Setiap Tanggal 1 Juni, Peringatan Hari Lahir Pancasila

IMG_20260601_094322

Oleh Dato’ Akhmad Elvian *)


Salah satu tulisan Pancasila (Pantjasila) atau Hidup Pancasila (Pantjasila) yang cukup menarik dan dapat kita baca di Pulau Bangka adalah tulisan pada Tugu Proklamasi di depan Pesanggrahan BTW Mentok.

Pesanggrahan Mentok, sering juga disebut oleh masyarakat dengan Wisma Ranggam. Pesanggrahan BTW menjadi sangat penting pada saat gedung ini ditempati oleh Presiden Sukarno dan Menteri Luar Negeri Agus Salim, masa pengasingan setelah dipindahkan dari Parapat antara tanggal 6 Februari 1949-6 Juli 1949.

Awalnya perundingan-perundingan antara perwakilan Belanda dan Republik Indonesia yang dimediasi oleh PBB dilaksanakan di pesanggrahan Menumbing dan di pesanggrahan BTW Mentok. Bertubi-tubi utusan silih berganti dikirim ke Pesanggrahan Tambang Timah di Mentok. Mereka membujuk Bung Karno untuk mau “bermusyawarah”, suatu istilah asli bangsa Indonesia yang diketahui Belanda dalam memecahkan semua masalah rumit.

Di sinilah kemudian Bung Karno mengucapkan kalimat bersejarah itu: Restore the Republic. Restore Sukarno as President of the Republic Indonesia and I will “musyawarah”. Not before…. (Pulihkan Republik. Pulihkan Sukarno sebagai presiden Republik Indonesia dan saya akan bermusyawarah. Tidak sebelumnya….) (Sujitno, 1996:181).

Dalam otobiografinya, Soekarno (Adams, 1966:390) menyampaikan, bahwa “kompromi terakhir persetujuan Rum-Roiyen berlangsung di meja dapurku di rumah instansi milik pertambangan dimana aku tinggal”. Tentu yang dimaksud rumah itu adalah wisma Ranggam.

Dikemukakan pula bahwa “Van Royen bersedia mengembalikan para pemimpin Republik dan Mohammad Rum bersedia menghentikan kegiatan gerilya Republik. Kedua pihak bermufakat mengadakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag guna membicarakan pengakuan kedaulatan RI”.

Tulisan Pancasila (Pantjasila) pada Tugu Proklamasi di depan Pesanggrahan ditulis dengan rangkaian kata yang indah ditandatangani Wakil Presiden Mohd. Hatta, ditulis: “Proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Kenang-kenang Menumbing, Di Bawah Sinar Gemerlap Terang Tjuatja, Kenang-kenang Membawa Kemenangan, Bangka, Djogdjakarta, Djakarta, Hidup Pantjasila, Bhinneka Tunggal Ika, 17 Agustus 1951 (Drs. Mohd Hatta)”.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #107, Masjid Nurul Falah, Dalil.

Prasasti ditandatangani oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1951, pada saat berkunjung kembali ke Pulau Bangka. Tulisan Hidup Pantjasila, Bhinneka Tunggal Ika, menunjukkan bahwa rakyat Bangka mencintai Pancasila dan sangat menghargai Kebinekaan.

Tulisan Hidup Pantjasila hendaknya menjadikan Pancasila sebagai fundamen filsafat yaitu pikiran sedalam-dalamnya, jiwa, dan hasrat yang menjadi fondasi tempat didirikannya bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila mencadi weltanschauung yaitu pandangan hidup bangsa yang menyatukan cita-cita seluruh rakyat Indonesia.

Soekarno menyebut Pancasila sebagai philosophische grondslag, yang berarti dasar filosofis atau fundamen filsafat.
Pancasila sebagai philosophische grondslag pertama kali disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato bersejarahnya di Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 1 Juni 1945 di Gedung Chuo Sangi In (kini dikenal sebagai Gedung Pancasila). Pidato bersejarah ini yang dijadikan sebagai momentum peringatan Hari Lahirnya Pancasila.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

*Keterangan gambar: Gedung Wisma Ranggam, Mentok.

Comments

comments