Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 10, Toponimi MENTOK.

IMG_20260525_142449 (1)

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Mentok adalah satu kota tua di Pulau Bangka yang memiliki sejarah yang panjang dan meninggalkan jejak jejak sejarah, masa Kesultanan Palembang Darussalam, masa Inggris, masa Hindia Belanda, masa Jepang terutama saat Perang Dunia Kedua, serta masa Pergerakan Kemerdekaan, khususnya saat agresi Militer Belanda Kedua dan pengasingan pemimpin Republik Indonesia ke Mentok pulau Bangka.

Toponimi atau sejarah penamaan asal usul kata “Mentok” menjadi menarik untuk dipelajari karena penamaannya berdasarkan latar sejarah peristiwa masa Sultan Mahmud Badaruddin 1, berbeda dengan penamaan wilayah geografis lainnya di Pulau Bangka yang umumnya dilatari nama flora dan fauna.

Setelah dinobatkan sultan Palembang pada Tahun 1724, sultan Mahmud Badaruddin I menugaskan menterinya mencarikan tempat tinggal yang disenangi oleh istrinya Zamnah yang bergelar Mas Ayu Ratoe, terutama tempat tinggal buat ibu bapaknya, sanak saudaranya dari segala keturunannya Wan Awang dan Ibrahim.

Selengkapnya E.P. Wieringa, dalam Carita Bangka Het Verhaal Van Bangka Tekstuitga Ve Met Introductie en Addenda, Vakgroep Talen en Culture van Zuidoost-Azië en Oceanië Rijksuniversiteit te Leiden, 1990, halaman 86: “Sebab itu disuruh lihat oleh sultan dengan menterinya. Maka itu Menteripun sudah pigi melihat dari satu tanjung yang dihadapan gunung Menumbing. Maka di situ ditunjukkan oleh Mas Ayu Ratu sendiri itu sanaknya nama Wan Akub yang mengiringkan itu Menteri dari itu tanjung dia sudah tunjukkan dengan Bahasa Siantan banyak dia pakai keluar suaranya “mentok, entok, dan mentok-mentok”, artinya begitu begitu, itu, dan kesana-sana atau begitu begitu”. Sebab itulah baginda sultan dinamakan negeri Mentok dan Tanjung Kalian.

Selanjutnya berdasarkan catatan F.S.A. De Clercq, dalam “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895, halaman 135 dinyatakan: “Daarom noemde de Sultan dat oord MĕnTo’ en de Kaap Kaléan, daar het zand zich naar gelang van den moeson verplaatste (beraleh)-. Hij stelde er Wan Akoeb als hoofd aan, liet er een kampong bouwen en noodigde Abdoel Djabar, die nog te Sijantan was, uit zich met zijn vijf dochters en verdere bloed verwanten aldaar met der woon te vestigen. Herwaarts verhuisd, werd Datoe’ Dalam tot geestelijk opperhoofd van Bangka aange steld , terwijl Wan Akoeb het oppertoezicht had over de tinmijneu, welke door de bewoners onder hunne Patih’s en Batin’s werden ontgonnen”.

See also  Mau lihat padi di Koba, di sini tempatnya!

Maksudnya: “Oleh karena itu, Sultan (Mahmud Badaruddin I) menamai tempat itu “Mĕnto’(منتوء) yang berarti di sana” dan Tanjung Kaléan, karena pasirnya bergeser sesuai dengan musim (beraleh/beralih). Ia menunjuk Wan Akoeb sebagai kepala di sana, membangun sebuah kampung, dan mengundang Abdul Djabar, yang masih berada di Sijantan, untuk menetap di sana bersama kelima putrinya dan kerabat lainnya. Setelah pindah ke sini, Datoe’ Dalam diangkat menjadi kepala spiritual Bangka, sementara Wan Akoeb memiliki pengawasan tertinggi atas tambang timah, yang ditambang oleh penduduk di bawah Patih dan Batin mereka.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan gambar: Menarasuar Tanjung Kalian, Mentok. (DetikTravel)

Comments

comments