4 November 1819, Laporan Laksamana Wolterbeek Kepada Gubernur Jenderal, Baron Van der Capellen Tentang Ketangguhan Benteng di Bangkakota dan Palembang

Peta blanfa

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pasukan militer Belanda pada Tahun 1819 sedikitnya telah dua kali berperang dan mengalami kekalahan telak. Kekalahan Pasukan militer Belanda disebabkan oleh kegigihan atau militansi para pejuang yang tidak mau negerinya dijajah dan keberadaan benteng pertahanan yang tangguh dibangun berdasarkan kondisi geomorfologi dan geografis lingkungan setempat.

Kekalahan perang pertama pasukan Belanda adalah ketika melawan rakyat Bangka, terjadi pertempuran besar-besaran di Koeboebangka atau Bangkakota (kubu atau kota berarti benteng pertahanan) pada 17 September 1819.

Dari 235 prajurit Belanda yang dikirim dalam ekspedisi ke Bangkakota, hanya 80 orang prajurit yang dinyatakan masih mampu berdiri untuk bertempur. Sisanya 1 perwira dan 45 prajurit tewas, sementara puluhan lainnya luka-luka dan sekarat terbaring di rumah sakit dan menunggu kematian.

Kekalahan perang kedua terjadi di Palembang yang oleh Laksamana Wolterbeek disebutnya “pertempuran di Gambora” terjadi pada 21 Oktober 1819. Istilah Perang Gambora sering digunakan oleh Wolterbeek dalam dokumen-dokumennya untuk menyebut peristiwa kekalahan pasukannya yang menyedihkan.

Letnan Fabritius dan Letnan Reijnst, telah gugur bersama 37 orang lainnya. Tercatat pula 59 orang luka berat, di antaranya Kapten Artileri Van der Ven dan Letnan De Bruijn, yang semuanya kemudian meninggal dunia akibat luka-luka mereka.

Di atas kapal Eendracht, seluruh perwira mengalami luka-luka. Pelayan rumah saya, Gerrit, yang telah melayani saya dengan setia selama lebih dari dua belas tahun, kakinya juga tertembak hingga putus dan meninggal tak lama kemudian, tulis Wolterbeek dalam surat kepada Van der Capellen.

Dalam buku Palembang En Banka In 1816-1820. P. H. Van Der Kemp, (1900), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Den Haag: Martinus Nijhoff, halaman 601,602 dan 603 yang saya rangkum, diketahui tentang kehandalan benteng pertahanan di Bangkakota dan Palembang, bahwa dalam laporannya tanggal 4 November 1819 Wolterbeek menyatakan: selama pertempuran, kami memiliki kesempatan terbaik untuk mengamati pertahanan musuh, kami berada dalam jarak jangkauan 4 meriam, belum termasuk benteng-benteng kecil, dan ditembaki dari segala penjuru.

See also  15 Juli 1946, Konferensi Federal Malino di Sulawesi Selatan dihadiri Dua Orang Utusan dari Bangka

Tembakan yang teratur dari meriam tersebut tentu mendatangkan rasa gentar, dan keterkaitan serta keyakinan yang mereka terapkan pada pertahanan (benteng) telah memperlihatkan kepada kami bahwa selama ini kita terlalu meremehkan mereka.

Biarlah waktu yang membuktikan apakah semua ini merupakan hasil karya mereka sendiri, atau dibangun dengan bantuan tetangga yang lebih maju. Namun yang pasti, benteng-benteng di sungai Banka-Kota, menurut para perwira yang pernah ke sana, dilaporkan sangat kokoh dan dinding pertahanannya sangat tebal, sehingga orang dapat dengan yakin menduga bahwa mereka sangat memahami pekerjaan ini.

Meskipun demikian, Wolterbeek berpikir dan ingin mendudukkan masalah ini pada tempatnya, apakah benteng pertahanan tersebut merupakan karya pertahanan orang-orang Palembang dan Bangka yang murni dibangun oleh mereka sendiri, atau dengan bantuan tetangga yang lebih maju. Namun, Ia segera mengakui kemungkinan bahwa mereka bisa saja melakukannya tanpa bantuan tersebut.

Sementara itu, surat kabar resmi Bataviasche Courant tanggal 20 November 1819 dan De Calcuttasche Bengal Hurkaru memuat laporan tentang ekspedisi tersebut secara tersirat mengungkapkan kecurigaan adanya bantuan dari orang Eropa (Prancis), dengan melaporkan bahwa sultan telah memilih posisi yang memang orang akan tergoda untuk mengaitkannya dengan keahlian taktik militer yang lebih maju daripada yang dimilikinya.

Data ini menjelaskan mengapa benteng-benteng pertahanan di Palembang dan Bangkakota begitu modern, tebal, dan sulit ditembus oleh meriam Belanda pada perang tahun 1819. Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil memanfaatkan keahlian para insinyur militer veteran Perang Napoleon asal Prancis yang membelot untuk merancang sistem pertahanan benteng mereka.


*Keterangan gambar:
Potongan dari peta Kolonial Belanda yang menggambarkan situasi Perang Palembang (sekitar tahun 1819 atau 1821) sumber, National Archief

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

See also  12 April 1946, Lima Orang Pemimpin T.R.I Bangka Ditangkap Pasukan NICA dan Sekutu.

Related Images:

Comments

comments