Dari Mayang, Buddingh ke Pelangas, Beli Nasi Bungkus.

IMG_20260801_11355

Oleh Meilanto


Setelah dari Kampung Mayang, yang di sana ia membeli kayu sala, Buddingh meneruskan perjalanan ke Kampung Pelangas seperti yang ia tulis pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857  halaman 36:

Deze kampong ligt op 18 palen (of 6 uren gaans) afstands van Muntok, en heeft niets, wat haar van de dorpen, die ik reeds gezien had, onderscheidt. Trouwens de Bankaschc kampongs, – die allen digt aan of bij den hoofdweg liggen en meest 3 à 6 palen van elkander verwijderd zijn, – gelijken, even als hare huisjes, allen op elkander, en schijnen volgens een algemeen plan of vaste adat of gewoonte te zijn aangelegd.

Overal staan de huisjes aan weerszijde van den weg, en bij een grooter of kleiner vierkant, in welks midden de Balei zich verheft, en overal bijkans ziet men musschen (1), zwaluwen en spreeuwen op de daken, en raven, kraaijen (gadnk) en oelong-oelong’s of kieken-dieven, en raja-wali’s of gieren boven de kampongs zweven. Het eenige merkbare onderscheid bestaat in het getal huizen, dewijl men dorpen heeft van 10 à 15, en dorpen van 20 à 30 huizen. De grootste kampongs hebben ongeveer 10 huizen, en bezitten doorgaans een’ Missighiet, dien men in de kleinere dorpen, ofschoon hare bevolking overal Muhamedaansch is, niet aantreft.

Maksudnya
Kampung ini berjarak 18 pal (atau sekitar enam jam perjalanan jalan kaki) dari Muntok, dan tidak memiliki ciri khas yang membedakannya dari kampung-kampung yang telah saya kunjungi sebelumnya.

Sesungguhnya kampung-kampung di Bangka—yang semuanya terletak berdekatan atau di pinggir jalan utama, dan umumnya berjarak tiga hingga enam paal satu sama lain—sangat serupa satu sama lain, demikian pula bentuk rumah-rumahnya; seolah-olah semuanya dibangun menurut tata letak yang sama atau adat istiadat yang telah mapan.

See also  20 April 1876, Surat Direktur Kehakiman, Nomor 2242/4317, Hamzah atau Depati Tjing Pantas Menjadi Mantri Cacar.

Di mana-mana rumah-rumah berderet di kedua sisi jalan, mengelilingi lapangan persegi yang besar atau kecil dengan Balai kampung berdiri tegak tepat di tengahnya. Di atas atap rumah hampir selalu terlihat burung gereja (1), burung layang-layang, dan burung jalak; sementara burung gagak, burung gagak, burung oelong-oelong atau burung pencuri ayam, serta burung raja wali atau burung bangkai melayang berputar di angkasa di atas pemukiman. Satu-satunya perbedaan yang nyata hanyalah jumlah rumahnya: ada kampung yang hanya berisi sepuluh hingga lima belas rumah, dan ada pula yang memiliki dua puluh hingga tiga puluh rumah. Kampung-kampung yang lebih besar biasanya memiliki sebuah surau atau masjid kecil—bangunan yang tidak akan ditemukan di kampung-kampung kecil, meskipun seluruh penduduknya sudah beragama Islam.

(1) Penduduk asli Jawa menyebut burung gereja rumah sebagai burung gereja, diambil dari kata bahasa Portugis igreja yang berarti “gereja”, karena burung ini sangat suka membuat sarang di bawah atap genteng gereja maupun bangunan-bangunan tinggi lainnya. Konon, jenis burung ini mula-mula dibawa dari Belanda bersamaan dengan kedatangan para penjelajah pertama.

Selanjutnya ia menulis:
Ik kocht te Planna s een boenkoes (d. i. een pakje iu een pisangblad gewikkeld) gekookte rijst en eenige, almede in een pisangblad gerolde, gedroogde vischjes, ikan-krissi e geheeten, met wat tjabé en grof keukenzout, desgelijks in een met een’ doorn toegemaakt peperhuisje van pisangblad geborgen, benevens eenige Tjampéda-vruehten, voor mijn diner, en ging met versehe koelie’s weder op reis.

Maksudnya
Di Plannas (Pelangas), saya membeli sebungkus nasi matang yang disebut bungkusan (yakni nasi yang dibungkus daun pisang), serta beberapa ikan kecil kering yang dibungkus pula dengan daun pisang bernama ikan krissie. Di dalamnya turut disertakan cabai dan garam kasar yang disimpan dalam bungkusan kecil dari daun pisang yang ditutup rapat dengan duri, beserta beberapa buah cempedak untuk bekal makan siang saya. Setelah itu, bersama pasukan pengangkut yang baru, saya pun melanjutkan perjalanan kembali.

See also  15 Juni 1819, Pasukan Muntinghe Mengundurkan Diri ke Mentok Setelah Kalah Dalam Perang Palembang (Menteng).

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments