29 Oktober 1854, Dimulainya Perjalanan Dr. S.A. Buddingh dari Pangkalpinang Menuju Kota Mentok Menempuh 89 paal (130 km) Dengan Berjalan Kaki 30 jam

Jalan Buddingh

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam catatan Dr. S.A. Buddingh: Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …., Banka, …; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, dapat dipelajari bagaimana kondisi pulau Bangka atau Keresidenan Bangka dan pulau pulau yang melingkupinya selama bulan Oktober 1854.

Empat tahun setelah berkecamuknya Perang Bangka yang dipimpin Depati Amir dapat diketahui kondisi pulau Bangka yang belum terhubung oleh aspal melainkan jalan tanah. Sebuah masa setelah perang besar ketika perkampungan di pulau Bangka baru dibentuk dari kebijakan Kolonial Belanda yang memaksa penduduk membangun rumah (kampung) di tepi jalan dan wilayah pedalaman pulau Bangka masih berupa hutan belantara, dihuni oleh berbagai satwa termasuk kawanan burung.

Perjalanan antar Sembilan distrik di keresidenan Bangka harus ditempuh dengan berjalan kaki selama puluhan jam bahkan berhari hari. Belum lagi kondisi cuaca yang buruk dengan hujan sepanjang hari, terik Matahari yang menyengat, ditambah lagi kondisi kesehatan penduduk yang buruk dan dibayang bayangi ketakutan terjangkit oleh epidemi berbagai wabah penyakit seperti Cacar dan Demam Bangka. Kondisi alam yang berat tanpa didukung oleh sarana angkutan yang memadai kecuali hanya menggunakan tenaga manusia menggunakan pikulan.

Dalam bukunya di atas yang saya terjemahkan secara bebas dikisahkan pada halaman, 69 dan 70, salah satu kisah perjalanan Dr. S.A. Buddingh (seorang pendeta) yang menarik untuk dibaca dan dipahami, yaitu kisah perjalanan selama 30 jam dari Distrik Pangkalpinang menuju Kota Mentok Ibukota keresidenan Bangka pada tanggal 29 Oktober 1854. Tepat pukul 05.30 pagi yang cerah namun dengan terik Matahari yang membakar, petualangan jalan darat dimulai dari Pangkalpinang. Jalur terpendek menuju Kota Mentok membentang sejauh 89 paal (sekitar 130 kilometer), satu rute perjalanan dengan jarak fantastis yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 jam.

See also  30 Mei 1930, Laporan Asisten residen Belitung J.M.H.L. de Wilde, tentang Kondisi Depresi Ekonomi.

Dalam catatannya, Dr. S.A. Buddingh merekam keindahan pulau Bangka yang masih asli: “Sampai di kampung Katje (Kace), jalanan yang lebar dan rata dinaungi oleh pepohonan tinggi di kedua sisinya. Sesekali terdengar suara burung gelatik batu, kakatua, atau nuri. Kawanan besar burung Betet terbang dengan kicauannya di atas semak kejauhan, sementara beo menirukan suara binatang lain, dan burung Pergem mengeluarkan suara dengkurannya yang berat…”.

Perjalanan melelahkan itu melintasi rangkaian kampung tua; Seleman, Petaling, Loko (Lukok), Kemudja, hingga Sid (Zed). Sepanjang perjalanan Buddhing disuguhi pemandangan menakjubkan puncak Gunung Maras yang menjulang setinggi 2.617 kaki tampak dari kejauhan, di balik hamparan bukit yang dipenuhi ilalang dan sungai-sungai kecil.

Memasuki Distrik Baturusak, tepatnya di Kampung Puding, Dr. S.A. Buddingh disambut oleh penguasa lokal, seorang Batin atau Krio dan Gegading (Kepala kampung yang disebutnya Mandor). Di tengah kelelahan, Ia disuguhi secangkir minuman hangat Madu Lebah alami. Penerimaan sederhana di kampung Puding begitu membekas baginya. Ia menuliskan sebuah pujian tulus bagi masyarakat setempat: “Sebuah keramahan yang mencerminkan watak rakyat Bangka yang selalu murah hati dan ramah.” Watak mulia yang tampaknya tidak pernah luntur hingga hari ini.

Perjalan Buddingh bukan perjalanan biasa bahkan adalah satu perjalanan menapak tilas kisah Sejarah perjuangan Depati Bahrin. Ketika kakinya telah melintasi kawasan Kampung Njalouw dan Katjong, perasaan hatinya berubah menjadi mencekam. Di sinilah Ia tersadar telah melewati tanah penting saksi bisu sejarah sebuah tragedi berdarah yang terjadi 35 tahun sebelumnya, tepatnya pada 14 November 1819, di tempat terpencil ini, Residen Belanda untuk Bangka yang perkasa, Tuan Smissaert, sedang dalam perjalanan pulang menuju Mentok.

See also  Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 9)

Malang baginya, pasukannya disergap dalam sebuah serangan kilat yang mematikan. Pimpinan penyerbuan itu adalah tokoh legendaris yang sangat ditakuti Kolonial Belanda, Depati Bahrin (ayah dari pahlawan nasional Depati Amir). Residen Smissaert tewas di tempat, meninggalkan trauma mendalam bagi pemerintah kolonial Belanda dan menjadi simbol bahwa bumi pulau Bangka tidak akan pernah tunduk begitu saja pada kekuatan asing.

Selepas mengenang tragedi berdarah, jalan setapak yang telah melintasi beberapa Aik (anak sungai) itu mulai membelok tajam ke arah kiri, mengarah dari barat laut menuju barat, terus membentang menembus belantara pulau Bangka menuju Kota Mentok.

Catatan perjalanan Buddingh di bulan Oktober tahun 1854 tidak hanya sekadar laporan harian atau memori perjalanan. Perjalanan ini adalah lintasan dimensi ruang, dimensi waktu dan dimensi peristiwa sejarah yang memperlihatkan kepada kita tentang eksotisme alam pulau Bangka masa lalu, ketangguhan para pejuangnya, serta kehangatan budaya masyarakatnya yang tetap abadi melintasi zaman (wallahualam).


*Gambar ilustasi perjalanan Buddingh dari Pangkalpinang menuju Mentok pada tahun 1854. (AI)

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments