3 Agustus 1850, Depati Amir Menjawab Keinginan Inspektur Sumber Keuangan dan Kekayaan Negara, H.J. Saverijn Haesebroek, Untuk Berdamai.
Admin 3 August 2026
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Karena sulitnya mengatasi perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir dikabarkan, bahwa Pemerintah Hindia Belanda melalui Inspektur Sumber Keuangan dan Kekayaan Negara, H.J. Saverijn Haesebroek, berkeinginan untuk berdamai dengan Depati Amir.
Keinginannya itu kemudian baru mendapat jawaban dari Depati Amir, pada tanggal 3 Agustus 1850, akan tetapi pertemuan tersebut gagal dilaksanakan walaupun pertemuan tersebut telah dimediasi dengan baik oleh Mayor Cina Mentok yang juga berperan sebagai penjamin atau mediator dalam perundingan dan Depati Amir awalnya sudah dua kali berkirim surat kepada Kapiten Mayor Cina di Mentok untuk membantu membebaskan keluarganya yang ditahan Belanda.
Mayor Tionghoa di Mentok tersebut adalah Tan Kong Tian, yang kemudian menerima sebuah penghargaan perak dari pemerintah atas usahanya mencoba menghentikan pemberontakan Depati Amir melalui perundingan (Heidhues, 2008:96).
Berdasarkan surat dari Inspektur pajak yang ditugaskan di pulau Bangka Tanggal 8-8-1850 no. La J, Geheim (ANRI: Bt.Geheim 17-9-1850 no.1), kelanjutan dari laporan Saya Tanggal 6-8-1850 no. La R (rahasia), dengan ini saya beritahukan kepada anda, bahwa perjalanan saya ke Layang (kampung Layang) bermanfaat adanya, nampaknya Amir ingin datang kepada saya, apabila saya sebelumnya menyerahkan keluarganya (Ibunya Dakim, Putera angkatnya Baidin dan saudaranya Ipa).
Mungkin perlu membujuk Amir untuk muncul (datang) ke saya dan kepada pengikutnya saya beri kepastian dan keyakinan serta tak perlu khawatir Amir akan dilarikan (ditangkap), kecuali itu saya akan hadir pada pertemuan itu tanpa senjata dan tak ada serdadu yang hadir, Mayor Cina beri bantuan Amir yang tawarkan sebagai sandera (jaminan), berada pada jarak yang jauh, juga pada pengikut-pengikutnya, sampai Amir kembali tak terluka (selamat), tak menyusahkan, tapi semua itu sia-sia, Amir menolak, hingga dua kali Mayor Cina bertemu, juga ia mengirim kembali kepada saya pemberitahuan, ia tak akan muncul sebelum ia mendapat kembali keluarganya.

Ia (Amir) lebih suka kepalanya dipenggal daripada harus pergi ke komplek militer, karena takut nasibnya akan menderita seperti yang dulu dialami di Pangkalpinang (penangkapan yang gagal dilakukan oleh pasukan militer Belanda dipimpin oleh Letnan Campbell, Administratur Distrik Pangkalpinang De Bley dibantu oleh Hoofd Jaksa Abang Arifin pada Tanggal 17 Desember 1948).
Demikianlah saya yakin Amir tak berniat lagi menuntut untuk bertemu dengan saya, bahwa musim hujan hampir tiba, anda yang terhormat untuk segera memutuskan hendak mengakhiri masalah ini secepatnya, untuk menyelesaikan masalah ini ke kampung Layang dengan menggunakan perahu akan sampai setelah melakukan perjalanan 14 jam pada tanah yang berpaya.
Selanjutnya berdasarkan; Surat dari Sekretaris Residen Bangka kepada De Minister van Staat Gubernur Jenderal di Batavia tertanggal Mentok, 5 Agustus 1850 no. 1370; Ag. 14 Agustus 1850 no. 1210/1 geh; ANRI Bt. Tanggal 17 September 1850/1. Ada peristiwa yang lain datang dari seorang komandan dari Layang. Ia memberitahu kepada Mayor Becking, bahwa pada Tanggal 4 Agustus 1850, sekitar pukul 13.00, datang kabar dari Depati Amir yang mengundangnya untuk berbicara. Amir menjelaskan maksudnya untuk berunding. Ia juga berketetapan hati untuk tidak bertikai dengan pemerintah. Namun, Depati Amir mengaku takut jika harus menghadap Inspektur di Blinju, terkait dengan perundingan.
Oleh sebab itu, Amir mengundang komandan tentara infanteri umum di Batavia untuk datang ke kampung Layang guna membicarakan penyelesaian masalahnya. Amir meyakinkan bahwa tidak ada lagi tempat yang lebih nyaman untuk berunding kecuali di Layang. Tidak dijelaskan lagi, apakah pertemuan ini terlaksana atau tidak, yang jelas, aktivitas Amir setelah kejadian itu masih saja berjalan.
Dalam surat pemerintah kolonial yang lain disebutkan, bahwa Depati Amir bersedia berunding dengan Belanda, apabila keluarganya dibebaskan. Bahkan, setelahnya ia berjanji untuk menghentikan pemberontakan.
Terkait peristiwa ini diperjelas dalam surat dari Mayor Komandan Militer Bangka, Departemen Militer memperoleh dua laporan tertanggal 4 Agustus 1850 Nomor 250 dan 9 Agustus 1850 Nomor 258, yang salinannya bersama kami sampaikan kepada Anda yang terhormat. Dua laporan itu memuat tentang duduk perkara dan untuk mengakhiri pemberontakan Amir. Suatu penyelesaian yang tidak jelas dari suatu pertemuan yang terjadi antara Amir dan komandan di kampung Layang. Pertemuan itu terjadi, dalam kapasitas kami sebagai pemerintah. Kelihatannya, Amir takut, dan nampak tidak percaya lagi dengan komisaris maupun pemerintah di Bangka. Hal ini dikarenakan mereka sudah dua kali melakukan penyerangan terhadap Amir.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
