8 November 1973, Makam Pejuang dan Anggota TRI yang Gugur Pada 14 Februari 1946, H.M. Noor dan Pahlawan 12 Digali Untuk Dipindahkan ke Makam Pahlawan Sungailiat

Pahlawan 12

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*).


Pasukan sekutu dan tentara NICA Belanda dari Batalyon 3, Resimen 7 Stoottroepen, berangkat dari Singapura dan mendarat di pelabuhan Mentok, pada pukul 16.00 WIB, Tanggal 11 Februari 1946, dengan menggunakan 4 kapal dan kapal yang paling besar berbendera Inggris bernama MV. Rocksand.

Pasukan NICA Belanda dipimpin oleh seorang pewira menengah bernama Berlein (Elvian, 2005:73). Pasukan sekutu dan NICA Belanda langsung menguasai Kota Mentok tanpa perlawanan. Pasukan Stoottroepen adalah pasukan gerak cepat yang dibekali dengan persenjataan lengkap, terdiri dari Tank/Panser, Truk, Jeep dan senjata api.

Pada Tanggal 13 Februari 1946, dengan menggunakan Sembilan unit Truk dan dengan kekuatan 500 orang tentara serta dengan peralatan tempur yang lengkap, pasukan sekutu dan NICA mulai bergerak dari Kota Mentok menuju ke Kota Pangkalpinang (menempuh jarak sekitar 138 km), untuk menduduki dan menguasai Kota Pangkalpinang sebagai pusat Keresidenan Bangka Belitung dan sebagai lokasi markas Komando Resimen TRI Bangka Belitung.

Mengetahui rencana pasukan sekutu yang membonceng di dalamnya pasukan NICA Belanda, markas besar TRI Bangka Belitung di Pangkalpinang kemudian berkoordinasi dengan seluruh kesatuan TRI yang berada di pulau Bangka untuk menghadapi dan menghambat laju pasukan sekutu dan NICA Belanda.

Kontak senjata antara pasukan TRI khususnya Kompi Sungailiat dengan pasukan sekutu dan NICA terjadi di Puding Besar sekitar pukul 24.00 WIB dan pertempuran berlangsung hingga dinihari Tanggal 14 Februari 1946. .

Dalam pertempuran gugur anggota TRI, yaitu, Cik Ali, Raban, Nur, Salim dan Azli, semuanya berasal dari Kompi TRI Sungailiat ( Pahlawan 5).

Pertempuran berikutnya antara pasukan TRI dan Sekutu dan NICA terjadi di kilometer 16, ujung kampung Petaling, pada Tanggal 14 Februari 1946 sekitar pukul 09.00 pagi. Gugur dalam pertempuran di kilometer 16, H.M. Noor, seorang pejuang yang berasal dari kampung Nibung Koba (Bangka Tengah).

See also  20 Agustus 1817, Surat Mr. J. Bousquet Kepada Mr. H. J. van de Graaff, Mempertanyakan Penyelidikan Kasus Praktek Curang Keuangan Oleh Residen Bangka K. Heynis.

Pasukan sukutu dan NICA Belanda kemudian terus melaju menuju ke Kota Pangkalpinang. Sekitar pukul 12.00 WIB, Tanggal 14 Februari 1946 di kilometer 12, Bukit Ma Andil kampung Petaling, laju pasukan sekutu dan NICA dihambat oleh pasukan TRI dari Kompi TRI Belinyu dan Pasukan Berani Mati.

Tembak menembak antara Dua pasukan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB pada Tanggal 14 Februari 1946. Belum sampai Sepuluh menit pertempuran selesai, tiba-tiba dari arah Kota Pangkalpinang datang sebuah mobil yang berisi 7 orang anggota TRI Pangkalpinang dipimpin oleh Kapten Munzir.

Pasukan TRI yang baru datangpun dengan leluasa kemudian diserang oleh tentara sekutu dan NICA. Pasukan TRI yang meninggal dalam pertempuran adalah Suardi Marsam, Abdul Somad Tholib, Adam Cholik, Salim Adok, Sulaiman Saimin, Abdul Majid Gambang, Karto Saleh, Kamsen, Ali Samid, Apip Adi, Saman Samin dan Jamher. Mereka yang gugur dikenang dengan nama Pahlawan 12.

Setelah pertempuran di Bukit Ma Andil, tentara Belanda langsung masuk ke Kota Pangkalpinang dan tanpa perlawanan Kota Pangkalpinang jatuh ke tangan sekutu dan tentara NICA sekitar pukul 16.00 WIB.

Pasukan TRI dari Pangkalpinang kemudian menyingkir ke wilayah Koba dan Tanjung Berikat, sementara tentara sekutu kemudian berhasil menduduki Kota Sungailiat dan Kota Belinyu. .

Aksi pembersihan terus dilakukan oleh tentara sekutu dan NICA Belanda, terhadap TRI di seluruh wilayah pulau Bangka. Sisa-sisa pasukan TRI, yang membangun markas di Gunung Maras juga tidak luput dari penyerbuan.

Pada Tanggal 12 April 1946 tentara sekutu dan NICA berhasil menangkap dan membawa Lima orang pemimpin TRI Bangka ke markas militernya di kampung Nibung (wilayah Kabupaten Bangka).

See also  15 Juni 1819, Pasukan Muntinghe Mengundurkan Diri ke Mentok Setelah Kalah Dalam Perang Palembang (Menteng).

Pada Tanggal 15 April 1946, Empat dari Lima pasukan TRI yang ditawan tersebut dihukum mati yaitu: Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif. Empat orang pasukan TRI yang dihukum mati pasukan NICA Belanda di kampung Nibung kemudian dikenal masyakat Bangka dengan sebutan Pahlawan 4.

Aktifitas perlawanan TRI di pulau Bangka berhenti sekitar bulan Mei Tahun 1946, ketika Empat puluh prajurit TRI menyerah dan Duapuluh dua lainnya ditangkap.

Pada pertengahan bulan Juni 1946 pasukan penggempur Belanda meninggalkan Bangka dan hanya polisi dan Dua detasemen KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang tetap di sana (Heidhues, 2008:190).

Selanjutnya untuk menghargai perlawanan rakyat Bangka dalam membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dalam pertempuran Tanggal 14 Februari 1946, atau bertepatan dengan Tanggal 12 Rabiulawal 1365 Hijriah, di Kampung Puding besar dan kampung Petaling serta di km 12, maka pada Tanggal 8 November 1973, makam para pejuang dan anggota TRI yang gugur sebagai kusuma Bangsa, yaitu makam H.M. Noor yang dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum kampung Petaling dan makam Pahlawan 12 yang dimakamkan dalam satu lubang di kaki bukit Ma Andil kilometer 12 kampung Petaling, digali dan pada Tanggal 9 November 1973 kerangka jenazahnya dibawa ke Kota Sungailiat, untuk dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Padma Satria.


*Makam Pahlawan 12 dan Makam H.M. Noor di Makam Pahlawan Padma Satria Sungailiat, koleksi foto Dato’ Akhmad Elvian

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments