13 Oktober 1820, Komandan Militer Bangka Letnan Kolonel Keer Tiba di Toboali Bersama Pasukan Setelah Menaklukkan Benteng Raden Kling di Pulau Tinggi

IMG_20261013_052022

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Setelah menghancurkan dan merebut benteng Pulau tinggi, serta memburu beberapa perahu bajak laut, Komandan Militer Bangka Letnan Kolonel Keer tiba di Toboali bersama pasukan ekspedisi pada tanggal 13 Oktober 1820.

Sebelumnya para pejuang di Benteng Toboali telah berhasil dikalahkan oleh Kapten Du Perron, yang menyerbu Toboali atas perintah komandan sipil dan militer, bergerak dari ibukota keresidenan Mentok menggunakan korvet Zwaluw bersama satu kompi infanteri, satu kompi pionir, dan beberapa prajurit artileri.

Setelah menduduki Benteng Toboali, Komandan militer Belanda Letnan Kolonel Keer segera memerintahkan penyelidikan ke arah Nyireh.

Setelah pertempuran di Pulau Tinggi tampaknya perlawanan rakyat Bangka dibangun kembali di wilayah Nyireh.

Letak kampung Nyireh menurut M.H. Court, Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, bahwa terdapat beberapa pemukiman penduduk di Pesisir Barat bagian Selatan Pulau Bangka dimulai dari Toobooallie menuju Minto (Mentok); pada jarak sekitar delapan mil (maksudnya dari Toboali), terdapat sungai kecil yang disebut Neerie (Nyireh), pintu masuk pada muara sungai menuju pemukiman penduduk (Batin Neerie) sangat dangkal, populasi penduduknya (Batin Neerie) dimasukkan ke dalam catatan di Toobooallie. Tujuh mil selanjutnya dari Neerie adalah Sungai Oolim (Court, 1821:208, 209).

Dalam Kaart Van Het Eiland Banka Zamebgesteld in 1845en 1846 door H.M. Lange dan Kaart Van Het Eiland Banka, karya J.W. Stemfoort 1885, bahwa dari ibukota distrik di Toboali ke Kampung Njerie (Nyireh) terhubung melalui jalan setapak melalui jembatan kayu di Sungai Gossong terus ke Kampung Bajor lalu ke Kampung Nyireh.

Jalan setapak terus berlanjut ke Kampung Pependang, dan Kampung Penda, Kampung Kitapang dan Kampung Merang serta Kampung Pinang dan seterusnya memasuki wilayah Distrik Koba.

See also  SEJARAH TANDU, Alat Transportasi Paling Tua di Pulau Bangka.

Toponimi topografi wilayah (bentang alam) sungai dan kampung (native Village) dengan kata spesifik “Nyiri, Nyirih atau Nyireh” dikarenakan pada wilayah muara (hilir), berok (muka sungai) dan hulu sungai sangat endemik dengan tanaman Pohon Nyireh (Xylocarpus).

Kebijakan monopoli pertimahan yang diterapkan Pemerintah Hindia Belanda Tahun 1819 memicu berbagai perlawanan rakyat Bangka. Pusat-pusat perlawananpun menyebar dan berlangsung dari pusat-pusat pertahanan atau dari benteng ke benteng yang sengaja didirikan oleh para Batin hampir di seluruh wilayah Pulau Bangka.

Pusat-pusat pertempuran melawan pasukan Belanda terjadi mulai dari benteng Bangkakota, benteng Toboali, benteng Penutuk di Pulau Lepar, benteng di dekat Sungai Kepoh dan Sungai Bantel, serta benteng di Pulau Tinggi dan sebagai pusat kekuatan berikutnya berada di benteng Nyireh.

Pada wilayah dekat Sungai Nyireh didirikan benteng pertahanan dan dikuasakan Sultan Palembang (wilayah Sindang) kepada seorang batin dari bumiputera Bangka yaitu Batin Ganing. Pengangkatan Batin Ganing untuk wilayah Sungai Nyireh semasa dengan pengangkatan Batin Pa Amien di Toboali dan Batin Tikal di Koeboebangka atau Bangkakota.

Raden Ali beserta dengan pengikutnya berhasil meloloskan diri dari pertempuran di Pulau Tinggi, tanggal 10 Oktober 1820 dan kemudian bergerak menuju Nyireh untuk membangun kekuatan baru bersama dengan rakyat Bangka di wilayah Nyireh yang dipimpin oleh Batin Ganing.

Mengingat kondisi wilayah Nyireh yang sangat sulit ditempuh karena hutan belantara yang luas serta banyaknya prajurit yang luka luka serta kelelahan setelah pertempuran di pulau Tinggi, maka kemudian Komandan Militer Belanda Letnan Kolonel Keer memutuskan untuk tidak melakukan penyerbuan ke Nyireh.

Berdasarkan pengalaman Sejarah, pasukan Belanda tentu masih mengingat apa yang harus dibayar dari ekspedisi ke Bangkakota di bawah Kapten Laemlin yang banyak tewas akibat kelelahan setelah pertempuran dan hendak kembali ke Pangkalpinang melewati Koba dan ketika mereka tiba di Pangkalpinang pada tanggal 1 Oktober 1819, dari 235 prajurit yang dikirim dalam ekspedisi ke Bangkakota, hanya 80 orang prajurit yang dinyatakan masih mampu berdiri untuk bertempur. Sisanya 1 perwira dan 45 prajurit tewas, sementara puluhan lainnya luka-luka dan sekarat terbaring di rumah sakit dan menunggu kematian.

See also  Dalam Gelap Malam, Buddingh Menyeberangi Sungai Kampa Menuju Jebus.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Raden Ali dan Batin Ganing untuk menyusun kembali kekuatannya menghadapi pasukan militer Belanda.


*Keterangan gambar: Toboali, Sungai Njerie dan Kampung Njrie pada potongan Kaart Van Het Eiland Banka Zamebgesteld in 1845en 1846 door H.M. Lange

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments