Awal Bulan November Sampai Bulan Februari, Adalah Puncak Musim Hujan di Pulau Bangka

Curah hujan

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Catatan historis tentang Pulau Bangka, terutama bagaimana potret iklim, ancaman wilayah bagi pulau kecil yang terbuka bagi dunia luar, kekayaan alam yang luar biasa menjanjikan, menjadikan Pulau ini menarik untuk dikaji sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana atau bagaimana fungsi inspiratif dan edukatif studi Sejarah yang penting untuk memitigasi, memandu penyusunan arah kebijakan masa depan terutama untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakatnya.

Historia est Magistra Vitae adalah ungkapan Latin, digunakan oleh Cicero dalam karyanya De orotare sebagai personifikasi sejarah, yang berarti “guru kehidupan”.

Cicero menyampaikan gagasan bahwa studi tentang masa lalu harus menjadi pelajaran untuk masa depan. “Historia vero testis temporum, lux veritatis, vita memoriae, magistra vitae, nuntia vetustatis, qua voce alia nisi oratoris immortalitati commendatur.”

Pulau Bangka telah lama dikenal sebagai wilayah strategis di jalur pelayaran Nusantara. Berdasarkan catatan dari Cina Ying-yai Sheng-lan (Laporan Umum dari Pantai-pantai Lautan) yang ditulis pada Tahun 1416 Masehi oleh musafir Cina Mahuan yang ikut dalam ekspedisi Cheng Ho, disebutkan:
“…kapal-kapal yang datang dari manapun memasuki Selat Peng-chia (Selat Bangka) yang berair tawar. Jalan menuju ibukota makin sempit” (Groeneveldt, W.P., 1960:73).

Sementara itu Iklim di Pulau Bangka sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin muson. Angin Muson Barat yang terjadi pada bulan November, Desember, Januari hingga bulan Februari menjadikan pulau Bangka musim penghujan. Selanjutnya Angin Muson Tenggara yang datang dari laut Jawa mempengaruhi cuaca dan menjadikan pulau Bangka mengalami musim kemarau, cuaca panas atau kering terutama terjadi pada bulan Mei hingga Agustus.

Berdasarkan pengukuran, suhu di pulau ini berkisar antara 78°F hingga 84°F (sekitar 25°C–29°C), dan tercatat tidak pernah melebihi 88°F (sekitar 31°C) jika diukur di tempat yang teduh. Selanjutnya di Pulau Bangka dikenal periode peralihan angin yang tidak menentu yang disebut Musim Pancaroba terjadi pada bulan Maret hingga Mei dan pada bulan September dan November.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #112, Masjid Baitul Rohim, Perlang

Jeda musim atau pancaroba ditandai dengan kondisi laut yang kadang sangat tenang (calms) namun tiba-tiba bisa menjadi badai mendadak (squalls). Bagi dunia maritim, periode pancaroba menjadi waktu terbaik untuk navigasi. Kapal-kapal dagang dapat berlayar dengan tingkat keberhasilan yang sama baiknya, entah itu menuju ke hulu maupun ke hilir Selat Bangka. Kondisi laut yang tenang pada musim pancaroba juga membawa sisi kelam bagi keamanan selat.

Para bajak laut memanfaatkan angin sepoi-sepoi untuk keluar dari sarang mereka di sekitar Lingga, Pulau Belitung, dan pantai barat Kalimantan. Mereka mengincar dan memangsa perahu-perahu kecil yang terjebak di tengah laut yang tenang.

Angin Muson sangat berpengaruh pada kegiatan pelayaran di sekitar selat Bangka yang menghubungkan pulau Bangka dan pantai Timur pulau Sumatera, selat Gaspar dan selat Karimata yang menghubungkan pulau Bangka dengan pulau Belitung dan pulau Kalimantan.

Pantai Timur Sumatera dan Selat Bangka berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dalam jalur pelayaran dan perdagangan dunia dimasa lampau, ketika dunia pelayaran masih bergantung pada sistem Angin Muson yang berubah-ubah arah tujuannya setiap Enam Bulan. Tak pelak lagi di kawasan ini lalulintas dari segala arah bertemu untuk menantikan angin yang cocok agar para pelayar bisa melanjutkan perjalanannya. Dan, tidaklah mengherankan jika pantai ini dianggap sebagai “Pantai Niaga yang disenangi” (the favoured commercial coast) di kawasan Barat Indonesia, sebagaimana yang telah diuraikan secara panjang lebar oleh O.W. Wolters dalam karyanya tentang masa sebelum Sriwijaya (Lapian, 1992:143).

Bagi para pelaut zaman dahulu, menyusuri garis pantai Bangka mungkin memberikan kesan bahwa pulau ini tidak berpenghuni. Seluruh kampung di Pulau Bangka dibangun beberapa mil di hulu sungai, membuat pemukiman sama sekali tidak terlihat dari laut lepas. Meski begitu, pelayaran melintasi pesisir Bangka menyajikan pemandangan yang memanjakan mata. Kontur tanah Bangka yang tinggi dan berbukit menghadirkan pemandangan kontras yang indah, sangat berbeda dengan daratan Sumatra di seberangnya yang cenderung datar tanpa variasi.

See also  13 Juli 1949, di Jakarta Diselengarakan Pertemuan Antara Pemimpin Kelompok Bangka (Trace Bangka) dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Selain ancaman manusia, alam Bangka juga menyimpan potensi bahaya yang masif. Guntur dan kilat sangat sering terjadi di pulau ini dengan daya ledak yang sangat dahsyat. Fenomena kilat bahkan dapat diamati hampir setengah malam dalam setahun, sering kali muncul dalam bentuk kilatan petir bercabang yang sangat terang.

M.H. Court, Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, dalam An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, halaman 133 menjelaskan tentang ganasnya petir di Selat Bangka diduga menjadi penyebab hancurnya salah satu kapal perang milik Angkatan Laut Inggris. Kapal fregat HMS Resistance dinyatakan karam di Selat Bangka setelah diduga kuat tersambar petir yang memicu ledakan seketika pada magasin atau gudang amunisi kapal.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments