12 Juni 1949, Sri Sultan Hamengkubuwono IX Kembali Dari Bangka Menuju Batavia.
Admin 12 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Pada hari Minggu tanggal 12 Juni 1949, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Pangkalpinang Bangka, kembali ke Jakarta bersama Muhammad Rum, Menteri Penerangan Moh. Natsir, Sekretaris Negara Mr. AG Pringgodigdo, Dr Halim, Mr Nazir Sutan Pamuntjak dan Baharuddin setelah kunjungan penting dari tanggal 10-12 Juni 1949. Baru keesokan harinya, tanggal 13 Juni 1949 beliau melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.
Dalam konferensi persnya pada hari Selasa, tanggal 14 Juni 1949, Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan kunjungan ke Jakarta (Batavia) dan Bangka cukup memuaskan.

Di samping penyerahan Cek senilai 6 Juta Gulden kepada Sukarno untuk pemulihan Republik Indonesia di Yoyakarta, dilakukan juga penyerahan “Surat Kuasa Kembalinya Ibukota Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta, diserahterimakan oleh Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Medio Juni 1949”.
Tempat diserah terimanya Surat Kuasa kembalinya ibukota pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta dari Ir. Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilaksanakan di Pesanggrahan BTW, dan surat dikonsep oleh Bung Hatta di Pesanggrahan Menumbing, kemudian surat diketik oleh Abdul Gaffar Pringgodigdo.
Penyerahan surat kuasa disaksikan oleh Bung Hatta, Moh. Roem dan Ali Sastroamidjoyo. Tulisan Surat kuasa tersebut kemudian diabadikan pada tugu di Tamansari Pangkalpinang. Tugu kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta di Pangkalpinang pada Bulan Agustus 1951 ketika beliau berkunjung kembali ke pulau Bangka.
Sultan Hamengkubuwono IX menyampaikan kabar kondisi Yogyakarta semakin memburuk karena pemulihan Republik Indonesia di Yogyakarta terus ditunda.
Penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta berlangsung sangat lambat terhitung sejak perintah pengosongan wilayah dimulai pada 2 Juni 1949, sebagaimana berita surat kabar Indische Courant hingga tanggal 28 Juni 1949, beberapa serdadu Belanda masih berlalu-lalang di lapangan udara Kaliurang, Kalasan, dan Maguwoharjo. Mereka menunggu sejak pagi hingga terik matahari sampai sinyal mundur dikomandokan.
Sementara itu dalam Harian Amigoe di Curacao edisi 7 Juni 1949, dijelaskan tentang kondisi menjelang kedatangan para pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta yaitu dihebohkan dengan adanya penyebaran pamflet provokasi berbahasa Indonesia, Jawa dan China setiap hari di sudut-sudut kota Yogyakarta.
Setiap hari petugas patroli melepas dan membersihkan dinding-dinding kota dari pamlet yang memuat kalimat: “Bagilah musuh-musuh kami, Belanda dan Sukarno-Hatta, tebarkan palu dan arit”,
“Saudara-saudara Tionghoa harus mengambil contoh dari rekan-rekan mereka di tanah air, yang berperang melawan Chiang Kai Shek” dan “Jangan percaya Sultan, dia juga teman Belanda.”
Beberapa pamflet tidak ditandatangani dan sebagian ditandatangani oleh komite kebebasan di bawah palu dan arit. Nampaknya simpatisan PKI belum kapok, mereka memanfaatkan situasi dan kondisi untuk memprovokasi masyarakat Yogyakarta.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
