Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #20, Toponimi Kampung Aikmangkok.
Admin 3 August 2026
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP ,CECH, CIRBC*)
Dalam laporan Thomas Horsfield, Report on the Island of Banka, Journal of the Indian Archipelago, Tahun 1848, halaman 797 dan 802, disebutkan Ayer-Mangkok sebagai salah satu tambang timah kecil (small mines) di distrik Pangkalpinang yang berada dalam wilayah divisi ketiga atau divisi Tenggara (In the South-east division) pada saat kerajaan Inggris berkuasa di pulau Bangka (Tahun 1812-1816).
Tambang-tambang kecil lainnya di distrik Pangkalpinang selain Ayer-Mangkok adalah Krassak, Krassak-Ulu, Bakung-bawa, Tahapsawun, Bankwang, Henglie, Butshak, Tshuntshit, Samwey, Hunseng, Tshing-peng, Tshin, Kayu-hessie, Suymouw, Siema, Kwang-tsie, Bakung, Bulu, Ayer-Udang, Gomuru, Wang-sing, Pangkul, Sungai-kurouw.
Distrik Pangkalpinang pada saat Inggris berkuasa di pulau Bangka merupakan salah satu distrik penambanganTimah yang produktif disamping distrik Peesang (distrik Pisang) dan distrik Dshoorook (distrik Jeruk) di Western Division (divisi Barat); distrik Soongie-Boolo (distrik Sungai Bolo) di Northern Division (divisi Utara).
Dari penamaan atau toponomi lokasi lokasi tambang tersebut di atas dapat dipastikan, bahwa tambang tersebut dibuka oleh pekerja pekerja tambang orang Tionghoa dan penduduk pribumi Bangka (Bangkanese).
Pada masa kekuasaan Inggris di pulau Bangka, produktivitas pusat penambangan Timah secara berurutan meliputi wilayah Jebus, Pangkalpinang, Sungailiat, Klabat, Merawang, Sungai Buluh, Blinyu dan Lumut.
Tambang-tambang timah kecil (small mines) di distrik Pangkalpinang merupakan bagian paling penting dan produktif di pulau Bangka.
24 tambang di atas tersebar melalui bagian wilayah Messu, Bakung, Kayu-Bessie, Ayer-Mankok dan Bangkwang, dengan memperkerjakan sekitar 63 orang penambang (baik penambang pribumi Bangka maupun penambang orang-orang Tionghoa).

Wilayah distrik Pangkalpinang walaupun sudah ditambang hampir 30 tahun berturut-turut, maksudnya sudah ditambang sejak masa Sultan Ahmad Najamudin I Adikusumo (Tahun 1757-1776 Masehi) dan pada masa Sultan Muhammad Bahaudin (1776-1803 Masehi), wilayah ini masih kaya akan kandungan biji Timah. Wilayah distik Pangkalpinang bila ditambang oleh orang yang cakap dengan pengawasan yang baik diperkirakan akan menghasilkan sekitar 4.000 batang logam Timah (ingot) pertahun. Penambangan Timah sudah dimulai di wilayah Distrik Pangkalpinang terutama sejak didirikannya pangkal-pangkal tempat kedudukan demang-demang di Pulau Bangka yang bertugas mengatur distribusi Timah dari parit parit penambangan ke pangkal-pangkal yang didirikan hingga sampai ke Kesultanan Palembang Darussalam.
Pada masa Sultan Ahmad Najammudin I Adikusumo didirikan sekitar 13 Pangkal di pulau Bangka, termasuk Pangkalpinang. Masa Sultan Ahmad Najamuddin I Adikusumo dalam catatan laporan Thomas Horsfield merupakan masa atau priode paling makmur di pulau Bangka. Beberapa tahun sebelum naik takhta antara Tahun 1750 dan tahun 1775, telah diproduksi sekitar 60.000 pikul timah atau sekitar 120.000 batang Timah (ingot), sementara yang sampai ke Batavia tidak sampai 25 000 pikul.
Penambangan Timah di pulau Bangka pada awalnya, terutama sejak masa kesultanan Palembang Darussalam, Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo (Tahun 1724-1757 Masehi) dilakukan dengan teknologi pribumi Bangka orang Gunung yaitu teknik “Toboali” (pelubangan/Tebok berpindah/alih).
Teknik penambangan Timah pada masa itu sebagaimana dijelaskan (Heidhues, 2008:16) dilakukan dengan teknik pelubangan. Penduduk asli menggali lubang kecil (sistem tebuk/tebok atau tobo) sedalam enam kaki, terkadang dihubungkan dengan terowongan. Satu atau dua orang pria bekerja di lobang dan terowongan, mengangkut tanah berisi bijih Timah di keranjang untuk dicuci dan dipisahkan di sungai terdekat dengan menggunakan alat yang disebut dulang atau limbang.
Penggalian atau pelubangan dilakukan berpindah-pindah atau dialihkan (Melayu: “alih” berarti pindah atau geser) bila tidak dijumpai lagi Timah dalam jumlah atau deposit yang banyak. Sejak awal ditemukan deposit, Timah ditambang dengan cara ini dan berlangsung berkisar 12 tahun sampai Palembang di bawah Sultan Mahmud Badaruddin I (Lange, 1850:16).
Penambangan Timah dengan teknologi pelubangan atau berpindah menyisakan lubang-lubang yang berisi air seperti air yang berada di dalam mangkok atau mangkuk.

Wilayah bekas penambangan Timah di distrik Pangkalpinang tersebut kemudian diberi nama geografi atau toponomi “Ayer Mangkok atau Air Mangkok atau Aik Mangkok”. “Air atau Aik” adalah nama generik topografi yang berarti “anak sungai” dan kawasan bekas penambangan menyisakan lubang-lubang seperti air yang berada di dalam “mangkok atau mangkuk” menjadi nama spesifik wilayah geografis.
Wilayah Aik Mangkok kemudian berkembang menjadi pemukiman penduduk hingga sekarang dan dikenal masyarakat dengan toponimi “kampung Air Mangkok”.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.