Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #21, Toponimi Pangkalbalam.

Ilustrasi_AI_20260810_090908_000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC.


Pada wilayah geografis Distrik Pangkalpinang terdapat satu Pelabuhan yang dalam peta het Eiland Banka 1819 and de Rivier van Palembang 1821, Phillip Franz von Siebold, Leiden 1832, terdapat gambar Jangkar, menunjukkan adanya pelabuhan di Qualla (kuala) Sungai Merawang/Baturusa. Pelabuhan kemudian diberi toponimi sama dengan nama kampungnya yaitu Pangkalbalam.

Pada masa kekuasaan kesultanan Palembang, Inggris dan Belanda, pelabuhan Pangkalbalam sangat penting bagi district Pangkal Penang karena berfungsi sebagai pangkalan atau pelabuhan pengumpul (feeder point).

Selanjutnya dalam peta yang lebih muda, Resident Bangka en Onderh.Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXVd. Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1931 Auteursrecht Voorbehouden (Stbl 1912 No.600), bahwa pada sisi Barat muara sungai Pangkalpinang terdapat Duanekantoor terletak di sisi Timur Goedang v/d K.P.M.

Peta juga menjelaskan antara kampung Pangkalbalam dihubungkan dengan jalur Trem ke Kantoor v/d Tinwinning melalui kampung Ampoei. Dari Kampung Pangkalbalam, jalur Trem terus sampai ke Goedang v/d K.P.M (Koninklijke Paketvaart Maatschappij dan Smeltcentraat.

Kuala Sungai Merawang/Baturusa di dekat pelabuhan Pangkalbalam menjadi penting dalam sejarah karena pada tanggal 5 Februari 1949 pernah didarati pesawat amphibi Catalina milik Belanda yang membawa Bung Karno dan Haji Agus Salim dari pengasingan di Parapat (danau Toba) untuk kemudian diasingkan ke Mentok setelah Agresi Militer Belanda Kedua, 19 Desember 1948.

Dari pesawat ampibi Catalina, Bung Karno dan Haji Agus Salim dibawa dengan perahu kecil (sampan/kolek) menuju dermaga pelabuhan. Pangkalbalam dalam dialek hakka disebut Conjau,

Toponimi Pangkalbalam berasal dari kata generik Pangkal yang berarti pangkalan/pekalen atau pelabuhan, dan kata spesifik Balam yang berarti pohon atau kayu Balam dan di Pulau Bangka dikenal juga dengan sebutan Kayu Suntai (Palaquium spp.), Pohon Balam menghasilkan getah Balam yang dikenal dengan sebutan getah perca.

See also  Makam A.M. Yusuf Rasidi, Presiden zelfstanding staatkundig eenheid Bangka

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments