12 April 1946, Lima Orang Pemimpin T.R.I Bangka Ditangkap Pasukan NICA dan Sekutu.
Admin 12 April 2026 1
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Setelah pertempuran heroik di Kilometer 12 antara Mentok ke Pangkalpinang, dan penguasaan Kota Pangkalpinang oleh Pasukan Sekutu dan NICA pada tanggal 14 Februari 1946, serta berbagai kontak senjata terus terjadi di berbagai wilayah di Pulau Bangka, aksi pembersihan terus dilakukan oleh tentara sekutu dan NICA, terhadap TRI di seluruh wilayah pulau Bangka.
Sisa-sisa pasukan TRI, yang membangun markas di Gunung Maras juga tidak luput dari penyerbuan. Pada Tanggal 12 April 1946 tentara sekutu dan NICA berhasil menangkap dan membawa Lima orang pemimpin TRI Bangka ke markas militernya di Kampung Nibung (sekarang wilayah Kabupaten Bangka)
Pada Tanggal 15 April 1946, Empat dari Lima pasukan TRI yang ditawan tersebut dihukum mati yaitu: Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif. Empat orang pasukan TRI yang dihukum mati pasukan NICA Belanda di Kampung Nibung kemudian dikenal masyakat Bangka dengan sebutan Pahlawan Empat.
Sementara itu seorang lagi dari anggota TRI yang ditangkap yaitu Letnan Admi Husin, dibawa pasukan NICA Belanda untuk menunjukkan lokasi persembunyian sisa-sisa pasukan TRI, akan tetapi kemudian Letnan Admi Husin bersama sisa pasukan TRI berhasil menyelamatkan diri.
Perlawanan TRI Resimen Bangka Belitung terus dilanjutkan dengan pertempuran melawan pasukan sekutu dan NICA Belanda di wilayah Tanjung Berikat (Bangka Tengah), di antara Resimen TRI Bangka Belitung kemudian ada yang menyeberang ke wilayah Sumatera Selatan.
Pasukan TRI dari Pulau Bangka yang terus berjuang di Palembang Sumatera Selatan ditetapkan dan ditempatkan dalam Kompi khusus yaitu Kompi Bangka Istimewa. Kompi Bangka Istimewa kemudian ikut terlibat dalam pertempuran Lima hari Lima malam di Palembang pada Tanggal 1 Januari 1947.
Pertempuran antara pasukan TRI dan pasukan sekutu dan NICA Belanda, menyebabkan jatuhnya korban di dua pihak.
Jumlah korban di pihak tentara sekutu dan NICA akibat perlawanan TRI di km 12 (dalam versi Belanda disebut km 11) dapat diketahui berdasarkan catatan Vol. K. van Emmerik, Private first class 5th company III (7) Battalion Regiment Stoottroepen, judul catatan “Landing on Banka, From Muntok to Pangkalpinang, sebagaimana dikutip Sujitno (1996:167-168):…dengan kelelahan yang amat sangat kami tergeletak di pinggir jalan berlindung dibalik truk-truk pasukan. Keadaan yang semakin menghimpit adalah rumor yang beredar tentang jatuhnya korban di pasukan kami. Dan ternyata bukan rumor kosong. Melintas di depan kami pembawa tandu mengangkat seorang sahabat kami, Limburgers, tewas dengan luka yang mengerikan. Dan di seberang sana, di balik truk tampak korban lain tergeletak. Selanjutnya dinyatakan:…Kemudian datang waktu yang membangkitkan kesedihan, Acara pemakaman 4 orang kawan kami yang tewas, dikuburkan di luar kota dengan pengawalan ketat oleh pasukan bersenjata lengkap. Pemakaman dipimpin oleh seorang pendeta Tionghoa dari kota ini. Karena pendeta militer kami ikut tewas dalam pertempuran di km-11.
Aktifitas perlawanan TRI di pulau Bangka berhenti sekitar bulan Mei Tahun 1946, ketika Empatpuluh prajurit TRI menyerah dan Duapuluh dua lainnya ditangkap. Pada pertengahan bulan Juni 1946 pasukan penggempur Belanda meninggalkan Bangka dan hanya polisi dan Dua detasemen KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang tetap di sana (Heidhues, 2008:190).
Berdasarkan kondisi beberapa makam prajurit TRI yang terletak di pemakaman umum Kampung Keramat yang terletak di sisi Utara Jalan Depati Amir Pangkalpinang (dahulu jalan Mentok), tampaknya ada bekas kegiatan penghormatan yang dilakukan masyarakat dengan memperbaiki makam dan menghiasnya dengan menancapkan sebentuk Bambu Runcing dan Bendera Merah Putih di atas masing-masing makam.
Pada lokasi perkuburan terdapat Delapan makam yang dihiasi dengan Bambu runcing dan Bendera Merah Putih. Kegiatan penghormatan dan penghiasan makam diperkirakan bersamaan dengan peringatan hari Pahlawan di bulan November.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
**) Ilustrasi gambar menggunakan AI
Perusahaan: UFO777