Oleh : Meilanto
Perjalanan Buddingh dari Pangkalpinang dilanjutkan ke Sungaiselan. Sungaiselan berada di barat daya Pangkalpinang, ia berjalan sejauh 26 pal atau 9 jam.
Simak tulisannya dalam bukunya, NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867 halaman 65.
Zuidwestelijk van Pankal-pinang voert een weg naar Soengi-slan of Pankal-slan, hoofdplaats van het (in 1854 door den heer VAN HOOGENSTRATEN geadministreerd) tin-mijn-distrikt van dien naam, en digt bij de westkust van Banka aan de Soengi of rivier Slan gelegen. Deze weg is 26 palen of 9 uren lang, en loopt langs de kampongs Klassa, Din-ding-papan, Masoena, Nihin of Batjang, Treblan, Serai en Melabon, en langs de parit’s of mijnen Doendang en Trantang. Vroeger was de, door een Redoute beschermde, pankal van dit boschrijk distrikt gevestigd te Banka-kotta aan de rivier van dezen naam en bij het Parmassang-gebergte aan de zuidwest-kust, doch is in 1837 of 1838 naar de rivier Soengi-slan, welke zich bij de Nanka-eilanden in Straat-Banka ontlast, verlegd geworden. Eenige mijlen ten noord-westen er van vloeit de rivier Soengi-Mundo, en tusschen deze en de rivier Kotta-Wringien werd in 1740 een tin-mijn ontgonnen, welke in 1820 verlaten werd. Bij laatstgemelde rivier liggen in Straat-Banka de 2 Mundo-eilanden, en cenige mijlen meer noordwaarts het eiland Samoebong voor de monding eener rivier, welke langs den berg Panding vloeit, en tevens langs Tampillang passeert, alwaar in 1710 almede voor het eerst tin-erts gevonden en een établissement werden opgerigt.

Maksudnya: Di sebelah barat daya Pangkalpinang, terdapat jalan yang menuju ke Sungai Selan atau Pangkal Selan, ibu kota distrik pertambangan timah yang bernama sama (yang pada tahun 1854 dikelola oleh Tuan VAN HOOGENSTRATEN), serta terletak di dekat pesisir barat Pulau Bangka, di tepi Sungai Selan. Jalan ini memiliki panjang 26 pal atau sekitar 9 jam perjalanan, melintasi perkampungan Kelasa (Terak saat ini), Dinding Papan (Pasirgaram), Masuna, Nihin atau Batjang, Treblan, Serai, dan Melabon, serta melewati saluran pengairan atau tambang Doendang dan Trantang.
Dulu, pusat pengumpulan hasil tambang di distrik yang kaya akan hutan ini—yang dilindungi oleh sebuah benteng pertahanan—berlokasi di Bangka Kota, di tepi sungai yang bernama sama, serta berdekatan dengan Pegunungan Parmassang (Permisang) di pesisir barat daya. Namun pada tahun 1837 atau 1838, pusat tersebut dipindahkan ke Sungai Selan, yang bermuara di Selat Bangka dekat Kepulauan Nanka.
Beberapa mil ke arah barat laut dari sana mengalir Sungai Mundo; di antara sungai ini dan Sungai Kota Wringin, sebuah tambang timah dibuka pada tahun 1740 namun kemudian ditinggalkan pada tahun 1820. Di dekat sungai yang disebutkan terakhir, di perairan Selat Bangka, terdapat pulau bernama Pulau Mundo. Sedangkan beberapa mil lebih ke utara, di depan muara sebuah sungai yang mengalir di sepanjang Gunung Panding dan juga melewati daerah Tampilang, terletak Pulau Samubong. Di daerah Tampilang inilah pada tahun 1710 untuk pertama kalinya ditemukan bijih timah dan didirikan sebuah pos pemukiman/operasi pertambangan.
Dari tulisan di atas, kampung-kampung yang dilewati Buddingh berbeda dengan penamaan kampung saat ini. Kelasa (Terak saat ini), Dinding Papan (Pasirgaram), Masuna, Nihin atau Batjang, Treblan, Serai, dan Melabon. Kampung-kampung hanya Melabon yang masih digunakan.

_____________________________________
- Gambar sampul: Ikan Arwana (Kelasak)