31 Agustus 1945, Maklumat Pemerintah tentang Pekik Perjuangan MERDEKA sebagai Salam Nasional
Jelajah Bangka 31 August 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Masyarakat Bangka Belitung menyambut berita kemerdekaan Republik Indonesia Tanggal 17 Agustus 1945 dengan penuh kegembiraan dan rasa sukacita.
Kegembiraan tersebut terutama setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat Pemerintah tentang pekik perjuangan ”MERDEKA” sebagai “Salam Nasional”, dengan maklumat pemerintah Tanggal 31 Agustus 1945.
Pekik perjuangan Merdeka yang dimaklumatkan mulai berlaku Tanggal 1 September 1945 ditandatangani oleh Presiden RI, Ir. Soekarno, berisi:
“Sedjak 1 September 1945 kita memekikkan pekik merdeka, dengoengkan terus pekik itoe sebagai dengoengan Djiwa yang merdeka !, Djiwa merdeka yang berjoeang dan bekerja !, BERJOEANG dan BEKERDJA !, Buktikan itu !”.
Cara memekikkan pekik merdeka adalah dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan kata “Merdeka”.
Pekik merdeka kemudian menggema dimana-mana dan oleh masyarakat Bangka tidak hanya diucapkan sebagai salam nasional melainkan kemudian dimanifestasikan atau disimbolkan dalam pemberian nama-nama tempat atau nama geografis pada simpul-simpul penting di kota-kota di pulau Bangka, khususnya di Kota Pangkalpinang, terutama pada kawasan di sekitar “Titik Nol Pulau Bangka”.
Wilayah atau kawasan di sekitar Rumah Residen (Residentshuis te Pangkalpinang op Bangka, sekarang rumah Dinas Walikota Pangkalpinang) merupakan simpul sejarah Kota Pangkalpinang dan pulau Bangka.

Di kawasan ini terdapat berbagai living monument tentang perjalanan sejarah Bangka dan Belitung. Penamaan geografis tempat (toponim) dengan simbol “merdeka” tersebut meliputi kawasan alun-alun Selatan, diberi nama “Lapangan Merdeka” (sekarang Alun-alun Taman Merdeka), jalan yang dibangun antara alun-alun Selatan dengan Rumah Residen, diubah namanya dari Resident straat menjadi “jalan Merdeka”, kemudian dibangun sebuah tugu di wilhelmina park yang kemudian juga diubah namanya menjadi “Tamansari”.
Tugu yang terletak di Tamansari kemudian juga diberi dengan nama “Tugu Merdeka”. Penamaan tempat dengan nama spesific kata “Merdeka” sangat beralasan dilakukan oleh rakyat Bangka khususnya masyarakat Pangkalpinang, karena Kota Pangkalpinang adalah kota simpul “Pangkal Kemenangan” bagi eksistensi perjuangan kemerdekaan dan bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (Elvian, 2014:152-153).
Penamaan kata “Merdeka” untuk penamaan lapangan dan jalan raya juga dilakukan di beberapa daerah di Bangka seperti di Kota Mentok, Bangka Barat dan Kota Toboali, Bangka Selatan.
Dari laporan Sitrap No 9 tanggal 19 Februari 1949: dicatat satu momentum penting pada saat pengasingan pemimpin republik di Bangka, suatu hari, Ir. Sukarno, Haji Agus Salim dan Muhammad Rum jalan-jalan di kota Mentok dan bertemulah dengan empat orang gadis pelajar sekolah. Terjadi percakapan sebagai berikut :
Anak-anak menyapa pemimpin Republik dengan “Merdeka Pak” yang dijawab oleh Sukarno dengan “Merdeka”.
Salah seorang gadis dipanggil oleh Soekarno dan anak itu ditanyai pertanyaan “Apa arti Merdeka?” Anak itu menjawab: “Artinya Indonesia kita tidak mau lagi dikuasai (tak mau dijajah lagi)”.

Ir. Soekarno lebih lanjut bertanya, ” Untuk siapa kemerdekaan ini dimaksudkan ?”
Jawabannya adalah: “ Untuk rakyat Indonesia”,
Pertanyaan: “ Kok bisa kenal Bapak, siapa yang memberi tahu?”,
Jawaban: “ Bapak sudah tidak asing lagi bagi seluruh nusantara”,
Pertanyaan : “ Apa yang dilakukan bapak”?,
Jawaban: “ Bapak adalah Bapak Republik Indonesia”,
Ir. Soekarno kemudian berkata ” Bagus jadi (bagoes)” .
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
