Foto_Muntok.DeMenoembingCa_1914-1919.Sumber_Rijksmuseum.nl.Pewarn_20260821_051710_000

Oleh : Meilanto.


Dalam buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 Halaman 76, Buddingh menuliskan tentang proses pengambilan bijih timah dan bentang alam di Muntok akibat penambangan timah.

Ia menulis:

In de omstreken der stad, op ongeveer 3 palen afstands disablah-wettan of disablah-timor, d.i. ten oosten, vindt men bij Rangarn een gewone tinmijn, doch houden zich ook eenige Maleijers bezig met het zoeken van tin-erts in de rivieren, of met het graven van ronda putten om den tin-erts op te delven.

Deze putten hebben een’ omvang van ongeveer een’ vadem in doorsnede, bij eene diepte, welke zelden meer dan eene manslengte bedraagt. Ze zijn op kleine afstanden van elkander gegraven, doch hebben met elkander door onderaardsche
gangen of uitgedolven passages, – gelijk in de steenkolen- mijnen te Pengaro n op Borneo , – geen gemeenschap. Met het zuiveren of wasschen van den gevonden tin-erts gaan deze Maleijers op dezelfde wijze te werk, als de goudgravers, die ik op Sumatr a en aan Borneo’s westkust aan den arbeid zag.

Ze doen den erts in houten bakken (bak oei of pa s s o), en draaijeu dezen gedurig en op zulk eene wijze in den stroom rond, dat het water altijd juist den rand der bak o el’s raakt en de aarde en vuilnis wegspoelt. Hierin hebben ze zulk eene handigheid verkregen, dat er van den specifiek zwaarderen erts, die op den bodem der bakken achterblijft, nimmer iets verloren gaat.

Maksudnya:
Di sekitar kota (Muntok)—pada jarak sekitar tiga pal ke arah timur—terdapat sebuah tambang timah khas di dekat Rangam; namun, sebagian orang Melayu juga mencari bijih timah di sungai-sungai atau menggali lubang-lubang untuk mendapatkannya.

See also  27 April 1812, Perjanjian Penyerahan Pulau Bangka dan Belitung menjadi Milik Inggris ditandatangani Jenderal Robert Rollo Gillespie dan Ahmad Najamuddin

Lubang-lubang ini memiliki diameter sekitar satu depa dan kedalamannya jarang melebihi tinggi badan orang dewasa. Lubang-lubang tersebut digali berdekatan satu sama lain namun tidak saling terhubung oleh lorong bawah tanah atau terowongan galian—berbeda dengan tambang batu bara di Pengaron, Kalimantan.

Saat membersihkan atau mencuci bijih timah yang diperoleh, orang-orang Melayu ini menggunakan metode yang sama dengan para penambang emas yang pernah saya amati saat mereka bekerja di Sumatra dan pesisir barat Kalimantan.

Mereka menempatkan bijih tersebut ke dalam palung kayu (bakul atau passo / pasu) dan mengayunkannya terus-menerus di dalam aliran air sedemikian rupa sehingga air senantiasa membasuh tepian palung, seraya menghanyutkan tanah dan kotoran.

Mereka telah menguasai keterampilan ini dengan begitu baik sehingga tidak ada satu pun bijih—yang memiliki berat jenis lebih tinggi dan mengendap di dasar palung—yang sampai terbuang.

Selanjutnya ia menulis:

Door den arbeid dezer tin-erts-del vers is het terrein rondom de kotta op vele plaatsen omwoeld en als doorwroet, en, waar dit niet het geval is, ziet men allerwege wild gras of alang-alang, waarmede heuvelen en vlakten overdekt zijn, en dat slechts nu en dan door eenige struiken, geïsoleerde boomen, en kreupelhout wordt afgewisseld.

Gras-velden ziet men nergens, en hieraan moet het te wijten zijn, dat men ter hoofdplaats geen paarden houdt, eu in het veld geen karbouwen en slechts weinige van Jav a aangebragte runderen, geiten en schapen vindt.

Maksudnya:
Akibat penambangan bijih timah, bentang alam di sekitar kota tersebut telah teraduk dan terbolak-balik di banyak tempat; di area yang tidak mengalami hal itu, hamparan rumput liar atau ilalang tampak di mana-mana—menutupi perbukitan maupun dataran—yang hanya sesekali diselingi oleh beberapa semak, pohon yang tumbuh menyendiri, dan petak-petak belukar.

See also  12 April 1946, Lima Orang Pemimpin T.R.I Bangka Ditangkap Pasukan NICA dan Sekutu.

Tidak terlihat adanya padang rumput untuk penggembalaan; hal inilah yang agaknya menjadi alasan mengapa tidak ada kuda yang dipelihara di permukiman utama, serta mengapa tidak ditemukan kerbau—dan hanya ada sedikit sapi, kambing, dan domba yang didatangkan dari Jawa—di wilayah pedesaan sekitarnya.


Foto : Muntok. De Menoembing Ca: 1914-1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan: AI

Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments