12 September1820, Pasukan Belanda dipimpin Kapten Le Jean menuju Mendara untuk menyerang Depati Bahrin
Jelajah Bangka 12 September 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)
Perang rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Bahrin (dalam catatan Eropa sering ditulis Batin Barien) sangat menyulitkan pasukan Belanda. Dalam peperangan Depati Bahrin selalu berpindah-pindah dengan taktik gerilya dari Bangkakota, Kotawaringin, Jeruk dan Menareh/Mendara. Menurut laporan A. Meis, Depati Bahrin lebih senang tinggal di Mendara/Menareh dan tempat berkumpul bajak laut. (Arsip Nasionial (ARNAS-RI) Arsip Daerah Palembang, no.67…hlm.125-169).
Dr. F. Epp, seorang Jerman dalam bukunya “Schilderungen aus Hollandisch-Ostindien” halaman 219 mengatakan:”Der Depatti Barin zeigte sich hier als ein tuchtiger Guerillafuhrer, indem er und sein Sohn, der Depatti Amir, sich stets unsichtbar zu machen wussten, wenn sie in die Enge getrieben waren”
(Depati Bahrin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin gerilya yang ulung; Ia dan puteranya, Depati Amir, selalu dapat menghilang, bilamana mereka terdesak).
Pada minggu pertama Bulan September 1820 tampaknya Depati Bahrin dan panglima yang setia mengikutinya Roessie berada di Sungailiat dan terus berpindah ke Sungai Merawang (Sekarang Sungai Baturusa). Tambang Timah Belanda di Merawang mereka hancurkan dan bahkan mereka membakar kampung Cingal sesaat sebelum kedatangan Letnan Kolonel Keer di Sungai Liat.
Pada tanggal 7 September, Letnan Kolonel Keer berangkat ke Merawang untuk memeriksa sarana pertahanan di sana guna menangkap Depati Bahrin, akan tetapi pasukan Belanda tidak menjumpai pasukan Depati Bahrin yang sudah menuju ke Mendara yang dalam catatan Belanda merupakan sebuah kampung tua dan tempat tinggal favorit Batin Barien, dan telah menjadi tempat berkumpulnya para bajak laut. Tampaknya Pasukan Depati Bahrin telah membangun kekuatan di Mendara.
Mendara atau menareh atau menara adalah kampung tempat lahirnya Depati Amir dan berdiri di sisi kiri anak sungai Mabed (Mabbed river) dan sesudah anak sungai Jade (Dshado river). Dua anak sungai tersebut bermuara di sungai Baturusa dan Mendara terletak dekat tambang Cengal (mines of Tshengal dan Soonwan atau mines of soonwan).
Dalam Kaart van het eiland Banka 1819, Mendara terletak di jalan darat yang menghubungkan wilayah Barat dan Tengah pulau Bangka, menghubungkan Muntok-Rangam-Beloe-Parit Mestan-Ketapie-Ampang-Jatoan-Bacon (Bakung)-Padja Radja Jerorem (Sirem)-Mendara/Menara/Menareh-Toutuna (Tuatunu)-dan Pankalpinang (Elvian, 2019:112).

Franz Epp mengatakan “…Kampong Mandara (8 englische Meilen uber Batturussak, an dem Strome, welchen er beherrscht)….” (Epp,1852:220).
Maksud Epp bahwa kampung Mendara terletak 8 mil Inggris di atas Baturusa, di dekat sungai yang dikuasainya.
Kata”Batturussak” merujuk pada daerah Baturusa di Keresidenan Bangka. Kata “über” dalam konteks geografis lama ini berarti “di atas” atau “wilayah di sebelah hulu sungai Merawang yang sekarang bernama sungai Baturusa”, dan “an dem Strome” berarti “di dekat/di tepi sungai”), “Welchen er beherrscht” adalah frasa dalam bahasa Jerman yang berarti “yang dikuasainya” atau “yang dia kuasai”, maksudnya kampung Mendara dikuasai oleh dia (kata ganti penghubung atau relative pronoun yang berarti untuk objek laki-laki/maskulin tunggal dalam bentuk akkusativ yaitu sosok Depati Bahrin.
Epp menulis ini secara detail karena Dia pernah tinggal dan diberikan kesempatan melukis Depati Bahrin dan keluarga serta pengikutnya di Kampung Mendara pada Tahun 1836.
Saat dikunjungi dan dilukis Depati Bahrin berusia 61 tahun atau setelah peperangan berakhir (lahir sekitar 1775 dan wafat tahun 1848) sedangkan putra sulungnya, Depati Amir pada waktu itu berusia muda sekitar 38 tahun (Amir lahir tahun 1798 dan wafat tahun 1869), sedangkan Hamzah atau Depati Tjing pada saat itu masih kecil berusia sekitar 3-4 tahun sehingga tidak dilukis secara bersamaan.
Akibat perang gerilya Depati Bahrin yang membangun kekuatan di Mendara, Letnan Kolonel Keer kemudian memerintahkan Kapten Le Jean untuk bergerak menuju Mendara pada tanggal 12 September dengan pasukan detasemen yang terdiri dari 80 orang Eropa dan 100 orang Tionghoa dari Soengie-liat (Sungailiat), melalui Laijang (Layang), Manka (Mangka), dan Jemoen (?).
Sementara itu, Kapten Weinrich diperintahkan untuk berbaris menuju tempat yang sama dari Pankal-pinang (Pangkalpinang), melalui Toa-Tono dan Ayer-dingien, dengan membawa detasemen yang terdiri dari 40 orang Eropa dan 50 penduduk asli Bangka. Kedua detasemen tersebut harus bergerak menyerbu Mendara pada pagi hari tanggal 17 September 1820.

Letnan Kolonel sendiri akan memastikan bahwa ia tiba di Mendara pada waktu yang bersamaan dengan Kapten Le Jean dan Weinrich dengan mendayung menyusuri sungai menggunakan perahu-perahu kecil.
Pergerakan terpadu ini berjalan sesuai harapan. Berbagai detasemen maju menyerang Mendara pada waktu yang telah ditentukan dan hanya sempat melepaskan beberapa tembakan senapan ke arah musuh yang melarikan diri.
Tiga meriam dari Batoe-roessak serta beberapa barang lain yang kurang penting menjadi rampasan perang yang ditemukan di Mendara. Kapten Weinrich tidak mengalami hambatan selama pergerakan maju tersebut. Sebaliknya, Kapten Le Jean harus berjuang menghadapi banyak kesulitan di jalan. Sepanjang perjalanan, ia terus diganggu oleh tembakan senapan sesekali dari balik pepohonan dan semak-semak, yang menewaskan salah satu orang Tionghoanya dan melukai dua prajurit pengapit (flankeur) Eropa.
Di antara Layang dan Mangka, ia menemukan sebuah benteng (benting) dan ditembaki dengan senapan sundut (donderbussen). Namun, hal itu tidak menahannya lama karena benteng tersebut segera diserbu dengan langkah cepat (stormpas) dan berhasil direbut tanpa kerugian apa pun.
Letnan pribumi Wongsio dan prajurit Infanteri (Fuselier) pribumi Sidin adalah orang-orang pertama yang memanjat tembok pertahanan. Atas keberhasilan ekspedisi ini, Letnan Kolonel Keer memberikan pujian khusus kepada Kapten Infanteri Le Jean dan Kapten Zeni Van Der Wijk.
*Keterangan gambar:
Eine Bankanesische Wohnung (Rumah Orang Bangka) di Kampung Mendara, sumber: Franz Epp, Schilderungen aus Ostindiens Archipel, Heidelberg: J.C.B. Moh, 1841.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
