BtuGranitRaksasaDiMantungBelinyi_20260810_142905_000

Oleh : Meilanto


Setelah melihat kelenteng besar dan megah di Belinyu, Buddingh ke pasar melihat transaksi. Ia melihat daging rusa, babi, arak Tionghoa, kubis, talas, lobak, dan beberapa sayuran lokal lainnya, ikan kering, kelapa, mangga, serta buah durian dan nangka berukuran raksasa yang dipotong menjadi delapan bagian seperti biasa untuk dijual.

Ada juga pisang yang telah sisir-sisir. Dari pasar ia meneruskan perjalanan ke Tanjung Mantung. Pemandangan dari Tanjung Mantung sangat indah seperti yang ia tulis pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 47-49.

Met wijlen mijn’ gastheer te Blienjoc bezocht ik in den vroegen morgen van den 18 of 19dcn het liefelijke Tanjong Mantong, dat ik bij het oversteken der Klabat-baa i reeds uit de verte gezien had. De dampkring was vochtig en broeijend en de zon scheen fel en heet, de gewone voorboden in den Indischen Archipel van een naderend onweder, dat dan ook niet lang daarna van uit het Lampongsche gebergte op Sumatra over Straat-Bank a trok en boven Banka scheen te willen uitbarsten. Nogtans stegen we te paard, en hadden weldra, langs een’ breeden en belomnierden weg, den geringen afstand van slechts een groot uur gaans afgelegd.

Tanjong-Mantong is een hooge klipachtige vooruitspringende hoek of kaap, waarop
eenige Gouverncments-pakhuizen of magazijnen staan, terwijl op sommige der talrijke en ontzaggelijke rotssteenen, die hier als kolossale Aërolietheu of Metcöor-steenen schijnen neergevallen, of als door Titans en Giganten schijnen op elkander gestapeld te zijn, eenige stukken geschut zijn geplant, waarbij eene wacht van het garnizoen van Blinjoe gestationneerd is, welke de pakhuizen tegen de zeeroovers beschermt, en tevens voor de veiligheid der schepen waakt, welke de rijst voor Blinjoe aanvoeren of de tin van het distrikt komen afhalen, en bij dezen hoek ten anker gaan.

Maksudnya
Bersama mendiang tuan rumah saya di Blienjoe, pada dini hari tanggal 18 atau 19 saya berkunjung ke Tanjung Mantong yang asri, tempat yang sudah saya lihat dari kejauhan saat menyeberangi Teluk Klabat.

Udara terasa lembap dan panas, sementara matahari bersinar terik—tanda yang biasa di Nusantara bahwa badai akan segera datang. Dan tak lama kemudian, badai itu pun bergerak dari pegunungan Lampung di Sumatera melintasi Selat Bangka, seolah hendak meledak di atas Pulau Bangka.

Meski demikian, kami tetap menunggang kuda, dan tak lama kemudian melalui jalan yang lebar dan rindang, kami menempuh jarak yang tidak jauh, hanya sekitar satu jam perjalanan.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #123, Masjid Baitul Mu'min, Desa Ibul.

Tanjung Mantong adalah sebuah tanjung tinggi berbatu karang yang menjorok ke laut, di mana berdiri beberapa gudang atau tempat penyimpanan milik pemerintah. Di antara batu-batu karang raksasa yang bertebaran di sana—seolah jatuh dari langit seperti batu meteor, atau ditumpuk satu sama lain—dipasang beberapa meriam.

Di sini juga ditempatkan pasukan penjaga dari garnisun Blienjoe, yang bertugas melindungi gudang-gudang tersebut dari perompak laut serta menjaga keselamatan kapal-kapal yang membawa beras untuk Blienjoe atau mengambil hasil timah dari distrik ini, yang biasanya berlabuh di dekat tanjung ini.

Kemudian ia menulis lagi:
Van het hooge rotsgevaarte hadden we een prachtig gezigt op de baai en hare eilandjes en hare roei- en zeil-praauwen, – op eenige reusachtige Monoliethen, even als de Dolmen’s of Polmen’s of Kromlech’s der oude Celten of Druïden wonderlijk gegroepeerd, – op de schoone bergen Panjang, Tjinolong , Selok, Patja, Marras en Boekiet-Betong, – op uitgestrekte vlakten, en zelfs in de verre verte en over heu-velen en wouden heen, op Jeboes, op Soengi-liat en de hoofdplaats Muntok. Heerlijker gezigt kan men zich niet voor-stellen, en het plekje, waar we stonden, was zoo romantisch, zoo uitgezocht-liefclijk, als men er veelligt geen tweede in de wijde
wereld vinden kan ! Somwijlen kon ik mij op dit punt verbeelden, dat ik op Jav a was, en nu eens de bergen en bergjes en heuvelen Gongang, Brebes en Simpang, dan weder den Ginding , Haue r en Bandong, hier den Hiedjoe en Asapan, daar den Ilari en Gambier, en ginds den Broeboe of den Arom of den Hi oer, voor mij had, terwijl de vele kronkelende rivieren en riviertjes, die zich in de baai ontlasten of uit de baai landwaarts indringen, mij soms denken deden aan de Datar, of Loessie, of Ambo, of Blongi, of Ello, of wel aan de Segoro, of Aroes, of Dondang, of de Kali-herang, Bodjok, of Bolong en andere stroomen, die in verschillende deden van Java vloeijen. Als zilveren linten of kronkelende slangen gleden ze door de golvende velden en langs de groene oevers heen, en schitterden in den glans der heldere zonnestralen, welke juist den rand eener zware regenwolk kleurden, die zich in het dal- en heuvelland ten zuiden in groote regendroppelen ontlastte, en een groot gedeelte lands met hare donkere schaduw
overtoog, terwijl een ander gedeelte nog een’ stroom van licht van de zonneschijf ontvangen bleef. Het was een van die natuur-tooneelen, zoo als men ze in Indi e zoo dikwerf ziet, en zoo als de gekroonde Bard der gewijde oudheid moet gezien hebben, toen van zijn harp de woorden klonken :  “Hij bedekt de he-melen met wolken en doet de dampen opklimmen van de einden der aarde. Hij zendt de fonteinen uit door de dalen, dat ze tusschen het gebergte heenwaiidelen. Hij drenkt de bergen uit Zijn opperzalen, en de boomen des wouds worden verzadigd. Hij maakt de omgeploegde aarde dronken en Hij maakt ze week door de druppelen, en Zijn voetstappen diuppeleri van vettigheid en bedruppelen de weiden. Hij rekt de hemelen als een gordijn uit, en bedekt zich met het licht als met een kleed! De hemelen verblijden zich, en de aarde verheugt zich, en de velden huppelen! De eilanden verblijden zich en de rivieren klappen met de handen en de zee bruist met hare volheid, en de boomen des wouds juichen en de vogelen geven geluid van tusschen de takken!”

Maksudnya
Dari ketinggian tebing batu yang menjulang itu, kami memandang dengan takjub ke arah teluk beserta pulau-pulaunya, serta perahu dayung dan perahu layar yang berlayar di sana.

See also  24 Juli 1850, Surat Kapten, Doorschodt, No. La. B. No. 96, Kepada Komandan Militer di Pulau Bangka, Pemberontak Amir dan Pasukannya Bertahan di Pako.

Di hadapan mata tampak pula batu-batu raksasa yang berdiri sendiri, tersusun dengan cara yang ajaib persis seperti dolmen, menhir, atau cromlech peninggalan bangsa Kelt atau Druid kuno.

Terlihat pula dengan jelas deretan pegunungan yang indah: Panjang, Tjinolong, Selok, Patja, Marras, dan Bukit Betong, serta dataran yang terbentang luas. Bahkan melampaui bukit dan hutan yang jauh di sana, mata kami menjangkau hingga ke Jeboes, Soengi-liat, dan pusat pemerintahan Muntok.

Sulit membayangkan pemandangan yang lebih indah dari ini! Tempat kami berdiri begitu romantis, begitu memesona dan istimewa, seolah takkan ada yang menyamai keindahannya di seluruh dunia!

Kadang-kadang saya terbayang seolah sedang berada di Jawa: sesaat membayangkan melihat pegunungan Gongang, Brebes, dan Simpang, lalu Ginding, Hauer, dan Bandung; di sini Hiedjoe dan Asapan, di sana Ilari dan Gambier, dan jauh di kejauhan Broeboe, Arom, atau Hioer.

Sementara beragam sungai besar dan kecil yang berkelok, bermuara ke teluk atau mengalir masuk ke daratan, kadang mengingatkan saya pada sungai Datar, Loessie, Ambo, Blongi, Ello, atau Segoro, Aroes, Dondang, Kaliherang, Bodjok, Bolong, dan aliran lain yang tersebar di berbagai penjuru Jawa.

Bagaikan pita keperakan atau ular yang melengkung indah, sungai-sungai itu meluncur melewati padang yang berombak dan sepanjang tepian yang hijau, berkilauan di bawah sinar matahari yang cerah—yang saat itu justru menyinari pinggiran awan hujan lebat.

Awan itu menurunkan butiran hujan deras di lembah dan perbukitan sebelah selatan, menutupi sebagian besar daratan dengan bayangannya yang gelap, sementara bagian lain masih bermandikan cahaya matahari.

Itulah salah satu pemandangan alam yang begitu sering kita jumpai di Hindia Timur, persis seperti yang pasti pernah dilihat oleh penyair agung zaman kuno, saat melantunkan syair dari kecapinya:

See also  6 Agustus 1851, Berdasarkan Surat Nomor 1800, Direncanakan Pemisahan Pemerintahan Antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung Karena Kesulitan Komunikasi

“Ia menutupi langit dengan awan, dan mengangkat uap dari ujung bumi. Ia memancarkan mata air ke lembah, yang mengalir di antara pegunungan. Ia membasahi bukit-bukit dari tempat kediaman-Nya yang tinggi, dan hutan pun menjadi kenyang. Ia membuat tanah yang digarap menjadi subur, melembutkannya dengan rintik hujan; jejak kaki-Nya meneteskan kemakmuran, dan padang rumput pun disiram. Ia membentangkan langit seperti tirai, dan menyelimuti diri dengan cahaya bagaikan pakaian! Langit bersukacita, bumi bergembira, dan ladang-ladang pun bersorak! Pulau-pulau bersorak, sungai-sungai bertepuk tangan, laut bergemuruh dengan segala isinya, pepohonan hutan bersorak, dan burung-burung bersuara di sela-sela ranting!”


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments