8 November 1905, Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie, Lembar ke-2, Menyatakan Banyak Oknum Pejabat di Keresidenan Bangka yang Korup
Jelajah Bangka 8 November 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Dalam catatan Sejarah, salah satu penyebab terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan di Keresidenan Bangka adalah akibat penggabungan Administrasi Pertambangan Timah dengan Administrasi Pemerintahan.
Penyimpangan pertama dilakukan Klaas Heynis, Resident van Palembang en Banka. Residen K. Heynis dipecat dari jabatannya Tanggal 13 Juni 1817 karena terlibat praktek curang dalam pengelolaan keuangan pertambangan dan pemerintahan.
P.H. van der Kemp dalam bukunya Het Nederlandsch-Indisch bestuur van 1817 op 1818 over de Molukken, Sumatra, Banka, Billiton and de lampongs, Den Haag, M. Nijhoff, 1917 pada halaman 190-191, menyatakan tentang pemecatan K. Heynis sebagai Residen: “Unfortunately, many of the first men employed were incompetent or corrupt. The new Resident of the island, Heynis, after being involved in a scandal in Java, had worked for the British on Bangka, so he presumably was familiar with the island. Yet in mid-1817, Batavia had to send commissioners to investigate his (financial) misdeeds. Difficulties with other personnel followed”.
Selanjutnya Kemp pada buku yang sama dalam halaman 399 menyatakan ”In another case, the manager of the warehouse in Mentok was discharged “for dishonest and sloppy administration”. Maksudnya: Dalam kasus lain, pengelola gudang di Mentok dipecat “karena administrasinya tidak jujur dan ceroboh”.
Penyimpangan terus berlanjut berdasarkan catatan: Toestanden op Banka, dalam De Sumatra Post, lembar ke-2, tanggal 21 September 1905, menulis tentang Residen Bangka H. Van der Wolk dipensiunkan, sementara sekretarisnya AE Immink dipindahkan ke Batavia karena manipulasi data keuangan.
Berdasarkan: Viciueuse toestand op Banka, Pada Agustus 1905, Residen Bangka H. Van der Wolk dan sekretarisnya AE Immink telah diadukan oleh komisi kantor Keresidenan Bangka.
Dampak dari pengaduan itu, mereka diselidiki. Ternyata keduanya terbukti telah melakukan manipulasi data, sehingga selisih data yang terjadi digunakan untuk kepentingan pribadi.

Direktur Mr. J G Pot dan Kapten Colijn ditugaskan sebagai penyidik. Mereka memperoleh instruksi untuk menyelidiki kisah ini (Banka dalam De Sumatra Post, 23 Desember 1905 lembar ke-2.). Setelah penyelidikan dilakukan, Residen Bangka H. Van der Wolk dipensiunkan (Vicieus toestand op Banka), sementara sekretarisnya AE Immink dipindahkan ke Batavia.
Surat kabar berbahasa Belanda: “Het nieuws van den dag voor nederlandsch Indie, tanggal 8 November 1905, lembar ke-2”, menyatakan bahwa: “di antara pejabat kolonial di Batavia, para pejabat di keresidenan Bangka dikenal sebagai pejabat yang korup.
Korupsi di Bangka begitu besar sehingga tidak seorang pun membantahnya. Umumnya Residen Bangka tidak memiliki kemampuan untuk memberantasnya, terhadap pegawai di bawahnya, yaitu para insinyur, Ia tidak mampu untuk menegakkan kejujuran di antara mereka.
Residen juga tidak mampu untuk menumbuhkan motivasi kerja yang baik”. Kondisi moralitas birokrasi pertambangan Timah di pulau Bangka mencapai titik nadir.
Oleh karena itu mereka memperoleh julukan pejorative sebagai “penjahat hitam”, sebagaimana ditulis dalam “De Mijnwerkers in Banka” dalam Het nieuws van den dag voor Ned. Indie, 22 Desember 1904, lembar ke-2.
Dalam berbagai catatan lama perkara penyimpangan dalam pengelolaan pertimahan di pulau Bangka sering disebut dengan “Perkara Gelap” dan pelakunya disebut dengan “Pemain Timah”, sementara yang memperoleh keuntungan dari penyimpangan dalam pengelolaan pertimahan disebut memperoleh “Keuntungan Diam”.
*Contoh halaman depan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië terbitan tahun 1939 di Hindia Belanda.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
