Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 4)

IMG-20261004-WA0012

Editor: Meilanto


B. EKSTRAKSI AIR

Lokasi pengambilan air dipilih di titik pertemuan sungai pegunungan Aer Baik dengan salah satu anak sungainya. Pada lokasi ini, daerah aliran sungai Aer Baik memiliki luas 2,375 km², sedangkan anak sungainya mencapai 0,918 km². Dengan demikian, keseluruhan daerah tangkapan air memiliki luas 3,293 km² (lihat Gambar 3).

Dari hasil pengukuran elevasi, kedua daerah aliran sungai tersebut diketahui memiliki kemiringan yang sangat curam. Kondisi ini membuat kelestarian hutan menjadi faktor yang sangat penting. Penggundulan hutan, dalam waktu relatif singkat, dapat mengurangi nilai dan manfaat sumber air secara drastis. Karena itu, upaya mencegah kerusakan hutan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi perusahaan pengelola air.

Selain data terbatas mengenai sumber air yang telah disebutkan dalam bagian pendahuluan, selama penyusunan proyek juga tersedia hasil pengamatan debit kedua sungai untuk periode Oktober 1928 hingga September 1929. Sayangnya, data curah hujan pada periode tersebut tidak tersedia. Luas daerah aliran sungai pun pada saat itu belum diketahui secara pasti dan baru kemudian diukur berdasarkan peta topografi wilayah yang telah diterbitkan.

Untungnya, tahun 1929 dapat dianggap sebagai tahun yang relatif kering. Setidaknya, demikian menurut kesaksian penduduk Pangkalpinang yang lebih tua, meskipun tahun tersebut tidak tergolong sangat kering.

Dalam kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang, tetap ada kemungkinan debit air turun hingga tingkat yang mengharuskan dilakukannya penjatahan air. Namun, Pangkalpinang, khususnya kawasan Goenoeng Mangkol, memiliki curah hujan yang tersebar hampir sepanjang tahun. Periode kering yang berkepanjangan juga jarang terjadi. Karena itu, gangguan serius terhadap ketersediaan air diperkirakan tidak akan sering terjadi.

Berikut hasil pengamatan debit air, dalam liter per detik, selama periode tersebut.

See also  18 Juni 1908, Peresmian Sekolah Tionghoa di Belinyu Diketuai Oleh Kapitan Tjen Ton Long.
Data debit Aer Baik Gunung Mangkol

Dari angka-angka tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sejumlah data debit Aer Baik tercatat terlalu rendah akibat kebocoran pada sekat pengukur. Sementara itu, pada hari-hari yang diberi tanda huruf “b”, tidak dilakukan pengamatan karena terjadi bandjir (banjir bandang). Adapun tanda hubung menunjukkan bahwa sekat pengukur dalam keadaan rusak.


Seandainya tersedia data curah hujan selama beberapa tahun, catatan debit tersebut tentu akan memiliki arti yang jauh lebih penting. Dari sana, dapat diperoleh gambaran yang lebih baik mengenai kemungkinan debit air pada tahun-tahun yang sangat kering, sekaligus menjadi dasar yang lebih kuat dalam menentukan kapasitas pengambilan air.

Bagaimanapun juga, kondisi daerah tangkapan air yang relatif kecil dan curam menuntut perhatian serius terhadap kelestarian hutan. Pentingnya penghijauan dan pencegahan penggundulan hutan karena itu perlu kembali ditegaskan.

Air dari Aer Baik dan anak sungainya merupakan air permukaan yang secara alami tidak sepenuhnya bebas dari kontaminasi. Namun, kontaminasi tersebut tidak selalu berarti adanya infeksi atau kuman patogen. Jika manusia dan hewan sebisa mungkin dijauhkan dari kawasan tangkapan air, risiko pencemaran dapat ditekan hingga tingkat yang sangat rendah. Meski demikian, demi keamanan, air tetap memerlukan proses pemurnian.

Kondisi geologis Bangka, sebagaimana juga Billiton, menyebabkan kandungan kapur dalam tanah sangat rendah. Akibatnya, air permukaan di kedua pulau tersebut cenderung sangat lunak dan sedikit asam. Hal yang sama ditemukan pada air Aer Baik. Dengan kondisi demikian, komposisi kimianya tidak menimbulkan kekhawatiran berarti.

Karakteristik geologi kedua pulau juga menyebabkan mata air hampir tidak ditemukan. Pada musim hujan, paling banyak hanya terlihat sedikit air yang keluar dari beberapa celah pada massa batuan granit. Celah-celah tersebut umumnya berukuran kecil.

See also  Catatan Perjalanan J.E. Teijsmann, Ahli Botani Berkebangsaan Belanda, Di Pulau Bangka (Bagian 9)

Di lembah-lembah aluvial, tanah juga tidak cukup permeabel. Akibatnya, air tanah umumnya tidak tersedia dalam jumlah memadai ataupun memiliki kualitas yang baik. Gunung Mangkol sendiri tersusun atas formasi granit yang sangat luas. Karena itu, dapat diperkirakan bahwa Aer Baik hanya memperoleh sebagian kecil pasokannya dari mata air-mata air kecil yang tidak berarti dan hampir seluruhnya mengering ketika musim kemarau tiba.

Tidak jauh dari titik pertemuan Aer Baik dengan anak sungainya, kemudian dibangun sebuah bendungan kecil dan sederhana di dekat titik elevasi yang ditunjukkan pada Gambar 3. Bendungan ini dilengkapi pintu air serta saluran pembuangan untuk mengalirkan air menuju instalasi penyaring.


Bentuk medan di lokasi tersebut tidak memungkinkan dibangunnya cekungan atau waduk dengan kapasitas yang besar. Namun, kondisi itu pada saat itu belum dianggap sebagai persoalan serius terkait ketersediaan air selama musim kering.

Sedikit lebih jauh ke hilir sebenarnya terdapat lokasi yang lebih memungkinkan untuk membangun tampungan air yang lebih besar. Namun, untuk itu diperlukan bendungan yang jauh lebih tinggi (thalsperre).

Setelah bendungan kecil tersebut selesai dibangun dan dasar aliran Aer Baik diperlebar semaksimal mungkin—sesuatu yang tidak dapat dilakukan pada anak sungai yang mengalir deras seperti air terjun kecil—terbentuklah sebuah waduk kecil dengan kapasitas sekitar 1.250 m³.

Waduk ini memiliki fungsi penting. Selain meredam kekuatan bandjir atau banjir bandang, sebagian material yang terbawa arus juga dapat mengendap di dalamnya. Namun, karena hanya lapisan air paling atas yang dapat dialirkan menuju sistem penyaringan, waduk tersebut sebenarnya tidak banyak berfungsi sebagai cadangan air.

Masalah lain muncul ketika bandjir terjadi berulang kali. Air menjadi sangat keruh sehingga aliran menuju penyaring sering kali harus dihentikan sementara. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan pengoperasian instalasi penyaring, tetapi juga tidak menguntungkan bagi proses penyaringan itu sendiri.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #105, Masjid Nurul Huda Niknang.

Waduk yang lebih luas dan, terutama, lebih dalam akan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar. Selain mampu menyediakan cadangan air dalam jumlah yang cukup besar, air yang tertampung di dalamnya juga dapat mengalami peningkatan kualitas secara alami melalui berbagai proses kimia dan fisik, termasuk pengaruh aktivitas organisme hewan dan tumbuhan.

Di dalam waduk, berbagai jenis air dapat bercampur, sementara zat-zat organik mengalami oksidasi atau penguraian. Zat-zat lainnya perlahan mengendap di dasar. Proses-proses tersebut membuat air menjadi lebih jernih sekaligus mengurangi jumlah bakteri secara signifikan.

Bersambung


Foto: Stroomgebied van den watervang

Catatan: Naskah ini dikutip dari buku Waterleidingbedrijf Pangkal Pinang, tahun 1932.

Related Images:

Comments

comments