GedeelteDiniang-lijnmetbrandhouttrein_20260816_072804_000


Oleh : Meilanto


Setelah pada edisi sebelumnya, Buddingh turun ke tambang timah dan melihat alat-alat yang digunakan serta para buruh tambang jeda makan yang ditandai dengan suara pukulan Tontong, kini saatnya ia meneruskan perjalanan ke Sungailiat.

Dengan melewati Kampung Riouw (Riau), Sekka atau Siliep (Silip), Plawan (Pelawan), Kajoe-arang (Kayuarang), Tjet (Cit), Djoeniang (Deniang), Aijer-ketjouw (?), dan Sigimbier (Sigembir) ia tiba di Sungailiat pukul 5 sore. Simak tulisannya pada halaman 59:

We gingen nu nog het rijstpakhuis en andere magazijnen der kongsi binnen, bezagen eenige gereedschappen, en vooral.de Tjiam of proefboor, een ijzeren staaf van 16 à 20 voeten lengte, met een schopje of buisje aan de spits, die tot het zoeken naar crtslagen onmisbaar is, – en namen daarop van het Mijnhoofd afscheid.

Toen we weder op den grooten weg gekomen waren, vond ik daar mijn’ draagstoel en de noodige dragers, waarmede ik verder zou reizen, terwijl mijn gastheer naar Blienjoe terugkeerde. Helaas, weinig kon ik denken dat ik dien hartelijken man, dien ik reeds sedert vele jaren gekend had, voor het laatst de hand drukte en hem nimmer zou wederzien!

Mijn togt ging nu door de kampongs Riouw, Sekka of Siliep, Plawan, Kajoe-arang , Tjet, Djoeniang, Aijer-ketjouw en Sigimbier, en ten 5 uren in den namiddag bereikte ik de pankal-Soengi-liàt (de plaats mijner bestem-
ming,) alwaar ik door den Administrateur, den heer DUMANS, gastvrij ontvangen werd.

De eerste uren van dezen togt voer-
den mij door digte wouden en over een heuvelachtig en vaak moeijelijk terrein, doch gaven mij van tijd tot tijd een ruim
gezigt op de Klabat-baai, en op de bergen Pontjar, Besâr, Rebo, Betong , Loboklie , Sambong-giri, Marras en Mapor, en op verscheidene parit’s of mijnen, zoowel kollong-, als koeliet- en koeliet-kollong-mijnen
.

Laatst-gemelden berg (Mapor) naderde ik dikwijls zoo digt, dat ik zelfs een’ tijd lang over zijne zuidelijkste helling henentrok, doch gedurende de namiddag-uren toog ik slechts door woeste velden, met alang-alan g overdekt en soms afgewisseld door heuvelen en boschjes en groepjes geboomte.

Maksudnya:
Kami kemudian masuk ke lumbung padi dan gudang-gudang milik kongsi lainnya, melihat berbagai peralatan, terutama Tjiam atau bor pengecek—sebuah batang besi sepanjang 16 hingga 20 kaki yang ujungnya berbentuk sekop kecil atau tabung, alat yang sangat diperlukan untuk mencari lapisan biji tambang. Setelah itu, kami berpamitan kepada Kepala Tambang.

See also  Setiap Tanggal 1 Juni, Peringatan Hari Lahir Pancasila

Saat kembali ke jalan utama, saya menemukan kursi tandu dan para pengangkut yang siap mengantar perjalanan selanjutnya, sementara tuan rumah saya kembali ke Blienjoe. Sayangnya, saat itu saya sama sekali tidak menyangka bahwa jabatan tangan dengan pria ramah yang telah saya kenal bertahun-tahun itu adalah yang terakhir kalinya, dan saya takkan pernah berjumpa dengannya lagi!

Perjalanan saya kini berlanjut melewati kampung-kampung Riouw, Sekka atau Siliep, Plawan, Kajoe-arang, Tjet, Djoeniang, Aijer-ketjouw, dan Sigimbier. Pada pukul 5 sore, saya tiba di pusat distrik Soengi-liat—tempat tujuan saya—di mana saya disambut dengan baik oleh pengelola, Tuan DUMANS.

Beberapa jam pertama perjalanan ini membawa saya menembus hutan lebat dan melintasi dataran berbukit yang sering kali sulit dilalui, namun sesekali saya dapat memandang luas Teluk Klabat, pegunungan Pontjar, Besâr, Rebo, Betong, Loboklie, Sambong-giri, Marras, dan Mapor, serta berbagai tambang—baik tambang terbuka (kollong), tambang galian tanah (koeliet), maupun gabungan keduanya.

Gunung Mapor sering kali saya lewati cukup dekat, bahkan sempat berjalan cukup lama di lereng paling selatannya. Namun memasuki sore hari, saya hanya melintasi dataran liar yang tertutup ilalang, sesekali diselingi bukit, rimbunan semak, dan kelompok pepohonan.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments