30 Mei 1930, Laporan Asisten residen Belitung J.M.H.L. de Wilde, tentang Kondisi Depresi Ekonomi.

IMG-20260530-WA0004 (1)

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Depresi ekonomi terburuk pada masa Hindia Belanda terjadi pada dekade tahun 1930-an, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Zaman Malaise (orang tua tua sering menyebutnya dengan zaman meliset).

Krisis Ekonomi Dunia terjadi, dipicu oleh Depresi Besar (Great Depression) yang dimulai sejak Wall Street Crash pada akhir tahun 1929 (Krisis Wall Street tahun 1929 adalah krisis pasar saham paling dahsyat dalam sejarah Amerika Serikat dan menandai awal mula Depresi Besar).

Krisis berdampak di seluruh dunia serta dampak krisis di wilayah Hindia Belanda berlangsung sekitar tahun 1930 hingga 1937. Depresi Ekonomi (Malaise) pada dekade 1930-an terjadi juga di Kepulauan Bangka Belitung, melalui anjloknya harga Timah dan Lada atau Sahang di pasar internasional.

Sebagai pusat pertambangan Timah dan penghasil Lada Hindia Belanda, runtuhnya industri Timah dan turunnya harga Lada memicu lonjakan pengangguran massal, kemiskinan, penurunan drastis demografi buruh migran Tionghoa, serta ancaman kelaparan akibat ketergantungan wilayah Kepulauan Bangka Belitung pada pasokan beras dari luar daerah.

Kepulauan Bangka dan Belitung bukanlah produsen pangan swasembada. Dengan merosotnya daya beli akibat krisis, masyarakat setempat dan buruh kesulitan membeli beras, situasi ini memicu kerawanan pangan.

Dalam laporannya Asisten Residen Belitung J.M.H.L. de Wilde, dalam memorie van overgave melaporkan tentang Kondisi Depresi Ekonomi pada ARA-MvK,MMK 259 fische 1-M.v.O, J.M.H.L. de Wilde, (tanggal 30 Mei-27 Juni 1932) antara lain: “Orang Belitung menjadi rajin bekerja, dulu upah harian sebesar f 1 (gulden) tidak ada yang mau melakukan pekerjaan, sekarang dengan upah 50 sen saja sebagai buruh harian malah diambil”.

Selanjutnya Erwiza Erman dalam bukunya Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung, 2009;115 menyatakan: “Kondisi serupa juga berlaku di Bangka. Didesak oleh kebutuhan uang tunai, orang orang Melayu Bangka yang enggan menjadi buruh upah, justru menerima pekerjaan pekerjaan tersebut meskipun dengan upah yang rendah sebelum depresi 1,50 gulden turun menjadi 0,75 sen.

Selanjutnya Residen Bangka D.G. Hooyer dalam MvK-ARA, MvO, Nomor 971: D.G Hooyer, 31 May 1931, Microfische nomor 971, melaporkan dalam Memorie van Overgave: Tindakan tindakan kekerasan dan kriminal di kalangan orang orang tionghoa meningkat selama masa depresi. Sebagai contoh di Pangkalpinang dilaporkan sejumlah uang dan barang barang milik Kepala sekolah Hollands Chinese School dicuri, begitu juga di Sungailiat dan Baturusa terjadi juga aksi kekerasan dan kriminal terhadap orang Tionghoa.

See also  Cerita Dari Pulau Nangka

Pada pertengahan pertama Tahun 1931 aksi aksi kekerasan sudah mencapai 1.402 dan belum dibawa ke pengadilan di Sungailiat.
Sementara itu pada Tahun 1930 harga Lada juga jatuh atau turun sampai sekitar 70 gulden perpikul, turun secara drastis dibandingkan dengan harga Lada Tahun1929 sebesar 142 gulden per pikul.

Turunnya harga Lada menyebabkan dampak buruk kepada pekebun Lada baik orang melayu maupun orang Tionghoa Bangka (Huitema, 1933:5,33). Harga lada memang sifatnya fluktuatif dan spekulatif walaupun di Bangka ada istilah “Peperduur” yang berarti Semahal Lada.


*Keterangan gambar: Panen Lada di Bangka saat Zaman Melaise Tahun 1930

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments