Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 1)
Jelajah Bangka 2 October 2026
Editor: Meilanto
***
Perusahaan Pengolahan Air Pangkalpinang (W.B.P.) mulai beroperasi dalam skala kecil pada paruh kedua Februari 1932. Menjelang akhir tahun itu, sebuah tonggak penting telah tercapai. Untuk mendokumentasikan perjalanan perusahaan, disusunlah sebuah buklet yang memuat sejarah pendirian, berbagai peristiwa penting, serta perkembangan proyek penyediaan air bersih di Pangkalpinang.
Gagasan membangun sistem penyediaan air minum terpusat di Pangkalpinang pertama kali muncul pada awal 1926. Upaya ini diprakarsai oleh Residen Bangka saat itu, J. E. Edie, bersama arsitek J. J. van Hout, yang menjabat sebagai Kepala Pengelolaan Air.
Pada April 1926, pembahasan mengenai penyediaan air minum untuk Muntok juga dilakukan bersama Kepala Bankatinwinning, Ir. J. G. Bijdendijk. Saat itu, ia telah menyusun rancangan peningkatan pasokan air di Muntok dan melakukan sejumlah survei. Rencana tersebut kemudian dibahas lebih lanjut di Batavia, melalui Departemen Sanitasi pada Departemen Pekerjaan Umum Sipil (B.O.W.).
Menindaklanjuti pembahasan itu, pada 18 September 1926, dua insinyur, Ir. J. G. Stuyfzand dan Ir. K. Holwerda, ditugaskan melakukan penelitian langsung ke Muntok. Mereka diminta menyelidiki lokasi pengambilan air serta kualitasnya.
Kesempatan tersebut tampaknya juga dimanfaatkan untuk meneliti sumber air bagi Pangkalpinang. Saat itu, pilihan jatuh pada sebuah waduk besar di sebelah barat kota, yang terbentuk dari bekas penggalian tambang timah. Waduk tersebut mendapat pasokan air dari Sungai Rangkoei, dengan daerah aliran sungai sekitar 40 kilometer di bagian hulu.

Hasil penelitian air di Pangkalpinang dan Muntok kemudian dilaporkan oleh Stasiun Penelitian Pemurnian Air di Manggarai pada Oktober 1926. Namun, rencana penyediaan air bersih di Pangkalpinang belum dapat dilanjutkan. Meski air waduk dinilai mungkin bisa dimanfaatkan, sejumlah sifat airnya dianggap kurang menguntungkan. Karena itu, disarankan untuk mencari sumber air lain yang lebih sesuai.
Berbeda dengan Pangkalpinang, proyek penyediaan air minum di Muntok akhirnya berhasil diselesaikan pada 1930.
Sementara itu, berbagai persiapan untuk proyek Pangkalpinang terus dilakukan. Data mengenai jumlah rumah dan kemungkinan sambungan air, khususnya di lingkungan masyarakat Tionghoa, mulai dikumpulkan. Perhitungan awal pembiayaan juga disusun, dengan mengandalkan dana tanpa bunga dari Dana Lokal dan komunitas Tionghoa, subsidi pemerintah, serta pinjaman dari masyarakat pribumi.
Pada Maret 1928, Residen J. E. Edie kembali merencanakan pengajuan proposal baru. Sejumlah data tambahan diminta, mulai dari kepadatan penduduk berdasarkan kelompok masyarakat hingga debit air pada musim kemarau.
Namun, sebelum rencana itu berkembang lebih jauh, Edie mengundurkan diri pada Mei 1928. Arsitek J. J. van Hout juga telah meninggalkan jabatannya pada Februari tahun yang sama.
Kelanjutan proyek kemudian berada di tangan Residen D. G. Hooyer. Melalui surat tertanggal 22 Agustus 1928, ia kembali mengajukan rencana penyediaan air minum Pangkalpinang kepada Dinas Kesehatan Masyarakat (D.V.G.).

Dalam laporan tersebut, arsitek P. van der Heyden mengungkapkan hasil ekspedisinya ke Gunung Mangkol dan Dua Ajam, yang masing-masing memiliki ketinggian 397 meter dan 378 meter. Dari kawasan pegunungan itu ditemukan aliran sungai bernama Aer Baik, dengan air yang jernih dan debit diperkirakan mencapai 40 liter per detik pada ketinggian sekitar 80 meter. Sebagai perbandingan, Pangkalpinang berada pada ketinggian sekitar 18 meter.
Sampel air Aer Baik dikirim ke Batavia untuk diteliti. Hasil awalnya cukup menggembirakan. Penelitian lanjutan pun direncanakan, disertai pengamatan debit air, curah hujan, dan survei medan.
Pengamatan debit segera dilakukan. Pada September 1928, bulan terkering sepanjang tahun, aliran Aer Baik tercatat mencapai 38 liter per detik. Pengukuran kemudian dilanjutkan secara rutin sejak Oktober, bersamaan dengan pengumpulan data teknis dan kajian pembiayaan.
Hasil penelitian kualitas air Aer Baik juga menunjukkan hasil yang baik. Dalam surat tertanggal 15 Juli 1929, Kepala Stasiun Penelitian Pemurnian Air di Manggarai menyampaikan laporan analisis yang menyatakan bahwa air tersebut layak dipertimbangkan sebagai sumber air minum.
Dukungan pembiayaan mulai terlihat. Kepala Bankatinwinning, melalui surat tertanggal 27 Juli 1929, menyatakan kesediaannya menyediakan dana sebesar 75.000 gulden untuk pembangunan jaringan pipa air pada awal 1930.
Pada Januari 1929, Residen Hooyer telah membahas proyek ini bersama Departemen Teknik D.V.G. di Batavia. Disepakati bahwa seluruh data yang diperlukan akan dikirimkan untuk penyusunan rancangan teknis.

Langkah itu kemudian ditindaklanjuti melalui surat Residen Bangka dan Wilayah Dependensi tertanggal 10 Oktober 1929. Seluruh data diserahkan kepada Kepala D.V.G. dan Direktur B.O.W., sekaligus disertai permohonan alokasi anggaran sebesar 115.000 gulden dalam rencana kerja tahun 1930. Saat itu, total biaya proyek diperkirakan mencapai 230.000 gulden.
Selain persoalan teknis dan pembiayaan, kelestarian sumber air Aer Baik juga menjadi perhatian. Kawasan hutan di sekitar daerah aliran sungai harus dilindungi agar tidak mengalami penggundulan yang dapat mengurangi debit air. Keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada terjaganya sumber air tersebut.
Karena itu, pada 17 Oktober 1929, Residen Bangka dan Wilayah Dependensi mengeluarkan dekrit yang mengatur perlindungan hutan di kawasan sumber air Aer Baik dan perbukitan sekitarnya.
Penyusunan rancangan teknis proyek kemudian berjalan lancar berkat kerja sama dengan Departemen Teknik D.V.G. Pada 7 Maret 1930, dokumen rancangan disampaikan kepada Residen Bangka dan Wilayah Dependensi. Rancangan tersebut disusun berdasarkan data dari Pangkalpinang dan hasil survei arsitek P. van der Heyden.
Data yang terkumpul dinilai begitu lengkap dan jelas sehingga survei tambahan oleh tenaga ahli dari departemen teknik tidak lagi diperlukan. Pada tahap ini, anggaran yang dialokasikan untuk proyek penyediaan air minum Pangkalpinang tercatat sebesar 360.000 gulden.
Bersambung.
Catatan: Dalam sejumlah dokumen, nama sumber air Aer Baik keliru ditulis sebagai Aer Bait.
Foto: Sampul buku Waterleidingbedrijf Pangkal Pinang, 1932.
Naskah ini diolah dari buku Waterleidingbedrijf Pangkal Pinang, terbitan 1932.
