30 Juli 1965, Terbakarnya Kapal KM BT-32 dan Gugurnya Bupati Bangka Mayor Syafrie Rachman.

IMG_20260730_114623

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC *)


Pada masa Bupati Bangka dijabat oleh Mayor Syafrie Rachman (periode 17 Juli 1963 hingga 30 Juli 1965), terjadi peningkatan suhu politik di Pulau Bangka dengan berkembang dan berebut pengaruh simpati masyarakat dari beberapa partai politik yang telah berdiri sejak kemerdekaan berdasarkan Maklumat Pemerintah Tanggal 3 November 1945.

Partai politik yang tumbuh dan berkembang di Pulau Bangka seperti Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Masyumi, Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Nahdhatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selain partai-partai politik berkembang juga Dua organisasi sosial yang dibentuk di Pangkalpinang yaitu Serikat Rakyat Indonesia (SRI) dan Kebaktian Rakyat Indonesia Bangka (KRIB).

Para anggota SRI adalah orang-orang Indonesia Non-Bangka, yang mula-mula bertujuan sosial dan ekonomi tetapi mengarah ke politik, memperlihatkan sikap yang pro republik.

KRIB, kemudian juga berkembang dengan mendirikan satu partai, yaitu Partai Serikat Nasional Indonesia (SENI). KRIB dan SRI menghendaki anggota-anggotanya bergabung dengan SENI yang juga menyerap unsur-unsur Partindo yang ada sebelum perang (Erman, 2009:210-211).

Kemudian di Pulau Bangka berdiri juga serikat-serikat buruh yang umumnya berafiliasi dengan partai-partai politik pada masa itu, misalnya Serikat Buruh Islam Indonesia yang berafiliasi pada Partai Nahdhatul Ulama (NU), Sarbumusi yang berafiliasi ke Partai Masyumi dan SBTI berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pertentangan antar Serikat-serikat buruh semakin menguat di Pulau Bangka terutama setelah pelaksanaan Pemilihan Umum Tahun 1955. Puncak pertentangan ideologi politik dan organisasi buruh yang berafiliasi dalam partai partai politik di Pulau Bangka terjadi menjelang dan saat meletusnya peristiwa G 30 S PKI Tahun 1965.

See also  AWANG, Panglima Perang Depati Amir Paling Ditakuti Belanda.

Salah satu korban konspirasi politik PKI adalah gugurnya Bupati Bangka, Mayor Syafrie Rachman ketika kapal KM BT-32 yang ditumpangi terbakar akibat sabotase orang-orang PKI dalam perjalanan dari Mentok menuju Palembang pada Hari Jumat Tanggal 30 Juli 1965 (Rachman, 2010:136,137).

Mayor Syafrie Rachman adalah putra Bangka, lahir di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, pada 15 November 1926. Gelar Mayor didapat Syafrie ketika bertugas di TNI Angkatan Darat. Syafrie kemudian menjabat Bupati Bangka menggantikan H. Achmad Rasjidi.

Pada tanggal 30 Juli 1965, Bupati Bangka Syafrie Rachman mendapat undangan dari Gubernur Abujazid Bustomi di Palembang. Beliau berangkat menggunakan KM BT-32 milik Bea Tjukai. Mayor Syafrie berangkat bersama rombongan dan tim kesenian dari Pulau Bangka, termasuk istrinya Nik Kurniasih. Bupati Bangka Syafrie meninggal dunia bersama 7 orang lainnya yaitu, Nyonya Saleh Zainuddin (istri Wali Kota Pangkalpinang), Nyonya Aisyah, Itjan Saleh (Jaksa), Surya Mahyudin, Indra Mahyudin (putra Kajari), Temmy Iskak, dan T Sarumpaet.

Dalam peristiwa kapal KM BT-32 yang disabotase PKI. Istri Mayor Syafrie, berhasil selamat bersama rombongan lainnya. Korban selamat lainnya adalah Komandan Kodim Bangka Tafsil Chotob dan istrinya, serta sepuluh anggota rombongan. Mereka ditolong KM Sinar Musi yang kebetulan melewati jalur itu.

Berdasarkan sidang di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, diketahui bahwa CC PKI Bangka menugaskan Ketua Sub Seksi PKI Mentok Nurzab Tanwin untuk melakukan sabotase. Jika tugas berhasil, CC PKI Bangka akan memberikan hadiah uang Rp 1,5 juta dan mobil sedan untuk pelaku sabotase. Aksi juga diketahui oleh CC PKI di Jakarta. Sebelumnya Sekretaris CC PKI Bangka, Fung Liong Sen kembali dari Jakarta pada Juli 1965. Selanjutnya, Fung Liong Sen menyampaikan kepada Anggota CC PKI Bangka Ngadiman tentang rencana meretool atau menjatuhkan Bupati Syafrie yang telah disetujui oleh CC PKI Jakarta.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #107, Masjid Nurul Falah, Dalil.

Syafrie Rachman gugur di Selat Bangka korban dari konspirasi politik PKI, beliau menjadi target PKI lantaran sikap, keputusan-keputusan, dan kebijakan sebagai kepala daerah yang tidak mengakomodir kepentingan dan keinginan PKI. Sikap berlawanan PKI kepada Syafrie Rachman diperlihatkan secara terbuka. Bahkan dalam sejumlah pertemuan, PKI selalu melancarkan kritik untuk menjatuhkan Bupati. Kemudian Bupati Bangka menjadi target karena tidak memasukkan wakil PKI dalam keanggotaan Badan Pemerintah Harian (BPH) Kabupaten Bangka. Bupati juga dianggap merintangi program-program PKI, misalnya terkait kenaikan harga minyak tanah dan manipulasi beras.

Selang sehari kemudian, jenazah Bupati Bangka Mayor Sjafrie Rachman dikebumikan di Makam Pahlawan Pawitralaya Kota Pangkalpinang. Untuk mengenang jasanya, nama Mayor Syafrie Rachman diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah wilayah di Bangka, serta nama rumah sakit di Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka.


*Keterangan gambar: ilustrasi kronologis peristiwa sabotase KM.BT 32 di Selat Bangka Jumat 30 Juli 1965,
Sumber: Buku Pemimpin di Tengah Rivalitas Politik, Biografi Syafri Rachman, 2010, hal.135

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments