24 Mei 1931, Para Pastor Agama Katolik Mulai Pindah dari Sambong dan Menetap di Pangkalpinang

IMG_20260524_074101

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada Tanggal 24 Mei 1931, terjadi perkembangan besar pada agama Katolik, yaitu para pastor mulai pindah dari Sambong ke Pangkalpinang untuk menetap.

Pada mulanya pusat misi gereja di pulau Bangka berawal di Sungaiselan dirintis oleh Tsen On Ngie sejak kedatangannya di Sungaiselan Tahun 1830.

Pada Tahun 1853, gereja Katolik Bangka dipimpin oleh Pastor Langenhoff yang ditugaskan menjadi pastor tetap untuk Pulau Bangka.

Pada Tahun 1918 pusat misi gereja Katolik dipindahkan dari Sungaiselan ke Stasi Sambong (sekitar 8 km dari Pangkalpinang). Stasi Sambong didirikan oleh Pastor Van Hoff, OFM.

Sebelum menjadi Pusat Agama Katolik Bangka, Belitung dan Riau, dalam Majalah Berkat Edisi khusus II, Tahun 1974, halaman 6, dinyatakan bahwa di Pangkalpinang sendiri pada Tahun 1863, Pastor Langenhoff sudah mendirikan satu gereja (kapel) yang letaknya di sebelah kelenteng Kwan Tie Miaw, akan tetapi sekitar tahun 1885 karena tak ada pastor yang menetap di Bangka, maka Kapel yang terletak di sisi Timur Kelenteng Kwan Tie Miau tak terawat dan tanah tempat Kapelpun dijual ke THHK (Tjung Hoa Hwe Kwan).

Sejak Tahun 1925 umat Katolik di Pangkalpinang dilayani dari Sambong dan misa diadakan sebulan sekali dengan memakai salah satu ruangan di Pengadilan Negeri.

Pada bulan Oktober 1928, Pimpinan Gereja Katolik Bangka, Belitung Riau, Mgr Bouma ss.cc membeli sebidang tanah yang terletak di dekat pasar Pangkalpinang dan beliau mulai mendirikan beberapa bangunan untuk keperluan pusat karya gereja, yaitu sekolah dan gereja kecil.

Pada tahun 1934 ditugaskan Pastor di Pangkalpinang bernama Pater Bakker ss.c. Sebagai pastor, Pater Bakker ss.c. mulai membuka sekolah untuk anak putra.

See also  Macem Memerang

Pada bulan April 1934 bruder-bruder Kongregasi Budi Mulia yang pertama datang di Bangka dan Pater Bakker ss.cc menyerahkan pengelolaan sekolah putra kepada bruder-bruder Budi Mulia.

Pastor Pater Bakker ss.cc selanjutnya mulai merintis pembukaan sekolah putri, yang kemudian pada bulan Agustus 1938 pengelolaannya diserahkan kepada suster-suster Pemelihara Ilahi.

Pada akhir tahun 1934 tercatat jumlah murid sekolah Bruderan ada 60 orang laki-laki dan sekolah putri Pater Bakker berjumlah 30 orang perempuan.

Sejarah Gereja di Kepulauan Bangka Belitung dan Riau, berawal atau dirintis sejak berkaryanya seorang tabib (shinse) Tionghoa yang beragama Katolik di Sungaiselan yang bernama Tsen On Ngie (Zeng Aner) yang lahir di Tiongkok pada tahun 1795. Pada Tahun 1830 Tsen On Ngie datang ke Sungaiselan dari Penang.

Sejak Tahun 1849 Tsen On Ngie mulai bekerja sebagai seorang tabib (shinse) dan berkeliling di Pulau Bangka mengobati orang-orang sakit, terutama pekerja tambang Timah orang Tionghoa yang bekerja di parit penambangan Timah. Banyak buruh-buruh tambang tertarik akan keteladanan Tsen On Ngie dan kemudian belajar agama Katolik. Komunitas pemeluk agama Katolikpun terbentuk di Sungaiselan di bawah bimbingan Tsen On Ngie.

Pada tahun 1849 pastor Claessens dari Batavia mengunjungi Sungaiselan dan mengkatolikkan 50 orang yang telah dididik dan dipersiapkan oleh Tsen On Ngie. Pada tahun 1853 Pastor Langenhoff dibenum untuk tugas di Sungaiselan dan Tsen On Ngie mendampingi beliau sebagai katekis (guru agama).


*Keterangan gambar: Gereja Katedral Pangkalpinang, Sumber Foto: Istimewa
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments