25 Oktober 1708, Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago Membuat Kebijakan Pembukaan Parit Penambangan Timah dan Untuk Benteng Pertahanan

Potongan prta

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Pada tanggal 25 Oktober 1708, Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago membuat kebijakan pembukaan Parit yang berfungsi untuk pertambangan Timah dan juga difungsikan sebagai benteng pertahanan pemukiman. Salah satu Parit pertahanan berupa benteng tanah dibangun terletak di sisi Selatan sungai Tagak sebagai cikal bakal Toboali (Oud Toboali=Toboali lama).

Kebijakan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago, meneruskan kebijakan yang sama yang telah dibuat pada masa Sultan Abdurrahman terhadap daerah di Uluan Palembang (Ogan, Komering, dan Mesuji) dan terhadap daerah Sindang lainnya (Bangkakota dan Oelin).

Sultan Abdul Rahman died on 10 December 1706, but the sense of unchanging rule was perpetuated. On 25 October 1708, announcing that he wished everything to be “as good as in the reign of my father,” (Andaya, 1993:127), maksudnya: “Sultan Abdul Rahman meninggal pada 10 Desember 1706, tapi rasa aturan tidak berubah itu diabadikan. Pada Tanggal 25 Oktober 1708, mengumumkan bahwa Ia ingin segalanya untuk menjadi “sebaik di masa pemerintahan ayah saya”, demikian penuturan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago”.

Menurut Buddingh (1861:69). letak Toboali Lama adalah: “In vroeger jaren, en wel tot aan 1819, was de pankal van Toboali meer oostelijk gelegen ter plaatse, die nu nog Oud-Toboili heet, digt bij de kampong Bakon en den berg Nanka” Maksud Buddingh di sini adalah: “Pada tahun-tahun sebelumnya, dan hingga Tahun 1819, pusat Toboali lebih ke Timur di tempat, yang sekarang bernama Old Toboali, terletak dekat kampung Bakon dan Gunung Nanka”.

Kebijakan penggalian Parit yang terletak di sisi Selatan sungai Tagak sebagai parit pertahanan bagi pemukiman penduduk dan untuk penambangan Timah sebagai cikal bakal Toboali (Oud Toboali) bersamaan dengan dimulainya eksplorasi besar-besaran terhadap biji Timah di sungai-sungai di pesisir Barat pulau Bangka sejak Timah ditemukan dalam deposit yang besar seperti sungai Bangkakota dan sungai Olim pada Tahun 1709 Masehi. Tidak hanya Tiga data Tahun 1709, 1710, 1711, penemuan Timah di Bangka, terdapat sejumlah versi bagaimana penemuan Timah di Bangka. Karena kandungan biji Timah mendekati permukaan tanah, Timah tidak sulit untuk ditemukan (Heidhues, 2008:9).

See also  21 April 1950, Kedatangan Perdana Menteri, Dr. Halim di Kota Pangkalpinang.

Dalam catatan M.H. Court Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka: An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, halaman 230,231: “In the district of Toobooallie particularly, the native population have been accustomed, when finding a vein of ore not very deep, to dig a hole, and then scrape the ore out under ground,ø to the extent they found it practicable to, carry on such plan of operation, in their simple manner, which the Malayese,_ in describ- ing, call working like rats. The ground about Toobooallie has been very much undermined in this way, as also that at Rangaw, above Kuppo.”

Maksudnya: “Khususnya di distrik Toobooallie, penduduk asli setempat sudah terbiasa—ketika menemukan urat bijih yang tidak terlalu dalam—untuk menggali lubang, lalu mengeruk bijih tersebut di bawah tanah sejauh yang mereka bisa lakukan dengan cara kerja mereka yang sederhana. Orang-orang Melayu menggambarkan metode operasi ini dengan istilah “bekerja seperti tikus”. Tanah di sekitar Toobooallie telah banyak dikikis dari bawah dengan cara ini, begitu pula dengan tanah di Rangaw, di atas Kuppo”.

Sesungguhnya pada Tahun 1667, diperkirakan Timah dari Bangka untuk pertama kalinya masuk pasaran Amsterdam (Sujitno, 1996:42) (Batavia, Tanggal 25 Januari 1667, Yang Mulia…, Tahun lalu, dst…., Sebagai balast kapal yang kembali pulang ke Negeri Belanda oleh mualim dipakai Timah Malaxse seberat 100.000 pon. Berkat penjelasan dari Utusan Kamar Dagang Amsterdam yang juga ahli mineral karena pernah membuat karya tulis tentang Timah Inggris, kami yakin bahwa Timah itu sangat berharga…dst).

See also  24 Agustus 1867, Besluit pemerintah Nomor 10 Menetapkan Roesin menjadi “Orang Rantean” dihukum kerja paksa ke Padang

*Keterangan gambar:
Potongan A Map of the Island of Banca, by M.H. Court, tertulis Toobooallie di dekat Tanjung Sabong/Sabang dan Old Toobooallie di sisi Selatan Sungai.
Sumber: An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Related Images:

Comments

comments