Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Dalam peta Resident Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d.(tentang Pangkalpinang) Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1931 Auteursrecht Voorbehouden (Stbl 1912 No.600), pada kolom Toelichtingen terdapat lokasi Chin.school (Nomor 24) berdampingan dengan satu bangunan steenen (posisi bangunan Kelenteng Kwan Tie Miaw).
Berdasarkan catatan pada Majalah Berkat Edisi khusus II, Tahun 1974, halaman 6, dinyatakan bahwa THHK (Tjung Hoa Hwe Kwan) telah membeli lahan dan gereja (Kapel) Katolik yang letaknya di sebelah kelenteng Kwan Tie Miaw, karena tidak terawat dan tak ada pastor yang menetap di Bangka.
Organisasi sekolah Tionghoa atau Tiong Hoa Hwee Koan yang sering disingkat THHK, berdiri tanggal 17 Maret 1900 di Jalan Patekoan Batavia. Tujuan awal berdirinya organisasi ini adalah untuk membuat pembaharuan dalam tradisi Tionghoa yang penuh tenggang rasa atas sesama. Selain mengadakan pembaharuan, organisasi Tiong Hoa Hwee Koan juga ingin mempersatukan orang Tionghoa termasuk peranakan.
Seiring dengan pembukaan THHK di Batavia, perkembangan sekolah Tionghoa di pulau Bangka sangat pesat seiring dengan berdirinya cabang Partai Persatuan Rakyat oleh orang-orang Tionghoa di Pangkalpinang. Partai ini kemudian memproklamirkan dirinya menjadi Kuo Min Tang (KMT, Pinyin: Zhongguo Guomindang). Aktifitas kaum nasionalis Kuo Min Tang di Pangkalpinang semakin meningkat sekitar Tahun 1920 dengan berdirinya Pusat Pendidikan Orang Dewasa (Soe Po Sia) dan berdirinya beberapa THHK.
Perkembangan THHK di pulau Bangka dimulai dengan berdirinya THHK di Pangkalpinang pada Tanggal 27 Mei 1907. Sementara itu aktifitas perkumpulan Soe Po Sia melakukan propaganda anti produk Jepang melalui buku dan koran. (Elvian, 2014:29-30).
Perkembangan pesat THHK di Pangkalpinang dikarenakan Berdasarkan Volkstelling atau sensus yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1920 Masehi, diperoleh data, bahwa terdapat sekitar 67.398 orang Tionghoa di pulau Bangka dari keseluruhan penduduk pulau Bangka pada waktu itu yang berjumlah sekitar 154.141 orang, atau meliputi hampir 44 persen penduduk pulau Bangka.

Berdasarkan data Volkstelling atau sensus tahun 1920 tersebut terdapat sekitar 10.653 orang Cina Bangka yang tinggal di Pangkalpinang dari keseluruhan jumlah penduduk Pangkalpinang sekitar 15.666 orang (termasuk orang Eropa) atau hampir meliputi 68,9 persen.
Setelah berdirinya THHK di Pangkalpinang pada Tanggal 27 Mei 1907 dipimpin oleh Kapitan Lay Nam sen, setahun kemudian pada Tanggal 18 Juni 1908 dilakukan peresmian sekolah Tionghoa di Belinyu diketuai oleh Kapitan Tjen Ton Long. Pada Tanggal 7 September 1910 dibuka lagi sekolah Tionghoa di Sungailiat diketuai oleh Bong Kap Njan, dan terakhir pada Tanggal 27 November 1912 dibuka sekolah Tionghoa di Toboali diketuai oleh Bong Kit Siong. Di Kota Pangkalpinang sendiri kemudian berkembang sekitar 6 (Enam) Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) dan 1 (Satu) HCS (Hollands-Chinese School).
Pada Tahun 1966, pemerintah Republik Indonesia, menutup semua sekolah Tionghoa dan beberapa di antaranya diambil alih oleh pemerintah menjadi sekolah nasional.
Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) yang didirikan oleh cabang Partai Nasionalis Cina Kuo Min Tang (KMT) lebih populer dan diminati orang Tionghoa Bangka dari HCS (Hollands-Chinese School) yang didirikan pemerintah Kolonal Belanda karena THHK mengajarkan Bahasa Inggris dalam sekolah yang berbahasa Tionghoa dan orientasi lulusan THHK umumnya pergi ke Singapura, Hongkong dan Tiongkok.
Berdasarkan catatan residen Bangka, J.E. Eddie (memerintah di Pangkalpinang dari tanggal 17 Mei 1925 hingga 3 Mei 1928 Masehi), dalam Memorie van Overgave, Pangkalpinang, 1928, bahwa pada bulan Maret 1928 sudah terdapat sekitar 10 (sepuluh) sekolah pemerintah kelas dua dan 104 volkscolen (sekolah dasar) untuk masyarakat pribumi (inlander) di pulau Bangka.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
*sumber foto; Pinterest
