11 April, Letusan Gunung Tambora Di Sumbawa, Sampai Ke Pulau Bangka.

0
IMG-20260411-WA0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


PADA Tanggal 11 April 1815, Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat meletus secara beruntun. Letusan yang demikian dahsyat menggegerkan seantero dunia kala itu, bahkan bunyi letusan terdengar sampai di Pulau Bangka dan akibat ledakan terjadi banjir air laut masuk ke daratan di Kepulauan Bangka Belitung.

Letusan Gunung Tambora terjadi saat Pulau Bangka berada pada masa kekuasaan Kerajaan Inggris (Tahun 1812-1815 Masehi) dengan pusat kekuasaan berada di Kota Mentok yang oleh Inggris diubah toponiminya menjadi “Minto”, diambil dari nama Lord Minto (23 April 1751- 21 Juni 1814) sebagai penghargaan atas dirinya yang berjasa sebagai Gubernur Jenderal Inggris di India dari Tahun 1806-1813, bahkan pada tahun 1811 Lord Minto pernah menjadi Gubernur-Letnan Hindia Belanda, sebelum jabatannya diserahkan kepada Raffles.

Bunyi Letusan Gunung Tambora awalnya diduga oleh kepala kepala distrik Inggris di Pulau Bangka adalah akibat bunyi serangan dari Meriam bajak laut yang menyerang. Residen sendiri sempat menduga bahwa bunyi dentuman tersebut adalah akibat dari salah satu gunung di Pulau Bangka meletus.

Berita tentang ledakan Gunung Tambora diketahui dari laporan Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, M.H. Court yang ditulisnya dalam An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, pada halaman 129 dan 130.

Selengkapnya laporan M.H Court tersebut berbunyi: “On the morning of the llth of April 1815, a constant succession of sounds was hear dat Minto, like reports ofdistant cannon. Thinking it possible they might be signals of distress from a ship in the Straits, the Government vessels then in the Roads were directed to proceed down the Straits in the direction when the reports appearedtoeome. Captain O’Brien, in his Majesty’s frigate Doris, got under weigh at the same time It is remarkable that the reports where not heard by any person on board the frigate or vessels in the Roads, nor at any time Avhilst they wereat sea. A Swedish ship arrived from the southward the next day, from which no tidings could be ob tained in explanation, as no person on board had heard or seenany thing extra ordinary on their passage up the Straits. Expresses were received from the inspectors of every district, conveying their apprehensions of attack from pirates, each observing that heavy firing of cannon had been heard, which they supposed to be near. It struck me that one of the hills in Banca must have exploded, but the sounds were after wards proved to have proceeded from the explosion of a hill on the island of Sumbawa, to the eastward of Java, a distance not less than seven hundred miles, and still farther from Palembang, over which country also the sounds where distinctly heard. The whole island of Banca is abundantly supplied with water, of the best quality.” 

Maksud dari M.H. Court, diterjemahkan secara bebas : “Pada pagi hari tanggal 11 April 1815, serangkaian suara terus-menerus terdengar di Minto, seperti suara tembakan meriam dari kejauhan. Karena mengira itu mungkin sinyal bahaya dari sebuah kapal di Selat, kapal-kapal pemerintah yang saat itu berada di perairan tersebut diperintahkan untuk melanjutkan perjalanan menyusuri Selat ke arah suara-suara tersebut terdengar. Kapten O’Brien, di fregat Yang Mulia Doris, berlayar pada saat yang sama. Sungguh luar biasa bahwa suara-suara tersebut tidak terdengar oleh siapa pun di atas fregat atau kapal-kapal di perairan tersebut, maupun kapan pun selama mereka berada di laut. Sebuah kapal Swedia tiba dari selatan keesokan harinya, yang darinya tidak dapat diperoleh kabar apa pun sebagai penjelasan, karena tidak ada seorang pun di atas kapal yang mendengar atau melihat sesuatu yang luar biasa selama perjalanan mereka menyusuri Selat. Surat-surat diterima dari inspektur di setiap distrik, yang menyampaikan kekhawatiran mereka akan serangan bajak laut, masing-masing mencatat bahwa tembakan meriam yang hebat telah terdengar, yang mereka duga berada di dekatnya. Terlintas dalam pikiran saya bahwa salah satu bukit di Banca pasti telah meledak, tetapi suara-suara itu kemudian terbukti berasal dari ledakan sebuah bukit di pulau Sumbawa, di sebelah timur Jawa, jaraknya tidak kurang dari tujuh ratus mil, dan lebih jauh lagi dari Palembang, di mana suara-suara itu juga terdengar dengan jelas. Seluruh pulau Banca memiliki pasokan air yang melimpah (maksudnya banjir air laut) dan berkualitas terbaik.”.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

See also  MANGKOL Sekarang, Bukan MANGKOL Yang Dulu

** Ilustrasi gambar dibuat menggunakan AI

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *