26 September 1939, Stoutjesdijk Huibrecht Jacobus, gugur karena pesawat Fokker C-Xlw W-7 jatuh di sekitar Belinjoe, Bangka Utara

Bandara Mentok

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)

Di pulau Bangka setidikitnya ada beberapa lapangan terbang, misalnya di Pangkalpinang, Koba, Belinyu dan di Mentok. Pada papan informasi di Museum Timah Pangkalpinang diketahui pesawat terbang mendarat pertama di lapangan terbang Mentok pada 23 November 1924.

Lapangan terbang Mentok juga digunakan sebagai pangkalan bagi pesawat-pesawat Jepang pada saat Perang Dunia Kedua sekitar bulan Februari Tahun 1942, seperti pesawat tempur D3A1-Akagi-Japanese-Dive-Bomber, Nakajima-ki43-hayabusa-oscar, dan Kawasaki Bomber. Pesawat-pesawat tersebut digunakan untuk menyerang kapal-kapal sekutu di Selat Bangka.

Pulau Bangka dan pulau Belitung diduduki bala tentara XXV Jepang yang berkedudukan di Shonanto atau Singapura. Pulau Bangka diduduki oleh sekitar 800 balatentara Jepang pada Tanggal 17 Februari 1942. Dalam rangka menduduki pulau Sumatera, pulau Bangka dan pulau Belitung, lebih dari 70 kapal sekutu ditenggelamkan di selat Bangka oleh pesawat-pesawat tempur Jepang.

Sementara itu lapangan terbang Belinyu pada saat perang Dunia Kedua juga digunakan untuk lapangan terbang militer.

Berdasarkan catatan dan data Oorlogsgravenstichting Beschermvrouwe H.M. De Koningin, yang diberikan kepada saya saat pengurusan pemindahan 2 makam Belanda ke Jakarta bulan September 2004, ada seorang tentara Belanda yang gugur di Bangka bernama Stoutjesdijk Huibrecht Jacobus, lahir di Dordrecht, pada Tanggal 5 November 1914 Masehi. Stoutjesdijk Huibrecht Jacobus gugur karena pesawat Fokker C-Xlw W-7 jatuh di sekitar Belinjoe, Bangka Utara pada Tanggal 26 September 1939.

Berdasarkan catatan yang diberikan oleh Oorlogsgravenstichting Beschermvrouwe H.M. De Koningin masih terdapat 6 tentara Belanda yang gugur di Pangkalpinang dan pulau Bangka pada masa sebelum dan saat Perang Dunia Kedua dan masa pendudukan Jepang, namun belum diketahui dimana keberadaan makamnya.

See also  6 September 1820, Letnan Kolonel Keer tiba di Sungailiat dalam rangka menumpas perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin Depati Bahrin

Enam tentara Belanda tersebut adalah,
•Crans Johan Vincenz, lahir di Ternate pada tanggal 14 April 1883 dan gugur di Pangkalpinang pada tanggal 14 April 1944,
•Matulessij Martinus Margo Johan, lahir di Larat pada tanggal 19 November 1922 dan gugur di Pangkalpinang pada tanggal 3 Januari 1949,
•Radio, lahir di Prembun pada tahun 1905 dan gugur di Pangkalpinang pada tanggal 16 Februari 1947.
•Sentella Simon, lahir di Ambon pada tanggal 8 Januari 1917, gugur di Pangkalpinang pada tanggal 10 Mei 1943
•Vas Diasz/Dias, gugur di Pangkalpinang pada bulan Februari tahun 1942
•Stoutjesdijk Huibrecht Jacobus, lahir di Dordrecht, pada tanggal 5 November 1914 yang gugur karena pesawat Fokker C-Xlw W-7 Jatuh di sekitar Belinjoe, Bangka Utara pada tanggal 26 September 1939.

Selanjutnya terdapat 2 orang pasukan Belanda yang dimakamkan di Kerkhof Pangkalpinang dan sisa kerangka jenazahnya kemudian dipindahkan pada 28 September 2004 yaitu kerangka jenazah J. Pattipeilohy, lahir di Ulat, 23 Januari 1898, wafat di Pangkalpinang, 6 Juni 1944 dan S. Salawany, lahir di Tihalale, 26 September 1915, wafat di Pangkalpinang, 10 Juni 1945.

Dua sisa kerangka jenazah di atas digali untuk kemudian dimakamkan kembali di makam kehormatan Belanda di Menteng Pulo Jakarta. Pemindahan 2 sisa kerangka jenazah dilakukan atas permintaan E.van Reijsen Salawani, anak perempuan almarhum S. Salawany yang tinggal di Kota Gravenhage Belanda dan atas permintaan P.Lawerissa, cicit laki laki perempuan almarhum J. Pattipeilohy yang tinggal di Kota Zwolle Belanda melalui Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting).

Sisa-sisa kerangka jenazah J. Pattipeilohy dan S. Salawany dimakamkan di Makam Kehormatan Belanda (Oorlogs gravenstichting) karena merupakan pasukan Belanda yang gugur pada masa pendudukan facisme Jepang di pulau Bangka.

See also  30 Agustus 1819, Pasukan besar Belanda dari Batavia tiba di Kota Mentok, pulau Bangka sebelum menyerang Palembang

*Keterangan gambar: Pembongkaran muatan Fokker F-VII milik Maskapai KLM di Muntok pada perjalanan udara pertama dari Belanda ke Hindia Belanda.
Sumber: Pandji, R., KITLV 50569, Catatan: Melalui udara ke Hindia / A.J.N. Thomassen à Thuessink van der Hoop. – Amsterdam: Scheltens en Giltay, 1925.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Related Images:

Comments

comments