Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 1)

IMG_20261001_192031

Editor : Meilanto


Perusahaan Pengolahan Air Pangkalpinang (W.B.P.) memulai operasinya dalam skala kecil pada paruh kedua Februari 1932. Kini, tahun operasi parsial pertama akan berakhir pada akhir tahun 1932, sebuah tonggak sejarah telah tercapai, sehingga bermanfaat dan perlu untuk sejenak berhenti dan mencatat dalam sebuah buklet tercetak detail terpenting mengenai perusahaan dan peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Hal ini memberikan gambaran umum yang membuat pencarian melalui catatan lama menjadi tidak perlu atau mempermudahnya terkait poin-poin terpenting, sekaligus berfungsi sebagai semacam panduan untuk manajemen perusahaan.

Sejauh yang dapat dikumpulkan dari data yang tersedia, upaya pertama untuk menyediakan pasokan air minum terpusat bagi ibu kota Pangkalpinang dilakukan pada awal tahun 1926 oleh Residen Banka saat itu, Bapak J. E. EDIE, bersama dengan Kepala Pejabat Pengelolaan Air, arsitek J. J. VAN HOUT.

Menurut surat dari Residen tersebut tertanggal 13 April 1926, No. 641/W, pembangunan pasokan air minum pusat untuk Muntok selanjutnya dibahas pada bulan itu dengan Kepala Bankatinwinning saat itu, Ir. J. G. BIJDENDIJK; manajer tersebut telah mulai mengerjakan desain untuk peningkatan pasokan air minum Muntok dan telah melakukan beberapa survei untuk tujuan tersebut. Pada bulan yang sama, rencana Muntok dibahas oleh Residen di Batavia di departemen sanitasi Departemen Pekerjaan Umum Sipil (B.O.W.).

Sebagai tanggapan atas semua ini, berdasarkan keputusan Kepala Layanan Kesehatan Masyarakat (D.V.G.) tertanggal 18 September 1926, No. 14852/G (departemen sanitasi sementara itu telah dipindahkan dari Departemen B.O.W. ke D.V.G.), Bapak Ir. J. G. STUYFZAND dan Ir. K. HOLWERDA diinstruksikan untuk pergi ke Muntok untuk melakukan investigasi lokal mengenai lokasi pengambilan air dan kualitas air tersebut.

Kehadiran para pria tersebut tampaknya dimanfaatkan pada saat itu; dokumen-dokumen tersebut tidak memberikan indikasi lebih lanjut mengenai hal ini untuk melakukan survei air untuk pasokan air minum Pangkalpinang, di mana lokasi pengambilan air telah dipilih di sekitar dan di sebelah barat Wadoek besar yang terletak di Pangkalpinang, terbentuk akibat penggalian untuk penambangan timah; wadoek ini menerima airnya dari Sungai Rangkoei, yang memiliki daerah aliran sungai sekitar 40 km di hilir wadoek.

See also  Dari Belinyu Buddingh ke Sungailiat, Melewati Kampung Panji.

Setidaknya, pada bulan Oktober 1926, laporan dikeluarkan oleh Stasiun Penelitian Pemurnian Air di Manggarai mengenai hasil penelitian air di Pangkalpinang dan Muntok (tertanggal 6 dan 13 Oktober 1926, No. 630 P. W. dan 635 P. W., masing-masing).

Muntok menerima pasokan air minumnya, yang selesai pada tahun 1930, sementara terjadi stagnasi dalam pembangunan pasokan air minum pusat di Pangkalpinang karena air dari wadoek, meskipun mungkin dapat digunakan untuk tujuan tersebut, memiliki berbagai sifat yang tidak menguntungkan, sehingga laporan terkait merekomendasikan pencarian sumber air lain yang lebih sesuai.

Sementara itu, data dikumpulkan mengenai jumlah rumah dan jumlah sambungan yang mungkin ada di antara penduduk Tionghoa di Pangkalpinang (informasi yang diberikan oleh Kepala komunitas Tionghoa pada 21 Juni 1927), dan penilaian umum dibuat mengenai pembiayaan. Menurut catatan lepas yang tersedia, mereka mengandalkan sejumlah uang tanpa bunga yang akan diperoleh dari Dana Lokal dan komunitas Tionghoa, subsidi dari Pemerintah, dan pinjaman dari komunitas pribumi.

Sebagaimana dibuktikan oleh catatan yang dibuat sendiri oleh Residen J. E. EDIE pada 3 Maret 1928, rencananya adalah untuk mengajukan proposal baru mengenai rencana penyediaan air untuk Pangkalpinang, dan E. A. W. diminta untuk memberikan berbagai data, termasuk kepadatan penduduk berdasarkan kelompok populasi (Eropa, pribumi, dan Oriental Asing) dan aliran air selama bulan-bulan kering (sumber lokasi pengambilan air tidak disebutkan), dll.

Sementara itu, baik Residen J. E. EDIE (Mei 1928) maupun arsitek J. J. VAN HOUT (Februari 1928) mengundurkan diri, dan rencana untuk pasokan air minum pusat Pangkalpinang diajukan kembali kepada D.V.G. oleh Residen yang menjabat pada Juni 1928, Bapak D. G. HOOYER, dalam surat tertanggal 22 Agustus 1928 No. 2078/W.

Dalam surat itu dinyatakan bahwa Yang Terhormat A.W., arsitek P. VAN DER HEYDEN, setelah memperoleh informasi dari dinas topografi, melakukan ekspedisi ke Gunung Mangkol dan Dua Ajam, masing-masing pada ketinggian 397 M dan 378 M, di mana dalam ekspedisi tersebut ditemukan aliran sungai pegunungan, Aer Baik, dengan air yang jernih, yang laju alirannya diperkirakan 40 liter per detik pada ketinggian +80 M. Pangkalpinang terletak 18 M.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 65, Masjid Lama, Airbara.

Sampel air juga dikirim ke Batavia dan dinyatakan bahwa, berdasarkan hasil yang menguntungkan dari Penelitian air akan dilakukan; langkah-langkah yang diperlukan akan diambil untuk melakukan pengamatan aliran dan curah hujan serta survei medan.

Pengamatan aliran dimulai segera setelah itu, dan pada tahun 1928, selama bulan terkering dalam setahun, September, laju aliran sebesar 38 L/detik tercatat.

Pengamatan ini dilanjutkan secara teratur, dimulai pada Oktober 1928, sementara data lain dikumpulkan dan survei dilakukan, dan orientasi lebih lanjut mengenai pembiayaan dilakukan.

Ternyata Kepala Bankatinwinning (surat tanggal 27 Juli 1929, No. 7616) bersedia menyumbangkan sejumlah ƒ 75.000 atas nama perusahaan untuk biaya pembangunan pipa air pada awal tahun 1930. Dalam surat (15 Juli 1929 No. 482 P. W.) dari Kepala Stasiun Eksperimental Pemurnian Air di Manggarai, diterima laporan mengenai hasil analisis air Aer Baik, yang ternyata menguntungkan.

Selama diskusi yang diadakan di Batavia pada Januari 1929 oleh Residen D.G. HOOYER di departemen teknik D.V.G., disepakati bahwa semua data yang diperlukan untuk menyusun dokumen desain untuk penyediaan air minum yang dimaksud akan dikirim ke departemen tersebut, setelah itu dokumen desain akan disusun di sana.

Melalui surat dari Residen Banka dan Wilayah Dependensi tertanggal 10 Oktober 1929, No. 2020 W., semua data ini telah disampaikan kepada Kepala D.V.G., dan secara bersamaan satu set lengkap kepada Direktur B.O.W., dengan permintaan untuk mengalokasikan dana sebesar 115.000 guilder dalam rencana kerja tahun 1930 untuk pekerjaan ini, yang biaya sementara diperkirakan sebesar 230.000 guilder.

Selanjutnya, langkah-langkah diperlukan untuk melindungi daerah aliran sungai Aer Baik dari penggundulan hutan, untuk mencegah penurunan aliran air. Bagaimanapun, seluruh rencana pasokan air minum akan berhasil atau gagal tergantung pada apakah pengambilan air dari Aer Baik tetap utuh atau tidak. Dengan dekrit Residen B. dan O. tertanggal 17 Oktober 1929, No. 601, maka ditetapkanlah ketentuan yang bertujuan untuk melestarikan hutan di daerah sumber Aer Baik dan perbukitan sekitarnya.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #130, Masjid Al Ikhlas, Silip

Prosesnya berjalan cepat, berkat kerja sama yang lancar dari departemen teknik D.V.G. dalam menyusun dokumen desain, yang telah disampaikan kepada Residen B. dan O. melalui surat tertanggal 7 Maret 1930, No. 6982/G; dokumen tersebut disusun berdasarkan data yang diterima dari Pangkalpinang dan dikumpulkan oleh arsitek P. VAN DER HEYDEN, yang dianggap sangat komprehensif dan jelas sehingga survei lapangan sebelumnya oleh seorang ahli dari departemen teknik tersebut tidak diperlukan. Anggaran yang dialokasikan sebesar 360.000 guilder.

1*) Secara keliru disebut sebagai Aer Bait dalam dokumen-dokumen tersebut.


Bersambung


Foto : Cover Buku WATERLEIDINGBEDRUF PANGKAL PINANG
ULTIMO
1932

Catatan: Naskah ini dikutip dari buku WATERLEIDINGBEDRUF PANGKAL PINANG, Tahun 1932

Related Images:

Comments

comments