3 November 1819, Kota Mentok Menjadi Garis Pertahanan Baru Pasukan Belanda Setelah Kalah Dalam Pertempuran Palembang 21 Oktober 1819

Barrak Mentok

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran sungai yang sengit pada Perang Palembang yang terjadi pada 21 Oktober 1819, pasukan Belanda pada tanggal 30 Oktober 1819 mulai melakukan gerak mundur (aftogt).

Detik-detik krusial mundurnya armada militer Hindia Belanda setelah gagal menembus pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam karena faktor cuaca buruk yang ekstrem, benteng pertahanan Palembang yang kokoh pada area strategis seperti di daerah Plaju dan Pulau Kemaro dengan pagar tiga lapis menyiagakan 242 pucuk meriam dan rintangan sungai berupa pasak kayu penghalang di bawah air untuk menghambat laju kapal Belanda, serta serbuan Rakit Api menyulitkan pasukan Belanda untuk mendaratkan pasukannya.

Dari sisi militer Belanda dinyatakan bahwa kegagalan invasi mereka karena oponthoud voor de bank yaitu tertahannya kapal-kapal akibat dangkalnya perairan, regenseizoen yaitu datangnya musim penghujan yang membuat pergerakan di sungai menjadi sangat berat dan berbahaya. dan selanjutnya karena faktor gemis aan klein vaartuig yaitu kurangnya armada perahu kecil yang lincah untuk melakukan manuver di perairan dangkal dan sempit.

Menyadari kegagalan tersebut, Laksamana Muda Constantijn Johan Wolterbeek mengambil langkah taktis darurat untuk menyelamatkan sisa pasukannya dengan melakukan pembagian disposisi militer.

Menurut A Meis, Kapitein-Adjudant bij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandsche Oost-Indische leger dalam Verhaal Palembangschen Oorlog van 1819-1821 halaman 135: “Sebagai langkah awal, satu kompi pasukan dikirim untuk memperkuat garnisun di Malaka. Sementara itu, empat kompi sayap dari Resimen Infanteri ke-18 dipulangkan kembali ke Batavia menggunakan kapal pengangkut Marinus-Marinus dan Admiraal Buyskes.

Kapal-kapal ini diperintahkan untuk singgah terlebih dahulu di Muntok (Pulau Bangka) guna mengevakuasi prajurit yang sakit dan terluka ke kapal rumah sakit Henriette Elisabeth.

See also  3 Mei 1851, Surat Residen Bangka, Nomor 2465: Permintaan Dana Untuk Anggaran Kesehatan.

Selanjutnya sisa prajurit infanteri dan artileri kemudian didistribusikan ke beberapa kapal perang utama demi menjaga efisiensi logistic yaitu Tromp: Menampung 150 personel infanteri. Wilhelmina: Menampung 80 personel infanteri dan 20 personel artileri. Eendragt: Menampung 50 personel infanteri. Ajax: Menampung 80 personel infanteri. Kapal Boat No. 17 dan 18: Masing-masing membawa 8 personel artileri.Perahu Tradisional (Tjoendangs/Tjonia’s): Dikerahkan secara khusus untuk membawa personel artileri yang bertugas mengoperasikan meriam howitzer di wilayah perairan sempit.

Pasca-penarikan mundur, beberapa hari kemudian, pada 3 dan 4 November, 1819, pasukannya Belanda menjadikan wilayah Mentok di Pulau Bangka sebagai pangkalan pertahanan sementara.. Letnan Kolonel Riesz bersama 40 personel artileri yang tersisa, serta Kapten Van der Wijck yang memimpin dua kompi pasukan pelopor (pionir), diperintahkan untuk menetap dan menjaga garnisun di Mentok.

Struktur komando baru pun dibentuk demi menjaga stabilitas wilayah operasi. Letnan Kolonel Keer resmi diangkat menjadi komandan tertinggi pasukan Belanda di Pulau Bangka, sedangkan Mayor Tierlam diserahi tanggung jawab untuk memimpin seluruh pasukan yang ditempatkan di atas kapal-kapal perang.

Sebagai penutup dari babak kegagalan ekspedisi ini, Kolonel Bischoff bertolak meninggalkan armada. Atas permintaan Laksamana Muda, ia berlayar menuju Batavia dengan misi penting yaitu menghadap langsung dan melaporkan kronologi kegagalan militer di Palembang kepada Yang Mulia Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Van der Capellen.

Catatan kekalahan ini menjadi salah satu bukti sejarah betapa gigihnya pertahanan Palembang dalam memanfaatkan geografi wilayahnya melawan taktik militer Eropa dan penting dan strategisnya Kota Mentok sebagai wilayah batu loncatan menyerang Palembang atau sebaliknya.


*Keterangan gambar:
Banka, Kazerne te Muntok (Barak Militer di Muntok, Bangka), Tahun 1875 (dicetak dan diterbitkan secara resmi oleh J.H. de Bussy di Amsterdam) disimpan di Museum Prinsenhof Delf Belanda.

See also  Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 2)

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments