22 Juni 1949, Kesepakatan Dalam meeting of minds Mengenai Garis Besar Gencatan Senjata (cease fire).

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260622_091258_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Dalam rangka melaksanakan butir-butir isi perjanjian Roem-Royen (tanggal 7 Mei 1949), dan persiapan segera kembalinya pemimpin dan Pemerintah Republik Indonesia dari Bangka ke Yogyakarta, maka pada Tanggal 22 Juni 1949 dilaksanakan kesepakatan dalam meeting of minds (bertukar pikiran) atau diskusi formal di Hotel Des Indes Batavia antara Delegasi Indonesia, Delegasi Belanda, dan dihadiri juga Majelis Permusyawaratan Federal bentukan Belanda Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO).

Meeting of minds dilaksanakan di bawah pengawasan Thomas Critchley yang bertindak sebagai diplomat perwakilan dari Australia di dalam susunan keanggotaan United Nations Commission for Indonesia (UNCI).

Meeting of minds diselenggarakan dengan agenda mengenai garis besar gencatan senjata (cease fire), penentuan waktu dan acara yang akan dilaksanakan pada konferensi di Negeri Belanda. Meeting of minds kemudian menyepakati Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) untuk dapat hadir mengikuti konferensi di Belanda, United Nations Commission for Indonesia (UNCI) akan hadir pada konferensi sebagai wakil dari Dewan Keamanan PBB, Pengembalian Pemerintah RI ke Yogyakarta dilakukan pada 24 Juni 1949, Pasukan militer Belanda segera ditarik mundur dari Yogyakarta paling lambat tanggal 29 Juni 1949, Konferensi Meja Bundar (KMB) diusulkan untuk dilaksanakan di Den Haag Belanda.

Tampaknya langkah-langkah nyata akan segera kembalinya pemerintahan RI dan pemimpin Republik dari Bangka ke Yogyakarta semakin jelas, oleh sebab itu kembalinya pemerintahan dan pemimpin Republik ke Yogyakarta perlu diketahui oleh masyarakat internasional, mungkin inilah salah satu alasan dilakukannya peliputan oleh sejumlah wartawan Amerika ke Pulau Bangka tanggal 21-22 Juni 1949.

Dr. Van Royen sebagai Ketua Delegasi Belanda menyatakan persiapan kembalinya pemerintahan Republik ke Yogyakarta kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga pemerintah Belanda memerintahkan pasukannya untuk memulai meninggalkan Yogyakarta mulai tanggal 24 Juni sehingga pemerintah Republik dapat kembali ke Yogyakarta sekitar 1 Juli 1949.

See also  Di Koba Ada Lapangan Terbang. Yakin?

Pada tanggal 24-29 Juni 1949 di bawah pengawasan United Nations Commission for Indonesia (UNCI), pasukan Belanda mulai ditarik dari Kota Yogyakarta, penarikan awal tentara Belanda tanggal 24 Juni 1949, mulai dilakukan dari pos luar kota, seperti Wonosari dan Padokan, Bantul, bergerak ke arah Kota Yogyakarta, selanjutnya pada tanggal 29 Juni 1949 dilakukan penarikan pasukan Belanda secara total dan serentak dari wilayah Kota Yogyakarta dipimpin oleh Kolonel Van Langen bergerak keluar Kota Yogyakarta menuju Magelang dan keluarnya pasukan Belanda diikuti pasukan TNI yang secara berangsur-angsur mulai memasuki Kota Yogyakarta, kemudian pasukan TNI sepenuhnya menguasai Ibukota Yogyakarta.

Beberapa bulan sebelumnya pada tanggal 1 Maret 1949, melalui Serangan Umum yang mengejutkan dunia internasional, pasukan TNI pernah menguasai Ibukota Yogyakarta selama 6 Jam. Setelah bergerilya selama 7 bulan pasukan TNI dipimpin oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman berpindah pindah dari Selatan Yogyakarta, Keresidenan Surakarta dan Madiun serta Kediri di Jawa Timur. Akhirnya pada tanggal 10 Juli 1949 Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memimpin perang gerilya kembali ke Yogyakarta.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments