7 September 1910, Dibuka sekolah Tionghoa di Sungailiat diketuai oleh Bong Kap Njan

20260907_070205

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Perkembangan Organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) di Pulau Bangka dimulai dengan berdirinya “Chung Hwa School atau Zhonghua Xuexiao “, di Kota Mentok.

Chung Hwa School adalah sekolah Tionghoa modern yang mendapat pengaruh Eropa pertama di Mentok, bahkan di Pulau Bangka.

Gagasan pendirian sekolah ini pada Tanggal 8 September 1906, tidak lepas dari peran Luitenant Lim A Pat, seorang tokoh Tionghoa yang dikenal sebagai pengusaha sekaligus anggota THHK di Batavia.

THHK kemudian berdiri di Pangkalpinang pada tanggal 27 Mei 1907 diketuai oleh Kapitan Lay Nam Sen, setahun kemudian pada tanggal 18 Juni 1908 dilakukan peresmian sekolah Tionghoa di Belinyu diketuai oleh Kapitan Tjen Ton Long.

Pada tanggal 7 September 1910 dibuka lagi sekolah Tionghoa di Sungailiat diketuai oleh Bong Kap Njan, dan terakhir pada tanggal 27 November 1912 dibuka sekolah Tionghoa di Toboali diketuai oleh Bong Kit Siong.

Di Kota Pangkalpinang sendiri kemudian berkembang sekitar enam Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) dan satu HCS (Hollands-Chinese School).

Pada Tahun 1917 Pemerintah Hindia Belanda membuka Hollandsch-Chineesche School (HCS) di Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu sebagai bagian dari Politik Etis (tanggal 17 September 1901, Ratu Belanda Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan di sidang Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi atau een eerschuld terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda).

Kebijakan Ratu Wilhelmina terhadap negeri jajahan Hindia Belanda setelah muncul kritik tajam terhadap sistem Tanam Paksa yang menyengsarakan rakyat. Tokoh utama yang berjasa memperjuangkannya adalah Conrad Theodor van Deventer lewat tulisannya berjudul “Een Eereschuld” (Utang Kehormatan), bentuk kebijakan Politik Balas budi dalam program Trias Van Deventer yang meliputi:
Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian;
Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi dan
Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

See also  7 Juli 1920, Pabrik Pencucian Timah Pertama Belitung Dioperasikan di Aik Sijuk Distrik Tandjongpandan.

Berdasarkan catatan Residen Bangka, J.E. Eddie (memerintah di Pangkalpinang dari tanggal 17 Mei 1925 hingga 3 Mei 1928 Masehi), dalam Memorie van Overgave, Pangkalpinang, 1928, bahwa pada bulan Maret 1928 sudah terdapat sekitar 10 sekolah pemerintah kelas dua dan 104 volkscolen (sekolah dasar) untuk masyarakat pribumi di Pulau Bangka.

Pada Tahun 1928 HCS di Pangkalpinang, Sungailiat dan Mentok memiliki murid kurang dari 700 orang (Heidhues; 2008:177).

Khusus untuk perkembangan sekolah di wilayah Soengailiat pada Tahun 1930, berdasarkan Memorie Van Overgave, Residen Hooyer, 1931, terdapat 11 sekolah dengan 49 guru dan sekolah terbesar di Sungailiat memiliki murid sebanyak 500 orang.

Dalam catatan Majalah Berkat Edisi Khusus II, September 1974 halaman 15, dinyatakan, bahwa Paroki Sungailiat Pada Tahun 1935 bersama sama dengan bruder-bruder Kongregasi Santa Maria dari Louders mulai membuka sekolah di Sinkai Tengah Sungailiat.

Sekolah yang dipelopori oleh Bruder Antonius, saat ini berkembang menjadi Sekolah Maria Goretti Sungailiat.

Pada tahun 1966, Pemerintah Republik Indonesia, menutup semua sekolah Tionghoa dan beberapa di antaranya diambil alih oleh Pemerintah menjadi sekolah nasional.


*Keterangan gambar:
Sekolah Belanda- Cina di Soengailiat, Sumber: Tropenmuseum

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 09, Toponimi Tempilang.

Comments

comments