28 Oktober 1850, Pos Militer Belanda Berkekuatan 15 Orang Telah Ditempatkan di Wilayah Njalau dan Penjamoen untuk Membatasi Ruang Gerak Pasukan Depati Amir

Peta Depati

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam berbagai sumber sejarah terutama dari Arsip Nasional Republik Indonesia diketahui tentang jumlah pasukan militer Belanda dalam mengatasi perlawanan Depati Amir, misalnya dari laporan komandan militer Belanda Mayor DW. Becking tentang komposisi dan jumlah pasukan yang berada di markas militernya di Bakem yaitu sebagai berikut: Markas Besar dipimpin oleh dirinya sendiri yaitu Mayor Becking, dengan ajudan di Bakem, Letnan Satu Harrevelt, Petugas Medis Wildeman, dibantu Kepala Jaksa Aripien. Selanjutnya Garnisun terdiri atas 5 Perwira di antaranya Kapten Doorschodt, Letnan Satu van Kluyven, Letnan Dua Doerleben dengan 70 bintara dan prajurit.

Pada beberapa pos pos militer yaitu: di Poeding, yaitu 1 perwira Letnan Dua de Petit) dengan 25 bintara dan prajurit; di Nibong. 1 bintara dan 25 prajurit; Mabet, 1 bintara dan 22 prajurit; Wilayah Layang yang berhubungan dengan Teluk Kelabat dan jalur keluar pulau Bangka dengan pasukan 2 perwira yaitu Letnan Satu Dekker, Letnan Dua Veenhuyzen dengan 60 prajurit; selanjutnya untuk wilayah Tiangtara ditugaskan 1 perwira yaitu Van der Schriek, dengan 25 orang prajurit; untuk wilayah Ampang (sekarang Kelapa) tempat pos militer strategis yang kemudian diserang oleh pasukan Hamzah atau Tjing di bawah 2 perwira yaitu Kapitein Buys, dan Letnan Dua Schepens dengan 56 prajurit; kemudian untuk wilayah Trentang dengan 1 bintara dan 16 prajurit; wilayah Loemoet dibawah 1 bintara dengan 13 prajurit; Dingding-Papan terdiri atas 1 bintara dan 12 prajurit; Petaling dengan 1 perwira Van Kluyven dengan 12 Prajurit; selanjutnya daerah Tadjabla (maksudnya Tadjaubelah) dengan 1 bintara dan 15 Prajurit; Sed dengan 1 bintara dan 12 prajurit; selanjutnya di wilayah Moendar dengan kekuatan 1 bintara dan 11 prajurit.

See also  Kampung-kampung yang mengarah ke Sungaiselan.

Selanjutnya melalui W. A. Van Rees, dalam buku Wachia, Taykong En Amir, of Het Nederlandsch-Indisch Leger in 1850, Rotterdam, H. Nijgh. 1859, halaman 214-215 diketahui bahwa pasukan bantuan ketiga dari Jawa yang tiba di Mentok tanggal 7 Mei 1850 terdiri dari Kompi ke-2 dari Batalyon Infanteri ke-12 di bawah komando Kapten van Blommenstein telah ditempatkan untuk menjaga tambang-tambang sebagai berikut: Kapten komandan van Blommenstein bersama sebagian kompi berada di tambang-tambang Tjingal; Letnan 1 Nauman bersama bagian lainnya di tambang Njing-hing dan Sambong (Distrik Pankalpinang); Letnan 2 van Odijk bersama satu detasemen di Jan-hin (Blinjoe); Letnan 2 Westerman bersama bagian lainnya, bergabung dengan garnisun Soengy-Slan (Sungaiselan), ditempatkan di Pakanan, Nihin, dan Sarang-mandie. Kemudian pada Tanggal 28 Oktober 1850, pos-pos yang masing-masing berkekuatan 15 orang telah ditempatkan di wilayah Njalau dan Penjamoen.

Berdasarkan operasi-operasi militer yang dilakukan pasukan Belanda selama bulan Desember 1850, berhasil membubarkan secara perlahan kelompok-kelompok pemberontak. Enam puluh atau tujuh puluh pemberontak, termasuk 3 atau 4 orang yang selama ini selalu menyertai Amir, datang untuk menyerahkan diri secara sukarela.

Sementara itu berkat bantuan mata-mata orang pribumi yang direkrut Belanda bernama Angar dan Sawal pada tanggal 10 Desember 1850 berhasil membocorkan tempat persembunyian Depati Amir pada malam tanggal 27 ke 28 Desember 1850.

Mereka melaporkan diri ke Bakem dan dalam laporannya bahwa mereka telah mengembara bersama Depati Amir selama Tiga hari di wilayah Djerok. Ketika mereka meninggalkannya, Amir berada di antara Titi-Poea dan Titi-Medang, sekitar tiga paal dari jalan raya.

Diketahui juga melalui laporan tersebut Depati Amir dalam kondisi sakit-sakitan, sehingga kemungkinan besar Ia tidak akan meninggalkan tempat persembunyiannya dalam beberapa hari pertama, atau setidaknya tidak akan pergi jauh.

See also  Catatan Perjalanan Teijsmann Di Pulau Bangka (Bagian 18)

Pada tanggal 27 November 1850, militer Belanda melakukan penyergapan dipimpin oleh Lettu Dekker terhadap Amir di daerah Cempurak dan pada bulan Desember 1850 Depati Amir beserta pengikutnya berhasil meloloskan diri dari hutan Titi Puwa dan Titi Medang.

Dalam kondisi kurus, lemah, sakit dan penghianatan, pengepungan dan berbagai penyergapan oleh pasukan Belanda pada tanggal 7 Januari 1851, Depati Amir berhasil ditangkap ketika berupaya meloloskan diri ke distrik Sungaiselan (Elvian, 2018: 102-103).


*Keterangan gambar:
Wilayah Njalau dan Penjamoen (Lingkaran Putih) diolah dari Buku Depati Amir Perjuangan dan Pengabdian Lintas Pulau, Akhmad Elvian dan M. Dien Madjid, Tahun 2018 halaman 145.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments