Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821, halaman 148,149: “bahwa Radeen Kling berada bersama Radeen Ali di Kepulauan Lepar dan terus-menerus mengganggu pos-pos kita dari sana, semakin lama semakin terbukti kebenarannya. Oleh karena itu, sang Komandan (De Overste) Luitenant Kolonel Keer berangkat pada tanggal 25 September 1820 bersama 2 perahu meriam kayuh, 5 kapal penisi (peniche), dan 9 perahu milik Mayor Radja Akil (pangkat mayor diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda) menuju Kepulauan Lepar.

Tujuannya adalah untuk mencari Radeen Ali, yang merupakan pemimpin utama bajak laut di sana, menghancurkan perahu-perahunya, dan menimbulkan kerusakan sebesar mungkin padanya. (dalam kepustakaan Eropa terutama Belanda, para pejuang yang melawan pemerintah sering disebut dengan pemberontak, perampok dan bajak laut). Hal ini dilakukan agar mereka leluasa dalam membangun kembali Pos di Toeboeali dan selanjutnya dapat bertindak melawan kekuatan di Nyireh (kekuatan Batin Ganing).

Sebuah kapal sekuner, sebuah kapal brik, dan perahu meriam nomor 1 telah dikirim lebih awal untuk memblokade perairan di antara pulau-pulau tersebut dan mendukung pergerakan ini.

Setibanya di Koba pada tanggal 27 September 1820, sang Komandan (maksudnya Luitenant Kolonel Keer) mendapat konfirmasi lebih lanjut mengenai desas-desus yang telah didengarnya sebelumnya, yaitu, bahwa Radeen Kling telah diangkat oleh Sultan Palembang (Sultan Mahmud Badaruddin II, masa pemerintahan tahun 1803-1821) sebagai penguasa pulau Bangka, dan dengan demikian (jabatan penguasa Bangka) Radeen Kling berhasil mendapatkan pengikut yang besar.

Selain itu, diketahui pula di Koba, bahwa setelah kedatangannya dari Billiton (Belitung), tempat Ia tinggal selama beberapa waktu (setelah membunuh Inspektur Inggris Brown dan membantu perang rakyat Belitung yang dipimpin K A Hatam melawan Inggris), Radeen Kling telah mendirikan sebuah benteng di dekat Soengie Bantal (Sungai Bantel/Bantil) di area yang di kelilingi rawa, dan perkemahan Radeen Ali diperkirakan berada tidak jauh dari tempat tersebut.

See also  26 Juni 1959, Dibentuk Undang Undang No. 28 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat No. 4, No. 5, dan No. 6 Tahun 1956 menjadi Undang-undang.

Dalam pertempuran di bentengnya Pulau Tinggi, pada 10 Oktober 1820, tepat pukul 12 siang, Radeen Kling gugur bersama Radeen Machmoed, istri, anak-anak perempuan, serta menantu laki-laki dari Radeen Ali, dan beberapa tokoh terkemuka lainnya. Selain itu, ditemukan 3 pucuk meriam besi, 3 pucuk lela, 2 pucuk senapan sundut (donderbus) berat, dan berbagai senjata lainnya. Di pihak kita (pasukan Belanda), tercatat 5 orang tewas dan 10 orang terluka, termasuk di antara yang terluka adalah Kapten Van Der Wijck dan Letnan De Fruy.


*Keterangan gambar:
Panorama Pulau tinggi dari Selat Lepar. Raden Kling Gugur di Benteng Pulau Tinggi pada Tanggal 10 Oktober 1820, sumber foto Dato’ Akhmad Elvian

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments