14 Juni 1945, Pastor Wilayah Mentok, R.P. Benedictus Bakker, Directeur Secretariaat der Intronisatie voor Indië meninggal dunia.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260614_085856_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


P. Benedictus Bakker adalah pimpinan gereja Katholik di Mentok Bangka yang menjabat Directeur Secretariaat der Intronisatie voor Indië. P. Benedictus Bakker meninggal pada Tanggal 14 Juni 1945 di Kamp pengasingan Belalau Lubuk Linggau pada saat kekuasaan Jepang di Pulau Bangka.

Dalam Almanak jaarboek van katholiek Nederland, De Roomsch Katholieke Kerk in Ned-Indie, halaman 536 dan 537 dinyatakan bahwa: De Ap. Prefectuur van Bangka en Billiton. Opgericht 27 December 1923. Apostolisch Prefect: De Doorl. En Hoogw. Heer MGR. Vitus Bouma SS.CC. Benoemd 29 Mei 1928. Adres: R. K. Pastorie Pangkal-Pinang (Banka). De eilanden Bangka en Billiton en de Riouw-Archipel werden 27 December 1923 afgescheiden van de Apost. Prefectuur van Sumatra en als zelfstandige Prefec-tuur toevertrouwd aan de Paters der Beilige Harten van Jezus en Maria (Picpus), Superior Religiosus: Pater Dionysius v. Gorp SS CC. Het Personeel van dit Missiegebied be-staat uit 19 Priesters, 17 Broeders en 23 Zusters. ….MUNTOK. P. Benedictus Bakker, Past. 01-28-39. Hier is gevestigd het Secretariaat der Intronisatie voor Indië. Directeur: P. Benedictus Bakker. Scholen en pensionaat onder leiding van de Arme Zusters van het Goddelijk Kind. (Amsterdam). Verder nog werkzaam: P. Petrus La-haije. P. Ladislaus van Gelder, P. Alphonsus Mars.

Maksudnya Prefektur Apostolik Bangka dan Billiton, didirikan 27 Desember 1923. Prefek Apostolik: Yang Mulia Monsinyur Vitus Bouma SS.CC. Ditunjuk 29 Mei 1928. Alamat: Presbiteri Katolik Roma Pangkal-Pinang (Bangka). Pulau Bangka dan Billiton serta Kepulauan Riouw dipisahkan dari Prefektur Apostolik Sumatra pada 27 Desember 1923, dan dipercayakan sebagai Prefektur independen kepada Para Pastor Hati Kudus Yesus dan Maria (Picpus), Superior Religiosus: Pastor Dionysius v. Gorp SS CC. Staf Wilayah Misi ini terdiri dari 19 Imam, 17 Bruder, dan 23 Suster. ….MUNTOK. P. Benedictus Bakker, Pastor 28-01-1939. Sekretariat Penobatan untuk Hindia terletak di sini. Direktur: P. Benedictus Bakker. Sekolah dan asrama di bawah arahan Suster-suster Miskin dari Anak Ilahi (Amsterdam). Juga aktif: P. Petrus La-haije, P. Ladislaus van Gelder, P. Alphonsus Mars.

See also  Makam Depati Hamzah (Tjing) Di Batukadera, Airmata, Kupang.

Pada masa kekuasaan Jepang di pulau Bangka, para pemimpin agama Katolik Bangka Belitung dan Riau dimasukkan di kamp tahanan di Pangkalpinang, selanjutnya pada bulan Mei tahun 1944, mereka dipindahkan ke kamp tahanan di Kota Muntok dan pada bulan Maret tahun 1945 dipindahkan ke kamp tahanan di Belalau, Lubuk Linggau.

Pimpinan gereja Katolik Bangka, Belitung dan Riau, Mgr. Vitus Bouma ss.cc, para Imam dan bruder berkebangsaan Belanda tersebut kemudian meninggal dunia di kamp tahanan di Belalau, Lubuk Linggau.

Dari 11 (sebelas) orang misionaris yang masuk tahanan hanya 3 (tiga) orang yang masih hidup waktu dibebaskan, dan dari 15 (limabelas) bruder Budi Mulia yang ditahan hanya 8 (delapan) orang yang masih bertahan hidup.

Pada awal tahun 1950 tulang belulang para misionaris yang meninggal di kamp tawanan Jepang di Belalau, Lubuk Linggau dikumpulkan dan dimakamkan lagi di kompleks bruderan Budi Mulia Pangkalpinang.

Makam-makam pimpinan gereja Katolik dan para imam yang dimakamkan di kompleks pemakaman bruderan Budi Mulia meliputi makam R.P. Arnoldus Nijssen, lahir pada tanggal 15 April 1910, meninggal dunia pada bulan Juni 1945, R.P. Benedictus Bakker, lahir pada tanggal 29 September 1902, meninggal dunia pada tanggal 14 Juni 1945, R.P. Alphonsus Mars, lahir pada tanggal 15 Mei 1910, meninggal dunia pada tanggal 10 April 1944 Masehi, R.P. Thomas Mul, lahir pada tanggal 3 September 1899, meninggal dunia pada tanggal 21 April 1945, Mgr. Vitus Bouma, lahir pada tanggal 6 Desember 1892, meninggal dunia pada tanggal 19 April 1945.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments