7 Juni 1849, Pasukan Depati Amir Mengalahkan Pasukan Belanda di Ampang yang dipimpin Van der Til
Admin 7 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*).
Perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir menyebabkan Keresidenan Bangka dalam status darurat militer (staat van beleg). Pertempuran pertempuran sengit terjadi di Lukok, Mendara/Menareh, Mentadai, Cempurak, Ampang, Tadjaubelah, Ketiping, Titi Puwak dan Titi Medang, Pangkalpinang, Sungailiat dan pertempuran meluas terjadi hampir di seluruh wilayah pulau Bangka hingga ke wilayah laut (selat Bangka, Pantai Utara Jawa dan Teluk Kelabat).
Pertempuran sengit di wilayah Ampang (sekarang wilayah Kelapa) terjadi Dua kali. Pertempuran pertama di daerah Ampang terjadi Tanggal 7 Juni 1849, pasukan Belanda dipimpin Van der Til dikalahkan pasukan Depati Amir.
Selanjutnya pertempuran Kedua di wilayah Ampang terjadi pada Tanggal 26 Januari 1850, pasukan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Tjing (Hamzah) adiknya Depati Amir, menyerang pos Militer Belanda di Ampang dibantu Demang Sura Menggala. Dalam serangan pertama, markas militer Belanda di Ampang dilumpuhkan.
Bagaimana situasi dan akibat perang rakyat Bangka digambarkan cukup objektif oleh W.A. van Rees, seorang petinggi militer Belanda, dalam buku yang ditulisnya: Wachia, Taykong en Amir, Rotterdam:H. Nijgh, 1859, pada halaman akhir 220 menyatakan: “Pasukan-pasukan yang didatangkan itu berturut-turut kembali ke Jawa. Mereka tidak dapat berbangga pada perwira-perwira perang yang gemilang, pada kemenangan yang diperoleh dalam asap mesiu dan genangan darah; mereka hanya menunjuk pada wajah-wajah mereka yang lesu, tak sehat pada anggota-anggota badan mereka yang kurus, pada tempat-tempat yang kosong dalam barisan mereka dan pada rumah sakit Mentok yang penuh sesak. Saat kembali, tidak ada kerumunan pengagum yang bersorak gembira dari ibu kota Hindia Belanda yang berbondong-bondong ke tempat pendaratan, dan jika surat kabar tidak mengumumkan dengan meriah berakhirnya pemberontakan, tentara Hindia Belanda tetap tahu bahwa kekuatan militer di Banka sekali lagi telah memenuhi tugasnya dan telah berkorban untuk kebesaran Belanda.”.
Selengkapnya: “De expeditionnaire troepen keerden achtereenvol geus naar Java terug. Zij konden niet snoeven op glanzende wapenfeiten , op roemvolle overwinningen in wolken van kruiddamp en stroomen van bloed bevochten; zij wezen slechts op hunne ziekelijke gelaatstrekken en vermagerde ledematen, opde ledige plaatsen in hunne gelederen, en op het volle hos pitaal van Muntok. Stroomden er bij hunne terugkoınst geene jubelende scharen van bewonderaars uit N. I. hoofdplaats naar de ontschepingsplaats, kondigden de dagbladen niet met zwierigen ophef het einde eens opstands ,- het Indische leger wisttoch, dat de mili taire magt op Banka wederom haren pligt betracht en hareoffers gebragt had aan degrootheid van Nederland”.9

Akibat kegagalan dalam menumpar perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, Residen Belanda F. van Olden dipecat dari jabatannya dan dalam bukunya De muiterij van Amir: van Olden menyatakan: “betapa sulitnya medan perang di pulau Bangka yang terdiri dari lembah, sungai, bukit, rawa-rawa, padang ilalang dan hutan belantara yang sulit ditembus sehingga menyulitkan upaya penangkapan Depati Amir”.
Sebenarnya perang rakyat Bangka begitu hebat dikarenakan siasat grilya yang dilakukan Depati Amir. Orang Jerman, Dr. F. Epp dalam bukunya “Schilderungen aus Hollandisch-Ostindien”, 1841 halaman 219 mengatakan: ”Der Depatti Barin zeigte sich hier als ein tuchtiger Guerillafuhrer, indem er und sein Sohn, der Depatti Amir, sich stets unsichtbar zu machen wussten, wenn sie in die Enge getrieben waren” (Depati Bahrin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin gerilya yang ulung; Ia dan puteranya, Depati Amir, selalu dapat menghilang, bilamana mereka terdesak).
Selanjutnya Epp dalam buku yang sama halaman 201: “Der Depatti Amir ist ein gefahrlicher Mensch von verdachtigem aeussern”, bahwa Depati Amir adalah seorang yang berbahaya dan raut wajahnya selalu mencurigakan.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
