20 September 1819, Residen Smissaert Gembira menerima surat penaklukan Bangkakota. Sejarah kemudian mencatat Sang Residen mati dipenggal dalam perang Bangka

20260920_110746

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Dalam rangka menaklukkan Bangkakota pasukan militer Belanda harus beberapa kali melakukan serangan, baik melalui darat maupun melalui laut. Serangan pertama dilakukan pada 17 Agustus 1819, dilakukan melalui darat dan melalui laut dipimpin oleh Kapten Ege.

Serangan kedua dilakukan pada 14 September 1819 dari darat dipimpin oleh Kapten Laemlin yang membawa pasukannya sekitar 230 pasukan dari Pangkalpinang, sedangkan serangan dari laut dengan siasat Instruksi tertanggal 2 September 1819 dilakukan dengan Empat kapal perang di bawah pimpinan Kapten Baker. Terjadi pertempuran besar-besaran di Koeboebangka atau Bangkakota pada 17 September 1819.

Residen Belanda Smissaert merasa gembira atas kemenangan Militer Belanda dan berkesimpuan Bangka kembali tenang!

Kegembiraan Residen berasal dari surat yang diterimanya bertanggal 20 September 1819 dari Ternet.
Dengan kegembiraan yang luar biasa,” tulis Ternet, “saya mendapat kehormatan untuk mengabari Yang Mulia bahwa pasukan kita telah merebut Banka-Kota dengan serangan mendadak pada tanggal 17 September 1819. Kerugian di pihak kita sangat kecil; sekitar 90 orang perampok tewas di medan perang, tanpa bisa memastikan jumlah mereka yang melarikan diri.” Hidup! Sang residen.

Selengkapnya M. O. Woelders, dalam Het Sultanaat Palembang 1811-1825, ‘S-Gravenhade- Martinus Nijhoff 1975, halaman 565:
Resident Smissaert werd door een brief dd. 20 September van Ternet opgewonden. //Met de grootste vreugde, sehreef deze, //heb ik de eer UHEdG. te inforrneeren, dat onze troepen den 17n Banka-Kota met storm hebben veroverd. Onsverlies is zeer gering; van de roovers zijn op het slagveld gelaten circa 90 man, zonder het getal der gevluchten te kunnen bepalen.” Hoerah! De resident…”.

Laporan ini memicu kesalahan estimasi geopolitik (strategic miscalculation) dari Smissaert, yang secara prematur menyimpulkan bahwa stabilitas keamanan di Pulau Bangka telah sepenuhnya pulih.

See also  24 Juni 2008, Pemilihan secara langsung Walikota dan Wakil Walikota Pangkalpinang Masa Bakti 2008-2013.

“Betapa cepatnya orang menjadi besar kepala! Smissaert juga telah memberi tahu komandan Bangka, Mayor Phitsinger, tentang keberhasilan tersebut.

Phitsinger kemudian menyurati Jenderal De Kock pada 27 September mengenai hal itu, kemudian sang jenderal segera melaporkannya kepada Gubernur Jenderal: “bahwa Banka Cotta (sic), tempat laksamana muda Wolterbeek mengirimkan ekspedisi besar, telah ditaklukkan, dan para perampok telah dihancurkan sepenuhnya; di pihak kita dilaporkan ada empat atau lima orang yang gugur, namun kerugian di pihak perampok pastilah sangat besar.” Dan Muntinghe?? Bagaimana mungkin ia ketinggalan di tengah begitu banyak luapan kegembiraan yang puitis ini!

Ia pun menulis surat dari Muntok ke Batavia pada tanggal 26 September untuk menyampaikan “ucapan selamat yang tulus” kepada Gubernur Jenderal “atas kemenangan pertama yang diraih oleh persenjataan kita dalam ekspedisi ini, yaitu direbutnya benteng para pemberontak yang hampir tak tertembus di dekat Banka-Kota melalui serangan mendadak. Sebuah keuntungan yang dalam situasi saat ini sungguh tidak boleh dianggap remeh, melainkan sebaliknya, memiliki pengaruh yang sangat penting bagi kelanjutan operasi kita.”

“Keunggulan kekuatan militer kita,” lanjut surat itu, “di atas kekuatan musuh, telah diperlihatkan dengan sangat jelas dalam peristiwa ini; menurut laporan-laporan pertama, kerugian kita hanya terdiri dari lima orang yang tewas atau terluka, sementara kerugian musuh di luar korban luka-luka diperkirakan mencapai sembilan puluh orang tewas.” (Woelders, 1975:566).

Akan tetapi perlawanan rakyat Bangka belum berakhir, rakyat Bangka terus berjuang dengan begerilya di Kotawaringin, Nyireh, Merawang, Sungailiat dan Mendara.

Bangka semakin kacau!!, bahkan pada 14 November 1819 sang residen mati terbunuh dalam satu penyergapan pasukan Depati Bahrin di sekitar Sungai buku perbatasan antara kampung zed dan kampung Puding. Kepalanya dipenggal kemudian digarami dan dikeringkan serta diarak keliling kampung kemudian dibawa menghadap sultan di Palembang.

See also  Bentang Alam di Mentok.

Peristiwa sepanjang Agustus hingga November 1819 di Pulau Bangka memberikan gambaran historis yang jelas mengenai batasan superioritas militer konvensional saat berhadapan dengan perang gerilya berbasis lokal.

Optimisme berlebihan yang ditunjukkan oleh Residen Smissaert dan para perwira tinggi kolonial pasca-jatuhnya Bangkakota mencerminkan ketidakpahaman mereka terhadap struktur perlawanan rakyat Bangka.

Kematian Smissaert di Sungai Buku menjadi titik balik krusial yang menegaskan bahwa kontrol kolonial atas Pulau Bangka pada awal abad ke-19 masih jauh dari kata tenang.


*Gambar: Residen Bangka M.A.P. Smissaert

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.


Related Images:

Comments

comments