14 Juli 1865, Mohamat Satag, seorang pribumi diangkat sebagai Lichtwachter bij het havenlicht pada mercusuar Tanjung Kalian dan Tanjung Ular

IMG_20260525_142449 (1)

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pada tahun 1858, Departemen Marine Hindia Belanda membentuk Inspektie Over De Bebakening, De Kustverlichting En Het Loodswezen (Inspeksi menara suar, penerangan pantai dan pemanduan) dengan komandan A.van Kerkwijk, Luitenant-ter-zee 2e kl. bij de Nederl Marine. Tahun 1867, satuan ini telah mengirim petugas-petugasnya di Menara suar Batavia, Penerangan Pantai di Tanjung Kelian dan Pantai Anjer dan pemanduan di Surabaya, Selat Bali dan Nusa Kambangan.

Sampai tahun 1901, penerangan Pantai terbagi dalam 4 kelas.
Kustlicht etablissementen der 1ste orde berada di Pulau Bras, Pulau Bodjo, Vlakkenhoek, Jav’s 1ste punt, Boompjes-eiland, Ondiepwater-eiland, Pulau Lengkuwas, Pulau Mendanau dan Pulau Besar.

Kustlicht-etablissementen der 2ste orde berada di Tanjung Kelian, Pulau Nangka, Pulau Pandan, Java’s 4de punt, Noordwachter, Edam, Sembilangan dan Sapoedi.

Kustlicht etablissementen der 3ste orde hanya ada di Nusa Kambangan.

Kustlicht-etablissementen der 4ste orde berada di Semarang, Mandalika, Zwaantjesdroogte, Duiven-eiland, Meindersdroogte, Den Bril en Makasser, Ujung Sungai Bramei (Sumatra’s Westkust), Lingga (Riouw en Onderhoorigheden), Katang-Katang (Sumatra’s Westkust), dan Algemeene diensten

Satuan pemanduan tersebar di Batavia, Surabaya, Cilacap, Sumatra’s Westkust (Emma-haven), Oostkust van Sumatra (Baballanrivier en Aroebaal), Djambi rivier, Zuider en Oosterafdeeling van Borneo, Celebes en Onderhoorigheden, Moluksche Archipel, dan Palembang.

Seiring pembangunan dan operasional menara suar Tanjung Kelian pada tahun 1862, keamanan jalur lalu lintas pelayaran di Selat Bangka diserahkan kepada pejabat Licht-opzigter der 2de klasse. Sampai tahun 1890, setidaknya ada 6 pejabat yakni C.C. Jasper (1862-1865), L.B.C. Van Rooijen (1865-1869), L.van Don (1869-1874), J. van Vuuren (1874-1879), G. Hoedt (1885-1890) dan D.E. Swart (1890-).

Terdapat pegawai pribumi bernama Mohamat Satag dengan jabatan Lichtwachter bij het havenlicht yang diangkat pada 14 Juli 1865.

See also  11 Juni 1949, Moh Hatta kembali ke Bangka, Setelah Kunjungan ke Kotaraja Aceh.

Setelah Menara suar Tanjung Kelian, pemerintah Hindia Belanda membangun menara suar lainnya dan menempatkan petugasnya di Pulau Celagin (Lichtwachter bij het havenlicht Tjei Afien mulai 17 Juli 1865), Tanjung Oelar (Lichtwachter Moehamad Satag mulai 14 Juli 1865), Pulau Lusipara (1e Gezagvoerder van het lichtschip in de Lucipara passage J.H.L de Vrijer mulai 26 8 Mei 1869), Pulau Lepar (Lichtwacher bij het havenlicht Tjelang mulai 14 September 1870), Pulau Besar (Lichtopzichter 1de klasse H.E.W van Soelen mulai 28 November 1882) dan Pulau Pelepas (Lichtopzichter 2de klasse E.C. Muller mulai 8 Juni 1888).

Pemerintah Hindia Belanda membangun Mercu Suar di wilayah Tanjung Kalian Mentok yang terbuat dari Beton pada tahun 1862. Mercu suar dibangun setinggi 65 meter dengan jarak jangkau lampu sejauh 40 mil yang dinyalakan selama 24 jam. Mercusuar Tanjung Kalian terdiri dari 16 lantai dengan ratusan anak tangga beton, dan pada 2 lantai terakhir berupa tangga berbahan kayu. Pada setiap lantai terdapat lubang sirkulasi udara berdiameter sekitar 30 cm. Puncak mercusuar berbentuk balkon selebar 0,5 meter yang mengelilingi bangunan utama dan dikelilingi dengan pagar setinggi 50 cm.

Mercu suar Tanjung Kalian berfungsi memandu kapal dari gugusan karang Hadjie dan karang Bram Bram di wilayah alur pelayaran Selat Bangka atau pada posisi Utara dan Selatan Kota Mentok.

Selanjutnya dibangun mercusuar di bagian Barat Utara pulau Bangka yaitu Mercusuar Tanjoeng Oelar. Secara geografis Tanjung Oelar terletak di antara sungai Biat, Tanjung Bunut, Tanjung Air Mas sampai ke wilayah Teluk Jebus (Bay of Jeboos/Teboos) pada sisi Timur Laut, dan sungai Biang, Tanjung Betumpa, Tanjung Batu Besayap (ada juga menyebutnya Tanjung Bersiap) pada sisi Barat Lautnya. Pada sisi Tenggara Tanjung Oelar terdapat gugusan bukit (sering disebut gunong) Dulang Pecah, Menumbing dan Koekoes. Salah satu keunikan gunong yang ada di pulau Bangka, umumnya memiliki wilayah kaki bukit yang berbatasan langsung dengan wilayah pesisir pada laut. Pada wilayah geografi Tanjoeng Oelar banyak terdapat gugusan bebatuan karang.

See also  29 Juni 1884, Akhir Pemerintahan Residen Bangka Charles Matthieu George Arinus Marinus Ecoma Verstege.

Tanjoeng Oelar merupakan tanjung yang berada pada posisi cukup tinggi, baik dari laut maupun dari daratan di sekitarnya. Pada posisi puncak Tanjoeng Oelar kemudian dibangun menara Suar yang oleh orang Mentok disebut menara Suar Lampu Merah (untuk membedakan dengan menara suar Tanjung Kalian) dengan menggunakan rangka besi atau sering disebut dengan mercusuar besi (ijzeren vuurtoren).

Mercu Suar Tanjung Oelar dibangun untuk memandu perjalanan kapal dari banyaknya gugusan karang yang terdapat di sekitar muara sungai Biang di sisi sebelah Barat Laut Tanjung Oelar dan gugusan karang di sekitar Tanjung Air Mas di sisi Timur laut Tanjung Oelar. Dari Tanjung Batu Bersayap/ Bersiap sampai dengan Tanjung Bunut merupakan gugusan karang yang sangat berbahaya bagi alur pelayaran.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan gambar: Mercusuar Tanjung Kelian. Sumber Foto istimewa

Comments

comments