Dari Sungailiat, Buddingh ke Pangkalpinang. Ini rutenya.

IMG-20260714-WA0007

Oleh : Meilanto


Dari Sungailiat, Buddingh meneruskan perjalanannya ke Pangkalpinang. Rute yang dilalui ia tulis dalam bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867 halaman 64-65.

Op den 27sten Oktober vertrok ik naar Pankal-pinang, hoofdplaats van het Mijn-distrikt Pankal-pinang, welke naam cigenlijk: Pinang-plaats, of oord der Pinang-palmen beteekent. De hoofd-route van Soengi-liat naar Pankal-pinang loopt eigenlijk over Marawang, Padang, Lajang, Tjamporan, Pairaja, Poeding, Sid, Loko en Petaling, en maakt dus een’ grooten omweg; doch er is ook een binnen-weg, die dadelijk van Soengi-liat naar Pankal-pinang leidt, en deze, slechts 14 palen of 44 uur lang, schoon voor een good deel door lalap’s of door moerassig terrein voerende, werd natuurlijk door mij gekozen.

Wanneer er echter veel regen valt, is deze weg, of liever dit drassig voetpad onbegaanbaar, en dient de reis geheel langs de rivier van Marawang per vaartuig te worden afgelegd. Aan den steiger bij de redoute vond ik een praauw gereed, en voer daarmede de breede Marawang een eind weegs af, en wel tot aan de monding der rivier Pandale, welke eene spruit of zijtak der Marawang is. Bij den alhier ver in het water uitgebouwden steiger ging ik weder aan land, passeerde de kampongs Liendieng-moessoe en Gebak en langs de ontelbare kronkelingen der Pankal-pinang-rivier of soengi-Aijer-itam (zwart water), die zich in de Marawang ontlast, en bereikte tegen den middag de hoofdplaats Pankal-pinang, aan de rivier van dien naam gelegen, alwaar ik bij den Administrateur, den Heer MENSINGA, gastvrijheid genoot.

Tulisannya jika diterjemahkan menggunakan google translate maka:

See also  9 Mei 1821, Pasukan Belanda Dipimpin De Kock Dengan 2.580 Angkatan Laut dan 1.679 Pasukan Darat Berangkat Dari Batavia Menuju Mentok

Pada tanggal 27 Oktober, saya berangkat menuju Pankal-pinang, kota utama di distrik pertambangan Pankal-pinang—sebuah nama yang secara harfiah berarti “tempat pohon pinang”. Rute utama dari Soengi-liat ke Pankal-pinang sebenarnya melewati Marawang, Padang, Lajang, Tjamporan, Pairaja, Poeding, Sid, Loko, dan Petaling, yang berarti menempuh jalan memutar yang cukup jauh; namun, ada juga jalur darat yang mengarah langsung dari Soengi-liat ke Pankal-pinang. Meskipun rute ini—yang panjangnya hanya 14 pal (sekitar 21 km)—melintasi padang ilalang dan medan berawa di sebagian besar perjalanannya, saya tentu saja memilih jalur tersebut.

Akan tetapi, saat hujan deras, jalan ini—atau lebih tepatnya jalan setapak yang becek ini—menjadi tidak dapat dilalui, sehingga seluruh perjalanan harus ditempuh dengan perahu menyusuri Sungai Marawang. Di dermaga dekat benteng pertahanan, saya mendapati sebuah perahu yang siap digunakan dan menempuh perjalanan menyusuri Sungai Marawang yang lebar, tepatnya hingga ke muara Sungai Pandale, sebuah anak sungai atau cabang dari Sungai Marawang. Saya turun di dermaga yang menjorok jauh ke dalam air, melewati kampung Liendieng-moessoe (maksudnya Selindung) dan Gebak, lalu—dengan mengikuti kelokan yang tak terhitung jumlahnya di Sungai Pankal-pinang (yang juga dikenal sebagai Soengi-Aijer-itam atau Air Hitam), yang bermuara ke Sungai Marawang—saya tiba di kota Pankal-pinang menjelang tengah hari. Kota ini terletak di tepi sungai dengan nama yang sama, dan di sanalah saya menikmati keramahan sang Administrator, Tuan Mensinga.


*Keterangan gambar sampul: Jetty on the Merawang River. Anonymous, 1914 – 1919
(Dermaga di Sungai Merawang. Anonim, 1914 – 1919)

Comments

comments