16 Juni 1949, Moh Roem Ketua dan Anggota Delegasi RI Menuju Bangka Menyambut dan Mendampingi Kunjungan Para Pemimpin Federal.
Admin 16 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Pada tanggal 16 Juni 1949 Moh Roem dan anggota delegasi Republik Indonesia menuju Bangka untuk menyambut dan mendampingi kunjungan para pemimpin negara federal ke Bangka pada tanggal 17 Juni 1949.
Pemimpin Negara Federal yang hadir antara lain Wali Negara Sumatera Timur Dr. Tengku Mansur, Wali Negara Sumatera Selatan Abdul Malik, Wali Negara Madura Raden Ario Tumenggung Tjakraningrat, Wali Negara Jawa Timur R.T. Achmad Kusumonegoro, Kepala Kalimantan Barat Sultan Hamid II, Perdana Menteri Indonesia Timur Ide Anak Agung Gde Agung dan Perdana Menteri Pasoendan Djumhana Wiriaatmadja.

Mereka dijamu makan siang oleh Sukarno dan pertemuan berlangsung dalam suasana menyenangkan. Jum’at malam para pemimpin negara federal kembali ke Batavia bersama delegasi Republik Indonesia.
Negara- negara federal yang dibentuk Pemerintah Belanda di wilayah Negara Republik Indonesia, atas prakarsa dari H.J. van Mook (Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pemimpin NICA) dimulai sejak konferensi federal pertama di Malino, Satu kota kecil di Sulawesi Selatan, pada Tanggal 15 Juli 1946. Perundingan pada konferensi federal Malino berlangsung hingga Tanggal 25 Juli 1946, membahas rencana pembentukan negara-negara di dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang akan menjadi negara-negara bagian dari suatu negara federasi.
Dalam konferensi Malino Sulawesi Selatan juga dibahas secara khusus tentang pembentukan suatu negara yang meliputi daerah-daerah di Indonesia Bagian Timur (De Groote Oost). Pembentukan negara negara federal dipertegas Belanda dalam Konferensi Federal Pangkalpinang (Konferensi dihadiri golongan minoritas) pada Tanggal 1-12 Oktober 1946, dalam rangka membentuk negara-negara federal dalam wilayah Republik Indonesia yang nantinya akan menjadi negara federasi dan merupakan Uni Indonesia-Belanda.

Setelah pelaksanaan Konferensi Pangkalpinang di pulau Bangka, diadakan Konferensi Denpasar di pulau Bali pada Tanggal 18-24 Desember 1946 yang melahirkan Negara Indonesia Timur (NIT).
Pembentukan negara federal bentukan Belanda terus dilakukan, pada Tanggal 4 Mei 1947, diproklamasikan pembentukan Negara Pasundan dan selanjutnya Lima hari kemudian setelah proklamasi Negara Pasundan pada Tanggal 9 Mei 1947, H.J. van Mook berhasil mendirikan Dewan Federal Borneo Tenggara dan Daerah Istimewa Borneo Barat.
Setelah penandatangan Perjanjian Renville Tanggal 17 Januari 1948, pemerintah Belanda terus mendirikan negara federal di Republik Indonesia, pada Tanggal 23 Januari 1948 berdiri Negara Madura, selanjutnya pada Tanggal 16 Februari 1948 dilakukan pembentukan Negara Jawa Barat (Pasundan), kemudian pada Tanggal 24 Maret 1948 diresmikan pembentukan Negara Sumatera Timur.
Pada Tanggal 29 Mei 1948 dilaksanakan Konferensi Federal di Bandung Jawa Barat. Konferensi Bandung kemudian menyepakati berdirinya BFO (Bijeenkomst Voor Federal Overleg) yaitu satu Badan Permusyawaratan Federal yang beranggotakan wakil-wakil dari Negara Federal bentukan pemerintah Belanda dan diharapkan juga nantinya Republik Indonesia ikut bergabung di dalam BFO. Sebagai Ketua BFO dipilih Sultan Hamid II dari Pontianak.
Negara federal terakhir yang dibentuk Belanda dalam wilayah Republik Indonesia adalah dengan berdirinya Negara Jawa Timur, pada Tanggal 16 November 1948.

Negara Indonesia Serikat yang bernama Republik Indonesia Serikat (RIS) saat terbentuknya nanti terdiri dari 16 negara bagian, dengan beberapa negara bagian yang penting adalah Republik Indonesia (RI), Negara Sumatera Timur (NST), Negara Sumatera Selatan, Negara Pasundan dan Negara Indonesia Timur (NIT) (Poesponegoro dan Notosusanto (penyunt.), 2008:301).
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
