Dengan Perahu Layar Dari Bakit Ke Belinyu, Buddingh Terpesona Luasnya Teluk Kelabat dan Pulau Pulau Yang Indah.

KapalKerukDiBelinyusekitartahun1914-1919Sumber_Rijksmuseum.nlpew_20260808_135109_000

Oleh: Meilanto


Di Bakit, Buddingh melihat perahu layar yang dikirim dari Belinyu untuk menjemputnya. Selain itu, ia melihat semut merah besar (serangga) dan semut hitam. Simak tulisannya pada bukunya yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 pada halaman 44-45.

Middelerwijl de beide pelgrims tusschen Jeboe s en Blienjoe zoo druk op en neder stapten, werd mijne aandacht getrokken door legioenen van groote roode mieren (kranga) en vooral ook van groote zwarte mieren (semoet). De zwarten hadden vaak eene lengte van een’ duim, en liepen in lange cindelooze rijen achter elkander dwars over den weg. De roode mieren daar-entegen hadden bijkans in alle boomen langs den weg en tegen de stammen op smalle overdekte gangen van klei-aarde ge-
maakt, die tot in de toppen of kruinen doorliepen. Door die naauwe gangen of loopgraven van misschien ‘ duim breed en
i duim hoog, daalden ze aanhoudend naar beneden af in het bosch, of klommen ze over de wortels heen aanhoudend naar de kruinen der boomen op, – en die elkander beneden tegen-kwamen, raakten elkander, volgens standvastig mierengebruik, altijd even met de sprieten of voelhorens aan, alsof ze elkander iets mededeelden of influisterden, en vervolgden dan weder.haren weg. Onder de rijen der zwarte mieren zag men er, waarvan elke mier een klein wit pluisje of pakje in den bek droeg, en de inlanders zeggen, dat deze pakjes gedeelten zijn van den voorraad der levensmiddelen, die de mieren in hare onderaardsche magazijnen gewoonlijk verzamelen en bewaren, en die, als ze door den regen nat geworden zijn, door de leden der mieren-republiek in lucht en wind gedroogd worden of wel naar drooge provisickamers worden overgebragt.

Maksudnya
Sementara kedua pembawa barang berjalan mondar-mandir dengan sibuk di antara Jeboes dan Blienjoe, perhatian saya tertarik oleh ribuan semut merah besar (kranga/ serangga) dan terutama juga semut hitam besar (semoet). Semut hitam itu sering kali memiliki panjang satu inci, dan berjalan dalam barisan panjang yang tak berujung satu demi satu melintasi jalan.

See also  13 Juni 1817, Keputusan Pemberhentian Residen Bangka, K. Heynis Karena Melakukan Kesalahan Berat

Sebaliknya, semut merah hampir di semua pohon di sepanjang jalan dan pada batang-batangnya telah membuat lorong-lorong tertutup sempit dari tanah liat, yang membentang hingga ke puncak atau tajuk pohon. Melalui lorong-lorong sempit atau parit jalan setapak yang mungkin selebar setengah inci dan setinggi satu inci itu, mereka terus-menerus turun ke bawah menuju hutan, atau memanjat melewati akar-akar terus ke atas menuju tajuk pohon—dan ketika berpapasan di bawah, mereka selalu saling menyentuh dengan antena atau peraba, sesuai kebiasaan semut yang tak berubah, seolah-olah saling menyampaikan sesuatu atau berbisik, lalu melanjutkan perjalanannya kembali.

Di antara barisan semut hitam itu terlihat beberapa di antaranya membawa gumpalan putih kecil atau bungkusan di mulutnya, dan penduduk setempat mengatakan bahwa bungkusan ini adalah bagian dari persediaan makanan yang biasanya dikumpulkan dan disimpan semut di gudang bawah tanah mereka, dan yang, setelah basah oleh hujan, dikeringkan di udara dan angin oleh anggota koloni semut, atau dipindahkan ke ruang penyimpanan yang kering.

Kemudian ia menulis lagi:
Te Bakit vond ik een sloep, welke de Administrateur van Blienjoe gezonden had om mij af te halen. Het zeil werd bijgezet, en haastig stevende het ranke vaartuig over de zilveren golfjes der brecde en schoone Klabat-baai, in welker.midden eenige eilanden, als Poeloe—boerong, Poeloe -kambing , Poeloe-Lahoe , Poeloe—Tinam, Poeloe-Ananas, Berri-berri, en anderen zich teekenachtig voordoen, en die mij een schoon uitzigt schonk op de bergen en bergjes Marras, Selok, Patja en Boekiet-Betong , en het hooge zuidelijke heuvelland. Zuidwaarts-op sturende, zag ik van digtbij het eiland Poeloc-biri of berri, hetwelk voor de monding der Antan-rivier ligt, en had weldra de monding of kwala der Soengi-Blienjoe bereikt. Deze rivier werd gedeeltelijk opgezeild, en wel tot daar, waar de lage, soms met nipa begroeide, oevers aan weerszijden door bosschen bezoomd werden , die den wind onderschepten, zoodat van toen af de riemen te water moesten gelegd worden. Van lijd tot tijd dreven we voorbij eenige geïsoleerde huisjes, of soms kleine buurten en gehuchten, in het midden van kokos-, sago- en pinang-palmen en pisang-struiken verscholen, en veelal bewoond door de visschers, die in de Klabat-baai de talrijke schildpadden en de Bawal-, Kakap – en Tenirie-visschen vangen, welke zich in deze baai zoowel als in de rivier van Koerouw ophouden, – of door de lieden, die op de banken, kusten en.reven oesters, garnalen, kreeften en tripang zoeken, of ook de schoone Conchyliën verzamelen, welke de kusten opleveren, en waaronder ook de boorschelp voorkomt, welker weekdier volgens berigten gedroogd en door de inlanders gaarne gegeten wordt.

Maksudnya
Di Bakit saya menjumpai sebuah perahu layar yang telah dikirimkan oleh Pengelola Blienjoe untuk menjemput saya. Layar segera dibentangkan, dan perahu ramping itu berlayar cepat menembus riak keperakan Teluk Klabat yang luas dan indah. Di tengah teluk ini, beberapa pulau seperti Pulau Burung, Pulau Kambing, Pulau Lahoe, Pulau Tinam, Pulau Nanas, Berri-berri, dan lainnya tampak mempesona, serta menghadirkan pemandangan indah ke arah pegunungan dan bukit-bukit Marras, Selok, Patja, Bukit Betong, serta dataran perbukitan tinggi di sebelah selatan.

See also  24 April 1811, Berakhirnya Pengaruh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di Pulau Bangka.

Saat mengarahkan perahu ke selatan, saya melihat dari dekat Pulau Biri atau Berri yang terletak di depan muara Sungai Antan, dan tak lama kemudian tiba di muara Sungai Blienjoe. Kami berlayar menyusuri sungai ini hingga ke titik di mana tepiannya yang rendah—kadang ditumbuhi tanaman nipah—dikelilingi hutan di kedua sisinya yang menghalangi angin, sehingga mulai saat itu kami harus mendayung.

Sesekali kami melewati rumah-rumah yang berdiri terpisah, atau kelompok perumahan kecil yang tersembunyi di antara rumpun kelapa, sagu, pinang, dan pisang. Tempat-tempat ini sebagian besar dihuni oleh nelayan yang menangkap penyu dalam jumlah banyak, serta ikan bawal, kakap, dan teniri (?) yang hidup di Teluk Klabat maupun di Sungai Koerouw.

Ada juga penduduk yang mencari tiram, udang, kepiting, dan teripang di gundukan pasir, pesisir, dan terumbu karang, atau mengumpulkan beragam cangkang kerang indah yang ditemukan di pantai—termasuk cangkang kima (k) yang menurut kabar dagingnya dikeringkan dan sangat disukai penduduk setempat.


Foto : Baggerschuit van de Banka-Tindinsting op Stroomlop Bankawaee te Blinjoe. Ca. 1914-1919
Sumber : Rijksmuseum.nl

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments