2 Juni 1722, Penandatangan Kontrak oleh Sultan Ratu Kamaruddin dan VOC, Awal Sultan Anom Alimuddin Berkuasa di Pulau Bangka.
Admin 2 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Dalam Het Sultanaat Palembang 1811-1825, M. O. Woelders, ‘S-Gravenhage- Martinus Nijhhoff, 1975, halaman 38 terdapat manuskrip-manuskrip kontrak antara Sultan Ratu Kamaruddin dan VOC. Manuskrip-manuskrip ini, ditulis dalam aksara Arab di atas kertas polos berukuran 31 x 20,5 cm, masing-masing terdiri dari 6 dan 9 halaman, berisi teks Melayu dari kontrak-kontrak yang disepakati secara berturut-turut pada tanggal 2 Juni 1722 dan 25 Desember 1775 antara Sultan Palembang dan Perusahaan Hindia Timur.
Dokumen-dokumen tersebut tidak ditandatangani atau diberi stempel resmi, sehingga tidak dapat dianggap sebagai teks resmi Melayu dari kontrak-kontrak tersebut. Teks Belanda dari kontrak tahun 1772 dapat ditemukan dalam Volume IV (1935) dari Corpus diplomaticum Neerlando-Indicum, hlm. 536-543.
Berdasarkan catatan, Barbara Watson Andaya dalam : To Live As Brother, South East Sumatra, In Seventeenth and Eighteenth Centuries. Honolulu: University of Hawaii Press. 1993, halaman 183, dijelaskan kontrak tersebut adalah: In June he concluded a contract with Patras by which he reiterated his willingness to pay any costs incurred by the Dutch for their military intervention. He confirmed the Company’s monopoly of pepper without demur, and to this was added exclusive rights to the tin being produced from newly developed mines on Bangka.
Maksudnya Pada bulan Juni, ia menyimpulkan kontrak dengan Patras yang menegaskan kembali kesediaannya untuk membayar semua biaya yang dikeluarkan oleh Belanda untuk intervensi militer mereka. Ia mengukuhkan monopoli perusahaan atas lada tanpa keberatan, dan ditambah dengan hak eksklusif atas timah yang diproduksi dari tambang yang baru dikembangkan di Bangka.
Awal mula kontrak ditandatangani adalah karena konflik yang terjadi di internal Kesultanan Palembang Darussalam antara Sultan Ratu Kamaruddin dengan keponakannya Sultan Anom Alimuddin. Sultan Ratu Kamaruddin kemudian meminta bantuan kepada VOC. Awalnya VOC bersikap netral, akan tetapi kemudian memihak ke Sultan Ratu Kamaruddin dan menantunya Raden Lembu (kemudian bergelar Sultan Mahmud Badaruddin 1) karena kepentingan VOC terganggu terkait kelancaran perdagangan Lada.

Ekspedisi VOC terdiri 400 pasukan dikirimkan ke Palembang dan Sultan Anom Alimuddin kemudian lari ke Jambi dan Lingga, kemudian menetap di Bangka (J.A. Schuurman, 1898;5,7). Sultan Anom Alimuddin menetap di Bangka cukup lama selama 10 Tahun dari Tahun 1722 hingga 1732.
Keberadaan Sultan Anom Alimuddin dijelaskan oleh Dr. S.A. Buddingh, dalam Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …Banka, …; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, dinyatakan, bahwa: De pankal of hoofdplaats Koba heeft in de geschiedenis eenige bekendheid, dewijl de van Palembang verdreven Sultan Anom (later te Palembang terdoodgebragt) alhier, en wijderste Pako en elders op Banka, gedurende de jaren 1722 tot 1732 verschansingen had opgerigt, ten eindezich op Banka staande te houden. Ze wordt door eene Redoute beschermd, in welker nabijheid de woning van den Administrateur (in 1854 den heer van slingbrinnd gelegen is). Het district Koba teltvele Tinmijnen, doch die niet zoo produktief zijn als andere Bankaschemijnen. Het land is overdekt met uitgestrekte wouden, de woonplaats van ontelbare wilde varkens (Buddingh, 1861:68).
Maksud dari Buddingh tentang Koba adalah: Pankal atau ibukota Koba memiliki beberapa ketenaran/kehebatan dalam sejarah, sejak Sultan Anom (kemudian dibunuh di Palembang) yang telah diusir dari Palembang membangun kekuatan di sini (maksudnya di Koba Bangka), dan yang telah membangun kekuatan tersebar luas sampai di Pako (Paku) dan di tempat lain di pulau Banka selama Tahun 1722 hingga 1732 untuk berkuasa atas pulau Banka. Koba itu dilindungi oleh Benteng, yang di sekitarnya adalah rumah Administrator (pada Tahun 1854 penguasanya Van Slingerland).
Distrik Koba memiliki banyak tambang Timah, akan tetapi tambang-tambang Timah tersebut tidak seproduktif tambang Timah di bagian lain pulau Banka (Bangka). Tanah di distrik Koba masih ditutupi oleh hutan yang luas/ lebat, dan menjadi rumah/habitat bagi Babi Hutan yang tak terhitung jumlahnya.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan.
